Senin, 28 Juni 2021

KETIKA HIGH TECHNOLOGI MEMBUMI, MAKA DISITULAH PERAN MANUSIA MULAI TERANGKAT KE LANGIT (BERGESER KE MESIN)

Teknologi akan selalu berkembang, begitulah sebuah paradoks yang telah melekat oleh para penemu/eksperimen dimanapun berada serta belahan bumi manapun. Teknologi senantiasa memiliki pengikut yang selalu bertambah dan makin meluas.

Saat ini, sudah terbukti itu semua. Teknologi makin canggih, dan makin mempermudah kehidupan manusia. Istilah zaman film diawal-awal penggunaan High Tech, "Machine vs Human" 
(Mesin melawan Manusia).

Inilah realitas (fakta) tak terbantahkan, semua berlomba-lomba beralih ke teknologi yang terupdate/kekinian agar tidak ketinggalan zaman dan dunia makin berubah tatanannya. Pengetahuan teknologi terus digali, potensi manusia dikembangkan demi terwujudnya sebuah peradaban baru yang makin instans, efisien, tidak bertele-tele dan jauh-jauh dari kerumitan.

Karakter manusia disaat mesin menjadi primadona, ialah tumbuhnya rasa malas beranjak atau istilah boomingnya "Mager" (males gerak) karena terpaku dan terpukau akan kehadiran teknologi.
Dapat dikatakan itu salah satu dari sekian banyak sisi negatif dari kehadiran teknologi. 

Ditambah lagi rasa mudah menyerah, jika tidak dikatakan sebagai putus asa. Hal ini tentu bukan tanpa sebab, semua hal yang sekiranya tak diketahui, langsung beban itu diberikan ke mesin, seperti pencarian kata, arti atau apapun yang tersaji selagi terkoneksi dengan jaringan internet. Sering terucap kata tanya saja di mbah gugel, sebuah afirmasi yang kemudian banyak digaungkan dan diaplikasikan pada kehidupan saat ini. Bahkan saking populernya, orang tua ketika ditanya sesuatu oleh anaknya, maka jawabnya serupa dengan hal tadi, coba browsing/cari di internet (baca google).

Konteks anak-anak yang kini dialihkan dalam pembelajaran dengan istilah belajar online pun terjebak pada pusaran yang sangat kuat. Pilihan yang sudah massal dan masif sehingga sulit ditolak bahkan ditinggalkan, sebab keseragaman ini telah masuk pada semua lapisan. Sudah terkadung menjadi kebiasaan baru yang lama-lamaan berbuah suatu kebiasaan pastinya.

Sekolah yang tadinya berbasis pada informasi, pengetahuan dan juga pengembangan karakter peserta didik harus menyesuaikan dan mengikuti mekanisme yang ada dengan segudang regulasi dari pembuat kebijakan.
Betapa sudah seperti itu adanya teknologi. Sulit menghindar disaat untuk hal paling penting, yakni pendidikan. Sudah menjadi sebuah keharusan. Bahkan, dalam hal ibadah, kerap kali teknologi menjadi solusi. 

Penulisan ini, tidak menyalahkan seratus persen dari adanya teknologi, sebab penulis pun masih menggunakan teknologi (pengguna setia) sebatas kebutuhan dan keperluan. Namun, jika kaitan teknologi dengan sebuah fenomena saat ini maka banyak hal yang harus diperhatian bersama dalam rangka menciptakan keseimbangan. 

Semua orang akan selalu memiliki pandangan, persepsi dan perspektif dalam menilai teknologi. Tak terkecuali dengan penulis, hanya saja tulisan ini berangkat dari sebuah opini pribadi yang konon kerap menemui permasalahan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, khususnya dalam hal ranah pendidikan.

Ada beberapa yang penulis sarikan, sebagai bentuk pelaporan yang semoga dapat diterima dan bentuk tanggung jawab dalam hal keilmiahan, hal tersebut penulis jadikan sebuah intisari, sebagai berikut:

1. Belajar Online dalam satu sisi menjadi solusi paling jitu dan aman dari kondisi yang disebut sebagai pandemic situation. Namun, satu sisi pun meninggalkan banyak pertanyaan dan sebuah kritikan tajam. Hal yang mendasari semua hal tadi ialah bermula dari pertanyaan sampai kapan belajar dengan gaya begini (online style)? atau pertanyaan lain yang mengindikasikan lelah dan capeknya harus belajar online bagi orang tua.
pertanyaan ini selalu saja diutarakan dari orang tua yang telah telah merangkap dobel-dobel job, sudah bekerja mendamping anak belajar, urus ini dan itu dan lain sebagainya.
ini sangat jelas adanya dan dilapangan seperti itu yang terjadi.

2. Teknologi menggantikan peran manusia, memang sudah mulai terasa ketika dahulu ketika seseorang masuk ke dalam jalan tol, pasti ada petugas baik laki maupun wanita sebagai penerima uang bayaran sebagai kompensasi penggunaan fasilitas jalan tol, lalu kini yang terjadi semua gardu tol otomatis, hanya menempelkan kartu lalu palang pintu terbuka, tentu saja jika saldonya mencukupi, jika kurang maka tidak akan terbuka sampai ada bantuan atau mobil dibelakangnya mau membantu.

3. Lihatlah penggunaan teknologi dalam pertandingan sepak bola, Federasi yang bertanggung jawab (FIFA) resmi merilis penggunaan VAR (yakni sebuah pemutusan keputusan oleh wasit pertandingan melalui layar monitor yang juga ada petugasnya ketika ada hal-hal yang dirasa masih samar, belum jelas dan juga adanya kejadian-kejadian diluar biasanya. Jelas bahwa teknologi ini, dapat memberikan keadilan satu pihak tapi juga memberikan ketidakadilan bagi yang lain, misalnya ketika penyerang menceploskan bola ke gawang, rupanya ada protes disebabkan telah terjebak offside, maka wasit dibantu oleh asisten mengecek dalam layar monitor lalu dalam waktu beberapa saat keputusan wasit ditetapkan. 

4. Kehadiran smartphone yang pun memiliki andil sangat siginifikan. Teknologi yang dikembangkan di hape-hape kini, sangat membuat siapapun dimanjakan dengan layanan fitur yang serba canggih lagi instan.
Banyak hal yang ditawarkan oleh peranti lunak yang tertanam di hape sehingga mempunya banyak aplikasi yang memudahkan dan mengasyikan penggunanya.

5. Belanja online pun menjadi perkara yang tidak lepas dari adanya teknologi. Semua terasa lebih cepat, lebih efektif dan kadang bersaing dari segi harga. Dulu orang belanja pasti datang ke pasar, swalayan atau tempat yang memang menjajakan barang kebutuhan hidup masyarakat, kini dengan alat yang bernama hape, sudah bisa memesan, membeli barang apapun yang diinginkan selagi ada basis internet dan juga saldo yang terendap pada masing-masing bank.



Itulah beberapa hal yang bisa disarikan oleh penulis, dalam rangka memberitakan bahwa keadaan kita saan ini sudah seperti itu bahkan bisa tambah parah sisi negatifnya bila tidak segera menyeimbangkan dengan kenyataan. Istilahnya dunia maya jangan sampai mengalahkan dunia nyata.

Semoga ada manfaatnya dari uraian ini.
Terima kasih dan salam sehat, kuat dan selamar dikala pandemi.



Bekasi, 28 Juni 2021


Keriyono, M. Sos
(Dosen Komunikasi dan Pendidik)

Sabtu, 12 Juni 2021

EFEKTIVITAS PENDIDIK MENJADI MARKETER PRODUK DALAM PENINGKATAN TARAF HIDUP SOSIAL KEKINIAN

Pendidik ialah seseorang yang dibebankan tanggung jawab (amanah) mengajar kepada peserta didik dimanapun berada (formal atau informal). Nama lain, ialah guru, dosen, ustadz/ah, suhu, master atau sebutan lainnya yang mencitrakan sebagai sosok yang mentransferkan pengetahuan.

Betapa mulia profesi pendidik, bahkan saking mulianya, hasil jerih payahnya tak sebanding dengan penghasilannya tiap bulannya. Bila dipikir-pikir, menjadi guru sampai kapan pun tidak akan bisa menjadi kaya raya bak sultan, seperti vlogger, yutuber yang konon tiap bulannya mencapai hasil ratusan juta bahkan em em an. 

Itu kan soal pilihan hidup, bukan? Guru atau pendidik, bila ditanya bangga dengan pekerjaan sebagai guru? Maka jawabnya ialah ini panggilan jiwa, bukan sekedar status atau hanya atribut yang melekat, tapi jauh dari nilai-nilai yang semestinya.

Pendidik itu bukan paksaan atau sekedar ikut-ikutan, melainkan esensi menjadi guru jauh dari harapan itulah sebuah kegagalan namanya. Pendidik itu harus yang paling depan untuk memotivasi, paling jarang menyerah dan paling kuat tekadnya membentuk generasi lebih baik dari dirinya. Dan yang terpenting paling kuat menahan godaan untuk meninggalkan dunia pendidikan karena disitulah arti sebuah guru dan itulah sebuah komitmen yang tak lekang dimakan waktu.

Guru menyambi (bekerja) diluar sebagai pengajar, apakah menjadi tercela? Bekerja paruh waktu demi pundi-pundi uang untuk menyambung hidup keluarganya. 
Apakah ini merupakan kecacatan atau sebuah kemunduran tentang arti mulianya guru?
rasanya bila dianalisis mendalam terkait fakta yang terjadi akan pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka hanya kebijaksanaan dalan melihat fenomena itu. Kini, bukan hal yang baru dan rahasia umum, bila selain menjadi pendidik, juga berjualan/berdagang baik secara online maupun offline. Ini merupakan inovasi dan kreativitas dari masing-masing personal, dan ini wajar saja sebatas tidak sampai mengganggu kewajibannya.

Banyak di dapati pendidik kini, berusaha mendapatkan penghasilan dengan berjualan online, memasarkan produk/jasa, memberikan informasi yang bisa dijadikan untuk mendapatkan keuntungan, inilah fenomena yang disebut side job as marketer besides teacher.
Analisis yang coba penulis sajikan lebih kepada kontruksivisme dalam menelaah kejadian ini. Yakni, bentuk menyajikan dengan membangun sebuah image yang dapat memberikan persepsi, baik positif mau pun negatif bagi khalayak ramai. Dalam konteks ini, apakah pendidik boleh menjadi sales (memberikan) penjelasan sebuah produk/jasa.

Setelah melakukan beberapa interview mendalam dilapangan dengan menyertakan narasumber (Guru dan Pemasaran produk/jasa) dapat diberikan kesimpulan, bahwa memang lebih kepada tekanan ekonomi, dan juga sebuah upaya mendapatkan kehidupan yang lebih baik tanpa harus meninggalkan tugas menjadi pendidik. Hal ini pula disepakati oleh beberapa narsum yang penulis tanyakan dan hampir semuanya memiliki jawabanya yang serupa. 

Narsum kebanyakan guru yang mengajar di sekolah swasta yang dari tingkat penghasilan gaji masih tergolong rendah.
Banyak dari sisi sosial dan ekonomi yang melatar belakangi semua kejadian tersebut, artinya bahwa memang semua mencoba mengangkat harkat, martabatnya dengan melakukan hal-hal yang pantas dan masih dalam taraf wajar.

Penulisan ini lebih memberikan citra positif dan sedikit memotivasi bahwa pendidik tidaklah mengapa memiliki sambilan/sampingan selama profesional dan proporsional. Selama di menej dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan pendidik pun bisa menjadi konglomerat, tapi tetap bangga dengan menjadi pendidik.