Sabtu, 27 November 2021

Pesantren Karakter (Part 2) Al-Ashr

Pesantren selalu diidentikan dengan suasana yang hening, sepi dan sunyi, saat tidak beraktivitasnya para santri. Namun, di Al Ashr Cidokom, dibawah binaan Ustadz Ikhsan, dengan mudir Ustadz Yamin (lulusan Al-Irsyad) para santri diajarkan sebuah nilai-nilai yang simpel tapi continue.

Gimana coba itu, simpel tapi continue?

Jadi, begini bahasa mudahnya, mereka (para santri) melakukan sesuatu itu bukan lantaran hukuman semata (punishment), tapi karena timbul dari diri mereka sendiri, sehingga itu menjadi kebiasaan (habit).
Misalnya, seluruh santri ketika berada dimasjid, alas kakinya rapi tidak berceceran dan semrawut semuanya, tanpa adanya petugas piket yang berjaga, tapi sudah tumbuh sadar diri/sensor dari masing-masing individu. Kemudian, disaat sudah azan berkumandang, seksama dan khusyuk mendengarkan muadzhin sambil juga menyahuti lafadznya. 

Duduk dan masing-masing sibuk berzikir sebagai bentuk ke-tawaduan ditempat mulia yakni Masjid. Adab-adabnya dijaga, sebab sedang berada ditempat penuh kemuliaan, tempat beribadah, bukan berada waktu istirahat (free activities).

Program kegiatan yang mengasah rohani dan jasmani kerap ada dan itu membentuk pribadi-pribadi santri yang kuat dan tangguh. Pelatihan otot, serta otak menjadi hal yang selalu terjadi supaya psra santri terbiasa dengan hal-hal tersebut. Sebut saja misalnya bermain ketangkasan di kolam, climbing, thiffan, memanah, serta kegiatan luar lainnya yang mengundang adrenalin. Ibaratnya, Tenaga otot layaknya Rambo, iman dan aqidah sekuat para sahabar ridwanallah ajmain serta kecerdasan layaknya penemu-penemu barang berharga. Aamiin.

Sebenarnya, bila belum melihat secara langsung dengan mata kepala sendiri, uraian diatas dianggap mengada-ada, bahkan berlenihan. Akan tetapi, bila sudah melihat dan menyaksikan sendiri, mungkin penilaiannya lebih subjektif.

Semoga Allah Azza Wajalla memudahkan setiap urusan kita semua baik urusan dunia maupun akhirat. 
Aamiin Yaa Rabbal Alaamiin.



Kak Sabiq

PONDOK PESANTREN AL-ASHR CIDOKOM MENGUSUNG KONSEP "CHARACTER SKILL" DENGAN TEMA SOLEH, BERILMU DAN MANDIRI

Penulisan judul diatas, muncul karena hasil dari diskusi seharian dengan seorang ustadz, praktisi, coach bahkan sosok abang yang semoga Allah Azza Wajalla menjaga beliau dimanapun berada, beliau adalah Ustadz Ikhsan Hakim yang biasa disapa bang ikhsan.

Pekan lalu (20/11) penulis berkesempatan mengunjungi Pondok Pesantren yang diasuhnya guna memberikan Training Motivation For Childreen, dengan tema pembahasan menjadi santri yang berilmu dan mulia. Hampir dua jam, sharing and caring serta memberikan motivasi kepada anak-anak soleh menjadi kegiatan malam ahad yang berkesan.

Kegiatan ini kerap rutin dilakukan, untuk membuka wawasan dan khasanah pengetahuan yang lebih luas bagi setiap pribadi santri. Alhamdulillah, penulis pun berkesempatan menginap di Pondok Pesantren Al-Ashr yang terletak di Kampung Cihining, Rumpin Bogor.
Meskipun saat ini baru terdapat khusus laki-laki (ikhwan), dan insya allah tidak lama lagi ada untuk perempuan (akhwat).

Sebagai salah satu ma'had yang mengusung konsep tema Soleh, Berilmu dan Mandiri, semua itu nampak terlihat jelas oleh penulis, sebab banyak progam kegiatan yang mengarahkan dan memfokuskan pada pembinaan karakter serta pengasahan skill (ketrampilan) yang kelak dibawa sampai nanti tidak berada di pondok pesantren lagi.

Kegiatan cooking (memasak), pertukangan, peternakan, perikanan dan banyak hal lainnya yang membuat santri menjadi lebih bewarna dalam beraktivitas, tentu saja diluar kegiatan utama yakni, belajar ilmu dienullah, quran, hadits dan muhadoroh.

Dari wajah yang terpancar dari setiap santri, penulis dapat melihat sinar senang, suka cita yang tulus akan keberadaan mereka di pondok al-ashr. Semoga, mereka semua diberikan kemudahan dalam setiap usaha jerih payah belajar dan teruntuk para assatidz, semoga Allah Azza Wajalla meridoi setiap usaha dalam memberikan ilmu kepada para santri.

Bekasi
Kak Sabiq

Senin, 15 November 2021

RASIONALITAS TAK SELAMANYA BENAR

Sering mendengar kata rasional atau rasionalitas?

Kata yang memiliki arti sesuai dengan jalan pikir otak manusia, istilah mudahnya masuk akal. Konsep dari masuk akal, bisa diterima oleh akal manusia pada umumnya, sedangkan ketika tidak masuk akal maka namanya irrasionalitas (tidak masuk akal).

Menarik dicermati, bahwa kata ini selalu didengung-dengungkan oleh mereka yang mengatasnamakan akademisi, praktisi dan pelaku moral lainnya, satu sisi begitu indah dan spektakuler narasi yang dibangun dan tercipta akan lontaran argumentasinya terkait apapun itu, namun di sisi lain, menjadikan perkara terpenting dalam ranah Keyakinan (Faith) menjadi tumpul.

Konteksnya ialah tidak percaya adanya Tuhan. 
Satu kata untuk orang semacam ini, ialah semoga diberikan hidayah/petunjuk.
Dia hidup, dia bekerja, dia berjalan, dia melakukan aktivitas apapun, bukankah jelas bukti adanya Tuhan, tanpa harus dicerna dengan otak yang hanya berukuran sangat kecil ketimbang ukuran helm kepala. Jadi, sehebat apapun kecerdasan Anda, sepanjang apapun titel yang melekat di depan maupun dibelakang nama Anda, maka itu hanya kepercumaan yang membodohi diri sendiri. Sebab, hakikat dari adanya manusia ialah dapat beribadah kepada Robb ilahi yang menciptakan seluruh alam jagat raya.

Tulisan ini semoga ada nilai manfaatnya, dan memiliki faedah yang berbuah manis bagi siapapun yang membaca.

Salam Hormat

Penulis
Keriyono, M.Sos
Dosen Komunikasi dan Pendidik

Jumat, 01 Oktober 2021

HIDUP GINI-GINI AJA

HIDUP GINI-GINI AJA....



Celetuk seorang paruh baya, dengan nada sedikit kecewa dan juga gesture sembari memegangi kepalanya, mungkin mau lepas atau mau meledak hihihi.

cuitan atau gumaman seperti itu banyak dijumpai, manakala hati selalu menginginkan dunia tapi lupa cara menundukan dunia. Akhirnya, dirinya tersandra oleh buaian indahnya dunia tapi semuanya semua, istilah tertipu tapi tidak sadar.

Hidup gini-gini aja lebih baik daripada hidup gitu-gitu aja. Iya kadang taat, kadang maksiat, kadang soleh, kadang salah, bahkan kadang julid kadang baik, kadang jahat kadang aleman (bahasa jawa baik/sayangan).

Jadi pesannya cuma satu, selepasa baca tulisan ini, boleh cinta dunia tapi ingat besok, atau lusa bakalan meninggalkan itu semua. Jadi bijak atau bajak?

bijak menjadi hidup di dunia sewajarnya untuk apa? 
Cek QS. Adzzariyat 56.

bajak apa aja dibajak dan mengambil bukan hak miliknya....naudzhubillah



tulisan dari hamba yang semoga Allah Menguatkan

Rabu, 15 September 2021

UTAMAKAN INTERNAL, KEMUDIAN EKSTERNAL

Dalam bergaul dengan sesama manusia, baik yang secara resmi (formal) atau tidak resmi (non-formal) pasti dibutuhkan sebuah alat yang menghubungkan antara satu dengan yang lainnya. Dan alat itu bernama communication/ komunikasi.

Apa itu komunikasi?

Komunikasi ialah proses penyampaian pesan dari si pemberi pesan kepada si penerima pesan. Pengertian ini paling midah dipahami dan paling sering dipakai untuk literatur dunia akademisi, khususnya ilmu komunikasi.

Bahkan seorang anak bayi pun, ketika baru dilahirkan ke muka bumi ini, melakukan proses komunikasi, tentu dengan caranya sendiri, seperti menangis, dan tangisan itulah yang kemudian dipahami oleh orang sekitar bahwa bayi tersebut kaget, kemudian ingin disapih (menyusu) ke ibunya, mendapatkan dekapan kehangatan dan seterusnya. 
Its miracle of communication for people life.

Kajian Komunikasi Organisasi
(Studi Kasus: Komunikasi Searah namun berdampak parah)

Organisasi ialah wadah, tempat dari sekumpulan orang-orang yang terlibat dalam suatu tempat, waktu dan memiliki tujuan yang sama. 

Dalam organisasi ada yang memimpin dan pasti ada yang dipimpin, istilahnya bisa atasan dengan bawahan, ada pejabat dengan pegawai, ada komisaris dengan karyawan, atau malah ada kepala sekolah dengan guru. Intinya selalu ada hierarki yang seperti itu.

Organisasi dapat dikatakan baik, efektif serta memiliki tujuan yang sesuai koridor, ketika dibalut dengan komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan, biasa dibilang proporsional. Sebagai pimpinan, akan menjadi pemimpin yang berkarakter bila dalam kepimpinannya disertai dengan teladan atau role model bagi yang dipimpinnya. 

Begitupun yang dipimpin harus tunduk, patuh pada semua kebijakan tanpa kegerendengan/rasa terpaksa selagi itu merupakan keputusan bersama. Kalau pun harus ada ketidakpuasan dapat disampaikam pada forum yang tersedia, tentu saja untuk menjaga stabilitas dalam bekerja. 

Atmosfir dunia kerja bila terjadi konflik dapat dipastikan menghambat produktivitas pribadi maupun tim, yang berakibat pada merosotnya nilai trust (kepercayaan) organisasi itu sendiri.

Komunikasi yang sejatinya harus menjadi prioritas, dalam organisasi ialah ketika pihak internal lebih diutamakan daripada pihak eksternal. Contoh kasus, bila seorang pimpinan lebih mengitakan jalinan komunikasi dengan pihak luar, tapi mengenyampingkan tim (intern) maka yang terjadi dialah bagaikan bom waktu yang sewaktu-waktu meledak.

Adanya kepala sekolah jelas memiliki peran sentral disebuah lembaga/instansi pendidikan dimanapun berada dan jenjangnya. 
Misalnya ada kepala sekolah, guru dan walimurid maka posisinya seperti segitiga yang atasnya (lancip) ialah pemimpin yaitu kepala sekolahnya, dan dibagian tengahnya ialah dewan guru yang netral, dan bagian alasnya yang membesar ialah kehadiran para walimurid yang memberi peran besar juga dalam menopang sebuah instansi pendidikan.

Jalinan komunikasi antara ketiganya bagaikan putaran rantai yang telah terpasang, sebagaimana fungsinya agar dapat bersama-sama mencapai tujuan.
Dari itu, tidak ada lagi siapa yang lebih-lebih memiliki peran, semuanya berada pada porsi dan peran yang tidak bisa dianggap sepele.

Pemimpin hendaknya dapat menjadi penyeimbang dalam keadaan yang ditengah supaya semua keadaan menjadi rata, seimbang dan juga sesuai dengan trek yang telah direncanakan.


Ditulis oleh
Keriyono, M.Sos

Dosen Komunikasi
Pendidik
Pengamat Media Sosial

Kamis, 19 Agustus 2021

EMANG ADA YAH, PESANTREN KARAKTER?

Awalnya penasaran dan ngebatin bertanya-tanya, apa sih pesantren karakter, atau ma'had berkarakter?

Namanya juga penasaran, maka dicari tahu jawaban sama yang menjadi penggagas atau istilahnya inspiring. 

Kali ini langsung ke sosok pria humble lagi bersahaja namun penuh wibawa, beliau bernama Ikhsan Hakim. Ada yang memanggil Ustadz Ikhsan, Ada yang memanggil Bang Ikhsan atau coach dan sebutan lainnya, tergantung berawal bagaimana perkenalannya dengan sosok ayah ber-putri tiga.

Nah, khusus bagi penulis, manggilnya ustadzhuna bang ikhsan, beliau orang yang sangat berjasa dalam kepiawaian penulis berkomunikasi saat ini. Banyak ilmu beliau, yang kerap masih terngiang-ngiang dan ter-praktikkan dalam kehidupan sehari-hari penulis baik keluarga maupun masyarakat.

Kembali ke sosok bang Ikhsan.
(pake gaya tukul arwana😁)

Beliau memang memiliki segudang pengalaman, kontribusi dakwah yang sangat aktif dan masif. Seorang mujahid (pejuang), pemikir ulung serta ahli konseptor dalam hal apapun yang menjadi kemampuannya. 

Bang ikhsan terkenal oleh banyak ikhwan-ikhwan dalam berbagai macam kesempatan, Kajian para umahat sekitaran BSD dan sekenanya.
Sedikit cerita di 15 tahun lalu, bersama penulis pernah berboncengan naik motor astrea jadul, tapi masya allah yah...
motor jadul tapi masih bisa jalan dan sampai kemana-mana dalam mengemban misi dakwah. Beliau bukan orang yang takut cibiran orang, nyinyiran bahkan hujatan. Bagi dirinya, semua itu hanya pelecut dan penyemangat untuk makin eksis dalam dunia dakwah. 

Beliau pula yang menjadikan penulis n
berani tampil di podium, khutbah dan hal-hal yang kemudian menjadikan penulis makin percaya diri. 

Dakwah bagi dirinya sebuah keharusan dan bukan sebagai beban. Inilah sosok yang sekiranya tersemat dalam diri bang Ikhsan.

Penulis baru saja berziaroh ke kediamannya di wilayah Pondok Petir, Masya Allah sangat asri, lapang, nyaman dan penuh dengan banyak barang olahraga khususnya panahan, diberi nama 
SAN Archery. ternyata itu adalah brand beliau sendiri salam mewadahi serta mengumpulkan siapapun untuk dapat memanah dengan jitu. Sebab, salah satu olahraga yang dianjurkan oleh Rasullullah selain berkuda dan berenang ialah memanah. 

Kalau sudah bahas panahan, maka sekua sepakat memanggil coach (pelatih).
Mungkin julukannya Ikhsan Hood😁.
Banyak sudah didikan beliau yang menjadi atlit baik lokal maupun nasional. Kalau sudah begitu, apakah masih diragukan kapasitasnya? 
prestasi beliau banyak, kalau mau di list, malahan abis buat bahas itu doang, padahal niat penulis ingin memberikan semacam pelaporan valid akan sosok yang kini sudah punya cucu looh....
barakallahu fiik bang Ikhsan.....


Oia, Paling penting hasil ziaroh penulis bersama beliau, sebagai berikut:

1. Pengasuh Ma'had

Pesantren Al Asr yang terletak di wilayah Cidokok Rumpin Bogor menjadi tempat menimba ilmu syari yang bersama para ikhwan lain, merintis dan membangun pondok pesantren modern yang bercorak sunnah dan ber-karakter. 
Poin karakter inilah yanh membuat penulis merasa penisiran sebab, banyak ponpes yang hanya fokus berjualan kemasan tapi isinya jauh dari yang dipasarkannya.
Pondok Al Asr sudah siap menerima murid didikan tingkat SMP dan SMA yang bukan sekedar habis berkutat pada administrasi kurikulum tapi benar-benar memiliki goal yang sangat baik dalam aplikatifnya.

Dua kalimat yang sampai dalam penulisan ini masih penulis terngiang-ngiang ialah Anak didikan Al Asr hampir semua wali muridnya hanya ingin anaknya bertaqwa sama Allah (Ibadah) dan berbakti kedua orang tuanya. 

2. Coach Archery (Panahan)

Terbesar diwilayah Tangerang, club SAN archery sudah banyak melalang buana diberbagai kompetisi dan tentu saja mendapatkan prestasi. Banyak hasil didikannya yang kemudian masuk ke jalur profesional dan mengikuti lomba-lomba kancah nasional.
Sekolah-sekolah yang mempunya ekskul archery pun kadang memanggil coach-coach dari SAN archery untuk kegiatan ekskul disetiap sekolah masing-masing.



Insya allah akan ada terusan kisah inspiratif dari beliau...




Keriyono

Senin, 05 Juli 2021

CORONA OH CORONA

Melonjak tinggi dan terus meluas kasus covid dalam beberapa waktu terakhir, dan tempat kejadiannyapun merebak, disinyalir covid varian delta (India) yang melaju pesat. Kejadiannya langsung membludak di wilayah Jawa,  pasca liburan idul fitri alias aktivitas mudik tempo hari.

Seharusnya bila sedikit adil, yang harusnya menjadi kambing hitam bukanlah sebuah hari raya kaum muslim (idul fitri) atau tradisi yang sudah sangat melekat yakni mudik, karena terbukti yang dipakai istilahnya covid varian delta dan itu berasal dari India.

Jadi wajar bila ada pertanyaan besar, mengapa orang India masuk ke indonesia. Sedikit nalar yang harus ditularkan agar tidak salah paham. Melarang warga pribumi untuk melakukan rutinitas tahunan, dengan niat dan tujuan silaturhaahmi, padahal sudah sesuai prokes yang berlaku tapi membiarkan bahkan memfasilitasi warga asing yang masuk dan itu rentan dengan penyebaran virus, dan benar saja, kejadian kasus dalam hitungan hari langsung tumpah tuah di sekitar Jawa Bali.

Media pun kembali memberitakan secara masif dan terus update terkini tentang kondisi covid, dari pemberitaan mulai yang kewalahan pihak rumah sakit, baik RSUD maupun rumah sakit swasta, jumlah yang terkena corona makin banyak, banyak yang terpapar tanpa gejala (OTG), ketersediaan ruang ICU dibeberapa rumah sakit rujukan hampir penuh, bahkan sampai pekuburan yang terus terisi tiap harinya. Dijamin bila tiap hari terus-terusan mendapat berita demikian, makin menambah kepanikan bin kecemasan ujung-ujungnya imunitas tubuh menurun drastis akhirnya rawan masuknya virus. (semoga dijauhkan dari wabah ini, aamiin)

Bersikap abai, cuek bahkan tak peduli sama sekali juga bukan sikap yang tepat dan bijaksana. Akan tetapi, menurut banyak pihak, ada asumsi bahwa selagi dibawa enjoy, have fun, jangan stres dan jangan cemas yang berlebihan, maka imun tetap terjaga. Banyak kasus terjadi, kepanikanlah penyebab utama imun menurun, daya tubuh merosot dan akhirnya corona menjadi biang kematian. 

Apakah vaksin menjadi solusi?

Inilah yang terus menjadi bahan pembahasan dimana - mana, baik diruang-ruang kedai, warkop, perkantoran, webinar-webinar domestik, nasional bahkan internasional bahkan dikalangan driver ojol yang kadang timbul rasa percaya tidak percaya akan corona. Tidak percaya, tapi banyak yang menjadi korban alias meninggal, percaya tapi kalau belum merasakan sendiri atau keluarga yang mengalami nampaknya belum percaya dan yakin bahwa corona benar-benar ada.

Kini, pemerintah mengeluarkan kebijakan dan keputusan mengikat agar bisa ditaati oleh semua pihak. Namanya PPKM darurat, biasanya kalau sudah menggunakan nama darurat itu artinya sudah sangat bahaya. Sebab, sudah makin tak terkendali, makin serampangan dan sulit terdeteksi dalam hal penyebaran. Istilah kasarnya, tinggal menunggu korban berjatuhan. Tentu, kita semua tidak menginginkan semua hal tadi. Semua ingin kembali hidup normal, jauh sebelum pandemi ini terjadi. Hidup aman, nyaman bersama orang-orang terkasih.

Kembali kepada ranah vaksin, yang digadang-gadang menjadi solusi ampuh dalam memutus rantai penyebaran sehingga diharapkan dengan adanya vaksin semuanya kembali sedia kala.
Namanya juga usaha, pasti bisa berhasil, bisa gagal atau malah setengah-setengah.
Masyarakat menaruh harap dan keinginan besar bahwa vaksinlah dapat menjadi therapi ampuh dalam menghilangkan virus covid.
Nyatanya, sampai saat ini, keadaan masih belum sesuai keinginan. Bahkan muncul baru lagi varian covid.

Malah ada anggapan, bahwa jelas tidak membuahkan hasil signifikan, lantaran vaksin diperoleh dari China, tapi kini varian yang menggila ialah jenis delta asal India. Akhirnya semua kena prank. Tetap saja korbannya ialah Indonesia. Sikap apatis demikian atau sedikit nyinyir hal yang wajar saja terjadi, sebab memang itulah yang kadang kerap membelenggu orang-orang kecil (rakyat).

Sudah yang menjadi korban orang pinggiran alias rakyat, eh tetap saja disalahkan karena tidak mengikuti protokol kesehatan. Bagi orang kecil inilah simalakama yang sesungguhnya. Taat prokes, artinya tidak punya penghasilan alias tidak makan karena berdiam diri dirumah tanpa aktivitas bekerja. Sedangkan tidak taat prokes ancamannya dobel risk, yakni terpapar covid dan diberikan sanksi oleh satgas covid. 
Emang yah jadi orang kecil hanya bisa disalah-salahin, dianggap biang masalah dan satu lagi yang selalu dikorbankan atas nama kemanusiaan.

Kembali pada fenemona sosial yang kini membuat pengamat hanya bisa gigit jari, lantaran semua teori dalam permasalahan sosial sudah habis dikupas, tapi dalam implementasinya kadang mentok dan hanya stagnan pada titik tertentu. Jadinya, permasalahan ini akan terus terjadi tanpa sebuah penanganan berarti, bila satu sama lain tidak ada kordinasi atau istilahnya main "cuci tangan" tanpa harus memikirkan nasib negeri ini.


Semoga tulisan ini memberikan pencerahan, bukan justifikasi (penghukuman) melainkan untuk membuka mata semua orang bahwa kita masih harus terus berjuang.
Semoga perjuangan kita semua membuahkan hasil terbaik dan kembali pada hidup yang normal.




Sabtu, 03 Juli 2021

DESAHMU MEMBANGKITKAN HASRAT

Derai rambut mengibas sesekali menutupi paras elokmu kasih.

Suara lirih berbisik dari mulutmu membuat bulu roma bangkit seperti gerakan bak lebah memangsa sesuatu serentak.

Matamu yang kadang terpejam, kadang terbuka seiring nada indah merdu dengan gercitan suara alas terdengar sontak menambah suasana syahdu.

gemeretek gigi pun memberi sinyal bahwa ada rasa tak biasa hingga suara itu muncul tiba-tiba.

tanganmu menari-nari ditubuhku, seakan mengikatku kuat tak mau lepas barang sesaat, sungguh keadaan penuh debaran dan detakan jantung, hingga desiran darah begitu deras dan kencang, seperti roda yang menuruni sebuah turunan tanpa bisa dihentikan.

Aroma tubuhmu jelas tercium menyengat hidungku, masuk kedalam sukma batin yang disitu keluarlah khayalan liar bagaimana kalau saat ini kita melakukan rangkaian ibadah surga di atas dunia ini.

Bentang tubuhmu yang tanpa sehelai benang, mengajakku untuk  siap menerkam, membuat diri ini sangat sulit mengontrol diri dan hampir tenggelam dalam samudera kasih sayangmu.


Malam ini pun kuharapkan berhenti sejenak, agar aku puas mencumbui, memelukmu, bahkan sesekali mencium manja setiap lekuk tubuhmu yang mempesona. Aku sudah tak tahan dengan semua yang telah tersaji dihadapanku.



kini.....
kuingin kau ikhlas, 
layani aku dan kita saling berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat.




SKY

Senin, 28 Juni 2021

KETIKA HIGH TECHNOLOGI MEMBUMI, MAKA DISITULAH PERAN MANUSIA MULAI TERANGKAT KE LANGIT (BERGESER KE MESIN)

Teknologi akan selalu berkembang, begitulah sebuah paradoks yang telah melekat oleh para penemu/eksperimen dimanapun berada serta belahan bumi manapun. Teknologi senantiasa memiliki pengikut yang selalu bertambah dan makin meluas.

Saat ini, sudah terbukti itu semua. Teknologi makin canggih, dan makin mempermudah kehidupan manusia. Istilah zaman film diawal-awal penggunaan High Tech, "Machine vs Human" 
(Mesin melawan Manusia).

Inilah realitas (fakta) tak terbantahkan, semua berlomba-lomba beralih ke teknologi yang terupdate/kekinian agar tidak ketinggalan zaman dan dunia makin berubah tatanannya. Pengetahuan teknologi terus digali, potensi manusia dikembangkan demi terwujudnya sebuah peradaban baru yang makin instans, efisien, tidak bertele-tele dan jauh-jauh dari kerumitan.

Karakter manusia disaat mesin menjadi primadona, ialah tumbuhnya rasa malas beranjak atau istilah boomingnya "Mager" (males gerak) karena terpaku dan terpukau akan kehadiran teknologi.
Dapat dikatakan itu salah satu dari sekian banyak sisi negatif dari kehadiran teknologi. 

Ditambah lagi rasa mudah menyerah, jika tidak dikatakan sebagai putus asa. Hal ini tentu bukan tanpa sebab, semua hal yang sekiranya tak diketahui, langsung beban itu diberikan ke mesin, seperti pencarian kata, arti atau apapun yang tersaji selagi terkoneksi dengan jaringan internet. Sering terucap kata tanya saja di mbah gugel, sebuah afirmasi yang kemudian banyak digaungkan dan diaplikasikan pada kehidupan saat ini. Bahkan saking populernya, orang tua ketika ditanya sesuatu oleh anaknya, maka jawabnya serupa dengan hal tadi, coba browsing/cari di internet (baca google).

Konteks anak-anak yang kini dialihkan dalam pembelajaran dengan istilah belajar online pun terjebak pada pusaran yang sangat kuat. Pilihan yang sudah massal dan masif sehingga sulit ditolak bahkan ditinggalkan, sebab keseragaman ini telah masuk pada semua lapisan. Sudah terkadung menjadi kebiasaan baru yang lama-lamaan berbuah suatu kebiasaan pastinya.

Sekolah yang tadinya berbasis pada informasi, pengetahuan dan juga pengembangan karakter peserta didik harus menyesuaikan dan mengikuti mekanisme yang ada dengan segudang regulasi dari pembuat kebijakan.
Betapa sudah seperti itu adanya teknologi. Sulit menghindar disaat untuk hal paling penting, yakni pendidikan. Sudah menjadi sebuah keharusan. Bahkan, dalam hal ibadah, kerap kali teknologi menjadi solusi. 

Penulisan ini, tidak menyalahkan seratus persen dari adanya teknologi, sebab penulis pun masih menggunakan teknologi (pengguna setia) sebatas kebutuhan dan keperluan. Namun, jika kaitan teknologi dengan sebuah fenomena saat ini maka banyak hal yang harus diperhatian bersama dalam rangka menciptakan keseimbangan. 

Semua orang akan selalu memiliki pandangan, persepsi dan perspektif dalam menilai teknologi. Tak terkecuali dengan penulis, hanya saja tulisan ini berangkat dari sebuah opini pribadi yang konon kerap menemui permasalahan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, khususnya dalam hal ranah pendidikan.

Ada beberapa yang penulis sarikan, sebagai bentuk pelaporan yang semoga dapat diterima dan bentuk tanggung jawab dalam hal keilmiahan, hal tersebut penulis jadikan sebuah intisari, sebagai berikut:

1. Belajar Online dalam satu sisi menjadi solusi paling jitu dan aman dari kondisi yang disebut sebagai pandemic situation. Namun, satu sisi pun meninggalkan banyak pertanyaan dan sebuah kritikan tajam. Hal yang mendasari semua hal tadi ialah bermula dari pertanyaan sampai kapan belajar dengan gaya begini (online style)? atau pertanyaan lain yang mengindikasikan lelah dan capeknya harus belajar online bagi orang tua.
pertanyaan ini selalu saja diutarakan dari orang tua yang telah telah merangkap dobel-dobel job, sudah bekerja mendamping anak belajar, urus ini dan itu dan lain sebagainya.
ini sangat jelas adanya dan dilapangan seperti itu yang terjadi.

2. Teknologi menggantikan peran manusia, memang sudah mulai terasa ketika dahulu ketika seseorang masuk ke dalam jalan tol, pasti ada petugas baik laki maupun wanita sebagai penerima uang bayaran sebagai kompensasi penggunaan fasilitas jalan tol, lalu kini yang terjadi semua gardu tol otomatis, hanya menempelkan kartu lalu palang pintu terbuka, tentu saja jika saldonya mencukupi, jika kurang maka tidak akan terbuka sampai ada bantuan atau mobil dibelakangnya mau membantu.

3. Lihatlah penggunaan teknologi dalam pertandingan sepak bola, Federasi yang bertanggung jawab (FIFA) resmi merilis penggunaan VAR (yakni sebuah pemutusan keputusan oleh wasit pertandingan melalui layar monitor yang juga ada petugasnya ketika ada hal-hal yang dirasa masih samar, belum jelas dan juga adanya kejadian-kejadian diluar biasanya. Jelas bahwa teknologi ini, dapat memberikan keadilan satu pihak tapi juga memberikan ketidakadilan bagi yang lain, misalnya ketika penyerang menceploskan bola ke gawang, rupanya ada protes disebabkan telah terjebak offside, maka wasit dibantu oleh asisten mengecek dalam layar monitor lalu dalam waktu beberapa saat keputusan wasit ditetapkan. 

4. Kehadiran smartphone yang pun memiliki andil sangat siginifikan. Teknologi yang dikembangkan di hape-hape kini, sangat membuat siapapun dimanjakan dengan layanan fitur yang serba canggih lagi instan.
Banyak hal yang ditawarkan oleh peranti lunak yang tertanam di hape sehingga mempunya banyak aplikasi yang memudahkan dan mengasyikan penggunanya.

5. Belanja online pun menjadi perkara yang tidak lepas dari adanya teknologi. Semua terasa lebih cepat, lebih efektif dan kadang bersaing dari segi harga. Dulu orang belanja pasti datang ke pasar, swalayan atau tempat yang memang menjajakan barang kebutuhan hidup masyarakat, kini dengan alat yang bernama hape, sudah bisa memesan, membeli barang apapun yang diinginkan selagi ada basis internet dan juga saldo yang terendap pada masing-masing bank.



Itulah beberapa hal yang bisa disarikan oleh penulis, dalam rangka memberitakan bahwa keadaan kita saan ini sudah seperti itu bahkan bisa tambah parah sisi negatifnya bila tidak segera menyeimbangkan dengan kenyataan. Istilahnya dunia maya jangan sampai mengalahkan dunia nyata.

Semoga ada manfaatnya dari uraian ini.
Terima kasih dan salam sehat, kuat dan selamar dikala pandemi.



Bekasi, 28 Juni 2021


Keriyono, M. Sos
(Dosen Komunikasi dan Pendidik)

Sabtu, 12 Juni 2021

EFEKTIVITAS PENDIDIK MENJADI MARKETER PRODUK DALAM PENINGKATAN TARAF HIDUP SOSIAL KEKINIAN

Pendidik ialah seseorang yang dibebankan tanggung jawab (amanah) mengajar kepada peserta didik dimanapun berada (formal atau informal). Nama lain, ialah guru, dosen, ustadz/ah, suhu, master atau sebutan lainnya yang mencitrakan sebagai sosok yang mentransferkan pengetahuan.

Betapa mulia profesi pendidik, bahkan saking mulianya, hasil jerih payahnya tak sebanding dengan penghasilannya tiap bulannya. Bila dipikir-pikir, menjadi guru sampai kapan pun tidak akan bisa menjadi kaya raya bak sultan, seperti vlogger, yutuber yang konon tiap bulannya mencapai hasil ratusan juta bahkan em em an. 

Itu kan soal pilihan hidup, bukan? Guru atau pendidik, bila ditanya bangga dengan pekerjaan sebagai guru? Maka jawabnya ialah ini panggilan jiwa, bukan sekedar status atau hanya atribut yang melekat, tapi jauh dari nilai-nilai yang semestinya.

Pendidik itu bukan paksaan atau sekedar ikut-ikutan, melainkan esensi menjadi guru jauh dari harapan itulah sebuah kegagalan namanya. Pendidik itu harus yang paling depan untuk memotivasi, paling jarang menyerah dan paling kuat tekadnya membentuk generasi lebih baik dari dirinya. Dan yang terpenting paling kuat menahan godaan untuk meninggalkan dunia pendidikan karena disitulah arti sebuah guru dan itulah sebuah komitmen yang tak lekang dimakan waktu.

Guru menyambi (bekerja) diluar sebagai pengajar, apakah menjadi tercela? Bekerja paruh waktu demi pundi-pundi uang untuk menyambung hidup keluarganya. 
Apakah ini merupakan kecacatan atau sebuah kemunduran tentang arti mulianya guru?
rasanya bila dianalisis mendalam terkait fakta yang terjadi akan pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka hanya kebijaksanaan dalan melihat fenomena itu. Kini, bukan hal yang baru dan rahasia umum, bila selain menjadi pendidik, juga berjualan/berdagang baik secara online maupun offline. Ini merupakan inovasi dan kreativitas dari masing-masing personal, dan ini wajar saja sebatas tidak sampai mengganggu kewajibannya.

Banyak di dapati pendidik kini, berusaha mendapatkan penghasilan dengan berjualan online, memasarkan produk/jasa, memberikan informasi yang bisa dijadikan untuk mendapatkan keuntungan, inilah fenomena yang disebut side job as marketer besides teacher.
Analisis yang coba penulis sajikan lebih kepada kontruksivisme dalam menelaah kejadian ini. Yakni, bentuk menyajikan dengan membangun sebuah image yang dapat memberikan persepsi, baik positif mau pun negatif bagi khalayak ramai. Dalam konteks ini, apakah pendidik boleh menjadi sales (memberikan) penjelasan sebuah produk/jasa.

Setelah melakukan beberapa interview mendalam dilapangan dengan menyertakan narasumber (Guru dan Pemasaran produk/jasa) dapat diberikan kesimpulan, bahwa memang lebih kepada tekanan ekonomi, dan juga sebuah upaya mendapatkan kehidupan yang lebih baik tanpa harus meninggalkan tugas menjadi pendidik. Hal ini pula disepakati oleh beberapa narsum yang penulis tanyakan dan hampir semuanya memiliki jawabanya yang serupa. 

Narsum kebanyakan guru yang mengajar di sekolah swasta yang dari tingkat penghasilan gaji masih tergolong rendah.
Banyak dari sisi sosial dan ekonomi yang melatar belakangi semua kejadian tersebut, artinya bahwa memang semua mencoba mengangkat harkat, martabatnya dengan melakukan hal-hal yang pantas dan masih dalam taraf wajar.

Penulisan ini lebih memberikan citra positif dan sedikit memotivasi bahwa pendidik tidaklah mengapa memiliki sambilan/sampingan selama profesional dan proporsional. Selama di menej dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan pendidik pun bisa menjadi konglomerat, tapi tetap bangga dengan menjadi pendidik.

Kamis, 18 Maret 2021

DOSEN KEKINIAN

Hidup di zaman yang apa-apa serba sulit, maka dengan kreativitas, inovasi dan sedikit berani ambil resiko nampaknya menjadi modal besar untuk survive (bertahan) dengan gempuran era globalisasi. 

Tak terkecuali dengan profesi seorang dosen. Konon, dahulu ketika seseorang menjadi dosen, itu sebuah pekerjaan yang memiliki pengaruh (influencer) hebat dan membanggakan. 

Dosen merupakan pekerjaan yang berkutat dengan pengajaran di kampus (sekolah tinggi/universitas) mengajarkan mata kuliah kepada mahasiswa/mahasiswi diruang kelas atau ditempat yang memungkinkan berlangsungnya perkuliahan.

Dosen itu, bukan hanya bicara lulus di jenjang strata 2 (pascasarjana) tapi sebuah panggilan jiwa yang mengedepankan rasa ingin mengubah keadaan sehingga dampaknya dapat dirasakan pada lingkungan sekitar. 

Ada beberapa hal yang mendasari, mengapa dosen menjadi profesi mulia dan penuh dengan ke-intelektualan tinggi.
Dalam artikel yang penulis buat ini, hanya merangkum sedikit beberapa literatur yang diketahui secara ortodidak (pengalaman sendiri maupun sharing and caring with friend).

1. Kolotisme (dosen kolot)

kata-kata kolot, terkadang di identikan dengan watak, karakter atau sesuatu yang keliatan kasat mata  semisalnya, dosen si A, dikenal oleh para mahasiswanya sebagai dosen kolot lantaran terlalu idealistik sehingga kurang bisa menerima saran, pendapat atau kritikan dari siapapun. Bagi yang berani mengkritik bersiap-siaplah nilai mata kuliahnya akan dikurangi. Kolotisme ini selalu dikaitkan dengan masa lalu belajar sang dosen dan perkembangan zaman sekarang. 

Tidak selalu salah dosen tersebut, dan tidak selalu benar para mahasiswa yang menilai adanya dosen kolot. Poin utamanya ialah, bahwa disetiap masa (waktu) akan selalu ada dosen berkarakter demikian. Sikap terbaik, tentu memaklumi dan memberikan ruang ekspresi selagi memang masih dalam koridor wajar dan pantas.

2. High Technology and Learning Skill

Poin ini lebih mengkhususkan pada sosok dosen yang memiliki kecakapan dalam interaksi dengan berbagai macam sumber pengetahuan, baik konvensional maupun digitalisasi knowledge. Bayangan seorang dosen yang seperti ini ialah suka eksperimen, uji coba baik sifatnya makro maupun mikro zone. 

Banyak dijumpai di kampus-kampus yang terkenal akan reputasi dari segudang prestasi yang ditorehkan. Sungguh kebanggaan, bila memang hal demikian menjadi jamur yang meluas hingga ke pelosok-pelosok daerah.

3. EXPERINCE IS IMPORTANT

Pengalaman Adalah guru berharga. Sering kalimat ini terdengar sebagai bentuk motivasi, bahwa semua hal yang sifatnya memberikan penyemangat sekaligus sebagai pendewasaan diri.
Dosen memang memiliki kedudukan yang berbeda dibanding guru pada sekolahan, akan tetapi perbedaannya tentu tidak dalam masalah prinsip dan perkara yang substansi (pokok). Tugas dosen ataupun guru yakni sama-sama mencetak pribadi-pribadi yang unggul, memiliki kecakapan/ketrampilan dan kualitas yang patut dibanggakan. 
Dosen hadir ditengah-tengah masyarakat, utamanya mahasiswa sebagai tim kerja (partner) sehingga cita-cita memberantas kebodohan dan ketidakpahaman terhadap sesuatu menjadi satu persepsi. 


Itulah sedikit, karangan yang dapat penulis sajikan sebagai pelecut semangat bagi yang berprofesi dosen ataupun pendidik. Bagi penulis, semua yang berkecimpung di dunia pendidikan adalah pahlawan yang sejati dan harus diberikan tempat istimewa selama niat lurus dan suci terjaga.



Bekasi, 18 Maret 2021


Keriyono, M. Sos
(Dosen Komunikasi)


Senin, 22 Februari 2021

KOSAKATA BARU SEMENJAK ADA PANDEMI

Pandemi yang melanda semua negara se-antero jagat raya, sudah pasti banyak meninggalkan dampak yang beranekaragam. Permasalahan pun kerap terjadi, dibeberapa sektor kehidupan. Dari faktor ekonomi, sosial, kesehatan, budaya maupun dunia internasional. 

Dalam tulisan artikel singkat ini, penulis ingin mengemukakan beberapa kosakata yang baru selama pandemi dan menjadi kata yang sering diucapkan oleh semua orang. Apa saja kosakata yang berhasil dirangkum menjadi artikel ini.

1. PANDEMIC (Pandemi)

Istilah ini diartikan sebagai penyebaran virus yang sudah melewati batas geografi (luas) dan sangat cepat dalam kurun waktu yang singkat. Kata ini sontak menjadi kata yang diulang-ulang oleh hampir semua pangamat, pembicara, tim medis dan banyak lagi lainnya.

2. PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)

Dari kepanjangan kata tersebut saja, sudah dapat dipahami bahwa PSBB ialah usaha pemerintah baik pusat maupun daerah membuat kebijakan (regulation) untuk memutus mata rantai Covid-19.
Ruang gerak masyarakat dibatasi, agar dalam interaksi sosialnya tidak menjadi penular atau yang tertular virus corona.
Upaya ini, masih belum memberikan pengaruh signifikan, akan tetapi perlu diapresiasi dan dipatuhi bersama oleh segenap insan. Fakta yang sering terjadi ialah, sebagian kelompok sudah taat dengan peraturan tersebut, di sisi lain ada pula yang cuek, dan enggan melaksanakan kebijakan PSBB ini. 

3. PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat)

Mirip-mirip dan setipe dengan PSBB, PPKM ialah intinya pembatasan kegiatan masyarakat. Nama lain, bila essensinya sama buat apa yah? begitulah, pertanyaan yang sering muncul ketika PSBB berubah menjadi PPKM.
Hanya sebuah nama baru alias ganti kesing tapi isi dalamannya sama. Tapi, kalau melihat penjabaranya PPKM lebih kepada aspek ekonomi, sebagaimana yang dilansir tempo.com, Ketua Satgas percepatan ekonomi Pak Mentri Airlangga, mengatakan PPKM ini lebih kepada genjotan ekonomi ditingkatkan, namun adanya pembatasan kegiatan masyarakat yang tidak ada hubungangan dengan sektor ekonomi. Wilayah Jawa - Bali pun menjadi sorotan sehingga pemakaian istilah PPKM ialah sesuatu yang dibuat untuk menjaga sektor ekonomi, tapi tidak menutup kemungkinan akan sektor kesehatan.

4. CORONA atau COVID-19

Kata ini sangat familiar dalam setahun terakhir, tapi bila disuruh menyebutkan kepanjangan dari Covid-19 maka akan kelibet dan jelimet. Coronavirus desease that was discovered in 2019 (Covid-19), dari sekian banyak versi yang beredar di dunia maya tentang kepanjangan dari Covid-19, penulis mengambil definisi dari WHO (World Health Organization) yang mengartikan bahwa Covid-19 adalah virus corona yang model baru dan ditemukan pada tahun 2019.

5. Isolasi (Karantina)

Keadaan bagi seseorang yang telah dinyatakan positif Covid-19. Ini, pula kata yang kerap meluncur dari siapapun bila sudah melakukan beberapa tes. Isolasi mandiri hanya bila masih dianggap reaktif (masih 50:50) antara positif dengan negatif. Isolasi dilakukan dengan tidak keluar ruangan (rumah) dan tidak dianjurkan berinteraksi dengan orang lain selama 14 hari. Hal ini dilakukan, sampai keadaan seseorang tadi diperiksa kembali oleh tim medis, dilakukan tes kembali dan bila hasilnya negatif, maka isolasinya selesai dan dinyatakan sehat. Tapi, bila ternyata positif, maka akan dirujuk ke RS yang sudah ditentukan. 

6. PJJ ON-LINE

Untuk kata ini, selalu dikaitkan dengan dunia pendidikan. PJJ atau Pembelajaran Jarak Jauh merupakan satu-satunya solusi yang diberikan pemerintah, melihat situasi dan kondisi (sikon) memperhatikan terkait covid-19. Tidak mau mengambil resiko dan menantang maut, semua yang berhubungan dengan kerumunan, kepadatan orang di satu tempat sebisa mungkin harus di pisahkan. Virus ini menyebar, dengan sangat cepat sehingga perlu ekstra waspada bagi siapapun. 

Rabu, 17 Februari 2021

PEDAGANG KELONTONG, KETIGA ANAKNYA SARJANA SEMUA

Tahun 70-an, laki-laki dengan perawakan kecil, kurus dan kerempeng akhirnya tiba di ibukota dengan harapan akan menjadi lebih baik dari sisi segala-galanya, terutama perekonomiannya. Berumah tangga pun harus dilakoni LDR (Long Distance Relationship) atau hubungan jarak jauh. Si Laki-laki (suami) di Jakarta merantau, dan si perempuan dikampung Kranding, Kota Pemalang Jawa Tengah. 

Semenjak remaja, laki-laki ini memiliki penyakit batuk yang cukup hebat bahkan sudah divonis bakalan tidak bertahan lama hidupnya, melihat kondisi fisik yang sudah tidak ada harapan. Tapi, takdir berkata lain, bahwa dirinya sembuh dan ber- azzam (bertekad kuat) bahwa akan berusaha sedemikian rupa untuk kehidupan keluarganya lebih baik. Terutama dalam hal pendidikan anak-anaknya kelak. Sebuah azzam yang pada akhirnya terwujud dalam kehidupannya.

Meninggalkan 5 anak yang masih kecil, namun dalam perjalanan hidupnya harus menelan kepahitan ditinggal 2 anak meninggal dunia. Kesedihan mendalam menyelimuti keluarga ini dan tentu merupakan pukulan telak, ditinggal meninggal buah hatinya. Tersisa 3 anak yang terdiri dari 2 laki-laki dan 1 anak perempuan.

Nasir adalah nama panggilannya, bekerja di Jakarta dengan berbekal ijazah SD itupun bekerja si pabrik konveksi dibagian pemotongan kain. Dalam kinerjanya tergolong baik dan rapi, bahkan sempat ditawari promosi jabatan, namun terkendala dengan ijazah yang hanya sampai tamat SD, sekiranya sampai SMP pasti akan diangkat menggantikan manajer penjualan. Namun, nasib berkata lain. 

Kehidupan di Jakarta, tak seindah kelihatannya, tak sebagus yang didengar, Jakarta tempatnya keras, penuh dengan tipu-tipu dan kelicikan yang berprinsip cari yang haram saja susah, apalagi yang halal. Itulah, gambaran yang dirasakan Nasir beserta keluarga ketika harus memboyong seluruh keluarganya ke bilangan Rajawali Jakarta, saat ini masuk ke daerah Kemayoran Jakarta Pusat. 

Bertahun-tahun sudah Nasir dan keluarga mencoba peruntungannya, dengan bekerja sebagai buruh pabrik, pemetik kelapa dan menjualnya, menjadi tukang kayu (pelitur barang-barang antik), penjaga rumah dikala larut malam dan terakhir pedagang kelontong pinggir jalan. Dari sekian, usaha yang telah ditekuni selama ini, hanya usaha dagang kelontong inilah yang menampakan hasil lebih baik dari sebelumnya. 

Berdagang pertama kalinya di tahun 95, di daerah Gintung Rempoa Ciputat, waktu itu masih wilayah Jakarta Selatan, kini setelah berubah akibat adanya otonomi daerah menjadi kawasan Tangerang Selatan. Mulanya, bermodalkan 700 ribu untuk membeli gerobak yang akan dipakai berjualan dari orang yang awalnya berjualan namun tidak dilanjutkan, karena harus pulang kampung. Sambil ikhtiar serta terus munajat kepada Allah Subhanahu Wata'a'lla untuk bisa membeli gerobak kecil ukuran kira-kira  1 meter kali 1 meter setengah. 

Akhirnya, dengan membayar cicil tiap ada uang, Nasir pun memberanikan diri membeli gerobak itu dan akhirnya ada kesepakatan bahwa gerobak berpindah tangan. Setelah membeli gerobak tersebut, Nasir dan Istri membersihkan gerobak tersebut bagian luar maupun dalam. Untuk mengisi barang dagangan, istrinya menjual kalung emas yang sedari dulu dikumpulkan demi keberlangsungan hidup lebih baik. 

Benarlah kata orang-orang, roda kehidupan itu berputar, kadang diatas dan kadamg dibawah. Siklus itulah yang membuat kehidupan nasir dan keluarga perlahan namun pasti berubah. Mulai menata ekonominya, bisa mengontrak rumah sepetak demi sepetak sampai akhirnya terbeli juga rumah yang dahulunya dikontrak satu petak. Kini, Alhamdulillah telah terbeli dan sudah dibangun menjadi dua tingkat. Sebuah kerja keras yang membuahkan hasil manis. 

Hal, pertama yang teringat ketika kehidupan ekonominya membaik, bahkan tergolong cukup sejahtera ialah menabung untuk biaya pendidikan anak. Dan itu semua terbukti dan terwujud. Allahu Akbar. Betapa semua harapan dan keinginannya terkabul berkaitan dengan pendidikan anak-anaknya yang secara akal logika manusia, atau matematikanya manusia awam tidak akan ketemu perhitungan macam ini. 

Allah punya cerita indah untuk keluarga Nasir, menjadikan ketiga anaknya semuanya sarjana, bahkan salah satunya mengenyam pendidikan magister, dan sampai pada penulisan kisah nyata ini, dari jalur keturunannya atau generasi keluarga Nasir, anak ke empatnya lah yang mengukir rekor dan sejarah. Hanya dari hasil berjualan gerobak kecil kelontong, yang menjual minuman, snack, dan semua hal-hal kecil tapi dari situlah keberkahan hadir. 

Anak tertuanya, sarjana teknik di ITI (Institut Teknik Indonesia) Serpong.
Anak keduanya, Magister Komunikasi di (Universitas Islam Negeri) UIN Jakarta. 
Anak ketiganya, sarjana ekonomi di (Universitas Pembangunan Nasional) UPN Jakarta. 
Sebuah prestasi yang tidak bisa dianggap remeh dan menjadikan inspiratif bagi siapapun yang mengambil manfaat dari kisah nyata yang luar biasa ini.


Bekasi, 17 Februari 2021
Keriyono, M. Sos
Dosen Komunikasi dan Pendidik 

Selasa, 16 Februari 2021

MENGENAL KARAKTERISTIK GURU GENERASI KELAHIRAN 90-AN

Pembahasan tentang guru, tidak akan pernah habis dibahas. Hal demikian, kerena guru akan selalu punya cerita, punya kupasan yang menarik dari sisi pribadinya, maupun yang diemban oleh si guru tersebut. Guru itu selalu bermuara pada eksistensi, bahwa dirinya menjadi sosok yang tidak akan pernah lepas dari pandangan murid, tidak akan pernah habis apa yang dilakukan oleh guru kepada semua anak didiknya. Bahkan sampai meninggal sekalipun, guru akan selalu mendapatkan amal kebajikan dari setiap orang yang melakukan kebaikan atas contohnya, ajakan maupun ajaran yang telah diberikan. 
Masya allah....sungguh mulia guru itu, saking mulia nya logam mulia pun tidak ada apa-apanya dengan semua jerih payah guru.

Masih terngiang-ngiang jelas ucapan kawan lama yang begitu menusuk dikalbu, dan menajam kuat disanubari, sebuah ucapan
"kalau mau kaya jangan sekali-kali jadi guru, tapi kalau mau berkah hidup ini maka jadilah guru". Kata-kata ini senantiasa menjadi pelecut jiwa yang terkadang ada bisikan untuk lari dan selesai di jalan pendidikan bernama jadi guru. 

Dalam artikel yang tak panjang, namun berharap inilah bentuk kepanjangan amal soleh dalam usaha memberikan sedikit sumbangsih untuk kebaikan, dan semoga berkenan bagi siapapun, tak terkecuali tulisan ini didedikasikan bagi seorang guru dimanapun berada.


Artikel ini akan membahas atau memberikan informasi tentang karakteristik guru dengan kelahiran 90-an  Tentu saja dengan referensi yang sudah ada, baik literatur buku konvensional, buku digital ataupun referensi lainnya yang sepadan/sesuai dengan bahasan serta beberapa wawancara dengan pihak-pihak yang kompeten dalam memberikan informasi sehingga menjadi data yang valid.

     KARAKTERISTIK GURU MUDA

1. Serba Instan (cepat, efisien dan ekonomis).

Poin pertama ini menjadi hal yang sering terlihat, muncul disetiap tempat. Sosok guru muda itu tidak suka berbelit-belit, muter-muter atau istilahnya instan sajalah, jangan dibuat pusing, bingung atau malah rumit. 
Slogan mereka mungkin terekam dalam memori penyimpanan otak ialah lebih cepat lebih baik (the sooner is better). Inilah fakta terbanyak yang ditemui dilapangan. 
Ketika diselidiki, mengapa guru muda itu demikian, salah satu faktor pemicunya ialah pola belajar yang dahulu ketika tingkat dasar, kemudian lanjut ke jenjang menengah lalu ke atas dan sampai ke perguruan tinggi, terkesan dikejar waktu. Waktu antara belajar, dengan bermain yang sifatnya gamelogi (istilah baru tentang kegandrungan bermain game di gadget).
Setelah semua fase itu dijalani, kemudian memilih menjadi guru, maka terciptalah guru yang suka dengan bermain waktu cepat. 

2. Mudah menyerah dan kurang suka tantangan.

Poin kedua ini pun banyak terjadi dan selalu sama pada beberapa instansi pendidikan. Menyerah disini konteks dalam hal yang bila sudah tidak sssuai ekspektasi tidak mau berhadapan lagi atau istilah down syndrome (mental jatuh). Tidak maubberlama-lama menghabiskan waktu untuk mengulangi kegagalan pertama, padahal belum tentu yang kedua dan selanjut akan gagal juga. Intinya sekalu gagal maka tidak mau mengulanginya. Benarlah kata orang bijak, "kekalahan yang paling telak bagi seseorang setelah mengalami kegagalan adalah tidak mau mencoba kembali".
Dan ini ada pada kenyataan hidup di negeri yang kita cintai. Guru muda masih belum bisa arif dan bijaksana menyikapi kegagalan. Gagal bisa saja terjadi, tapi jangan langsung menyerah dan tidak mau memperbaiki kegagalan itu. Belajarlah dari para penemu-penemu yang hasil penemuannya masih tetap digunakan sampai saat ini. 
Pertanyannya, apakah mereka berhenti dari uji coba-ujicoba yang memghabiskan waktu. Misalnya Thomas Alfa Edison, apakah ujug-ujug lampu yang ditemukannya menyala? Jawabnya tidak. Ratusan kali bahkan ribuan kali percobaan yang dilakukan dan itulah semangat yang harus tertular pada kita selaku guru.

3. Idealis 
Pandangan idealis tentu bukan barang baru bila berkaitan dengan idealisme. Idealis adalah keadaan cara padangan (paradigma) yang harusnya sesuai dengan keumuman orang kebanyakan namun bisa jadi kurang pas bila ddengan sudut padangan orang lain. Contohnya begini, sosol guru muda yang idealis ketika ada program atau kegiatan yang telah tersusun rapi oleh kepanitiaan misalnya, lalu dalam aplikatifnya ada yang kurang sesuai, karena ada ketidaksesuaian dengan guru muda ini, maka idealisme nya mencoba memberikan sedikit sanggahan, sebuah harapannya agar bisa digunakan sesuai idealisme-nya. ini sering terjadi, bahkan banyak keadaan demikian mempengaruhi iklim bekerja karena tidak sejalan dalam hal demikian.
Artinya idealisme dari guru muda itu biasanya dipengaruhi semangat yang tinggi dalam melakukan sebuah inovasi (perubahan) masih berfikir segaris namun belum mampu menyeimbangkan penilaian yang lain. Tentu pengalaman menjadi guru terbaik di titik ini. 

4. Enggan belajar karena merasa sudah pernah belajar.

Poin ini menjadi perkara yang sering terjadi dimanapun lembaganya atau unit pendidikannya. Perlu ditelaah bersama bahwa semua yang melakukan hal demikian, sebab ada kebosanan untuk mengulangi keadaan dimana sebelum menjadi guru ditempa, digodok menimba ilmu, setelag semua itu berlalu, kemudian menjadi guru, malah suruh belajar lagi, belajar yang tentang strategi belajar ke anak-anak, persiapan materi ajar, paham dengan IT, mampu mengaplikasikan bermacam-macam fitur yang membuat jelimet dan seterusnya. Maka, timbullah bosan akut yang membuat gairah belajar menurun.


Selasa, 26 Januari 2021

AYAH SIBUK, IBU TAK PUNYA WAKTU, ANAK ASYIK DENGAN DUNIA MAYA

Fenomena keberadaan Medsos (Media Sosial) saat ini sudah tidak mungkin terbendung lagi. Bahkan, mustahil diatur sedemikian rupa, agar tidak mengubah mindset, paradigma individu, karena semuanya sudah menjalar, menyebar seantero pelosok, bahkan sampai ke tempat-tempat terpencil. Mau menutup mata alias cuek, maka akan tergerus arus informasi yang cepat, masif dan dinamis. Atau mau menjadi bagian dari Medsos itu sendiri (influencer) maka tetap saja ada resiko yang diterima. Salah satunya, tidak menjadi dirinya sendiri, karena harus menyesuaikan dengan keadaan dan minat pasar yang di maui agar diterima dan dijadikan figur.

Rumah-rumah yang saat ini beratapkan genteng, berplafon, berkeramik, berpintu, berjendala yang semuanya sama. Dan yang tidak bedanya lagi ialah sama-sama mempunyai alat bernama gadget/gawai.
Semuanya menggunakan teknologi dalam rangka memudahkan urusan hidup, dan menjadikan semuanya serba instan, praktis dan efisien waktu. 

Tidak sedikit keluarga yang menaruh benda ini (gadget) sebagai perangkat utama dalam keluarga, sampai semua urusan tidak bisa lepas akan benda kecil ini, namun dapat mengubah segalanya. 
Dikala sebelum pandemi saja, kehadiran gadget menjadi primadona dalam menjalani kehidupan sehari-hari apalagi saat ini terjadi pandemi. Semua aktivitas seperti bekerjanya si Ayah, menyelesaikan tugas kantornya si Ibu, bahkan tugas-tugas kampus, sekolah dan lain sebagainya melalui online. 

Efeknya luar biasa menjadikan habit (kebiasaan) baru serentak dan massal. Ini pula yang menjadi sesuatu keadaan baru (new normal life). Semuanya menyesuaikan diri, karena memang taruhannya ialah nyawa dan jiwa. Tidak patuh Prokes, virus mengintai. Abai atau tidak peduli sama sekali bukan sebuah solusi bijak, melainkan tetap berusaha sebaik mungkin serta berharap badai ini cepat berlalu.

Ada fakta yang mencengangkan bila dibuat hal ini perlu perhatian khusus, tapi bisa jadi hal biasa saja, karena memang semuanya sudah menjalani kehidupan ini, di era yang serba canggih. Mengutip beberapa referensi, bahwa saat ini, kita berhadapan dengan generasi akhir, biasanya disebut generasi milenial, generasi instans, generasi Z, generasi 4.1 dan banyak pula sebutan lain. intinya, semuanya itu mengarah pada sebuah pola pikir, pola tingkah laku yang lebih dominan individualistic (perorangan).

Ayah sebagai kepala keluarga masih sebatas jargon, karena nyatanya banyak yang mencukupi diri memberikan perhatian materi namun tidak immaterial.
perhatian materi ialah sesuatu diukur, ditimbang dengan money (uang) adapun perhatian immaterial ialah sentuhan, pelukan dan ucapan motivasi seraya memuji akan kepandaian anak dalam suatu hal. Itu pun menjadikan anak merasa diakui keberadaannya dan meningkatkan kepercayaan diri si Anak. Intinya, Ayah harus peka dan maubsedikit menyiapkan waktu bersama buah hati. Buat si Anak merasa Ayahnya-lah laki-laki yang selalu ada saat suka maupun duka.


Ibu ialah sosok wanita terhebat sepanjang sejarah manusia yang berstatus anak. Artinya, ibu yang berjuangan dalam semua-semuanya. Pengasuhan, perawatan, pendidikan dan lain sebagainya menjadikan ibu sebagai "madrosatul awwal fii baiti" ( pendidikan awal/pertama dalam keluarga).
Janganlah membiarkan anak tanpa pengawasan, sekalipun ada embel-embel sudah usia baligh, dewasa atau istilah sudah bukan anak kecil lagi. Ini, hanya untuk kehati-hatian dan waspada dalam menjalani roda kehidupan.

Sebagai anak, harus taat dan patuh dengan semua peraturan yang dibuat oleh keluarga. Semata-mata untuk melindungi pengaruh buruk dari luar, sekalipun ada konflik, maka selesaikan dengan bijak dan arif serta komunikasikan dengan baik. Ingat, bahwa semua masalah pasti ada solusinya. 





Bekasi, 27 Januari 2021

Keriyono, M. Sos (Dosen Komunikasi dan Guru)

Senin, 25 Januari 2021

SEDENGAN WAE (Yang pas pas sajalah)

Setiap hari aktivitas penulis, selalu berebutan jalan, karena memang sebagai pengendara roda dua, dituntut ke tempat kerja sebagai sebuah keharusan. Ingat yah, keharusan. Bukan sebatas kewajiban atau malah penggugur dari tanggungjawab. Sebagai seorang mukmin, pantang dan tidak ada dikamus, menjadikan pekerjaan sebagai beban. Justru pekerjaan bila dinikmati dengan hati senang dan riang, penyakit bakalan minggir. (Gayanya lagi megang pinggang hehehehe)

Tadi pagi, saat berkendara  dijalan bilangan Depok, di depan ada truk dengan qoute (tulisan) jawa kurang lebih yang teringat begini:

"uripku tak setel sedengan, banter arep nguyah sopo, alon yo ngenteni sopo"

terjemahan :

hidupku dipasang yang tengah-tengah, kenceng mau mengejar siapa, pelan mau menungguin siapa"

Sepintas kata-kata itu membuat penulis merasakan sebuah inspirasi dan akhirnya menulis sambil berfikit tema nya apa yah. Jelas, tema nya hidup pas-pas an saja tidak usah berlebihan juga jangan berkekurangan.

Jadi inget Vety Vera, mbakyu ne Si Alam embah dukun, yang punya tembang "sedang sedang saja" awal 90-an. Penulis saat itu masih ingusan karena masih diusia belia. Heeee

Hidup berlebihan kadang menjadi petaka, bila dijadikan tujuan dan akhirnya jadi budak dunia materialistis. 
Hidup kekurangan juga pastinya tidak enak, bakalan merasakan kesulitan sana sini. Padahal idealnya, tengah-tengah saja istilah yang familiar adalah ga kaya ga juga kismin eh miskin. Pas-pas an namanya. 
     Pas butuh ada
          Pas perlu sedia
             Pas pengen udah di depan mata
                  Pas kepikiran tau-tau ada


Hidup yang paling ideal, ialah ketika mampu menjadi dunia ini sebagai ladang amal ibadah, yang kelak panennya kita tuai dikampung akhirat. Ibarat petani, kita cuma bisa menanam benih, biarlah hasil panennya, kita rasakan di akhirat. (standar hidup orang yang mengaku umatnya nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalaam)

Jadi jangan takut hidup tidak kaya yah, atau hidup miskin. Tapi takutlah kalau menjadi kaya, tapi lupa tugas kita di dunia. Hidup cuma semantara, ibarat main sepak bola, tidak bakalan sampe 2 jam nonstop, pasti ada rehatnya, bahkan ujung-ujungya bubar alias selesai permainan itu. Dunia juga gitu hanya tempat bermain, sendau gurau dan sementara. Jangan terlena dan terbius dalam-dalam sampai semaput lalu lupa kembali ke tempat yang ada awal tiada akhir. 



Minggu, 24 Januari 2021

GURU JUGA MANUSIA BIASA

Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh

GURU Bukan Robot apalagi Belati
Oleh : Keriyono, M. Sos

Teruntuk jiwa-jiwa yang terpanggil secara sadar maupun masih dalam proses, menjadi sosok pribadi seorang pejuang dengan titel GURU.

Berjuangnya GURU, bukan dengan senjata bedil maupun meriam bersuara menggelegar, tapi dengan ide, gagasan, pemikiran serta sebuah pencitraan baik (role model) yang memang harus melekat supaya ter-shibghoh (mewarnai) siapa saja, khususnya peserta didiknya.

Guru itu kerjaan enteng, kalau dibuat enteng dan sekedarnya saja. Tapi bisa juga kerjaannya berat mengalahkan pandai-pandai besi yang kekar hingga keluar semua tenaga dan cucuran keringat. 

Kok bisa berat sih?

Guru punya 24 jam dalam 7 hari membina, mengontrol, memantau, membimbing, mengawasi, memandu, memberi contoh, menyemangati dan me ...me lainnya yang semua tentu muaranya IKHLAS
(insya allah).


Guru dipandang hina, silakan.
Dianggap mulia juga silakan, karena prinsip dari diri yang Tulus ialah hanya sedih, berat hati ketika diri menjadi insan yang cuma keliatan bagus dimata manusia lain, tapi ternyata kedok semata dan di hadapan Rabb hanyalah butiran debu yang hilang seketika tertiup angin.
Jadilah sosok yang terkenal di penduduk langit, dan tak perlu mencari susah payah terkenal di penduduk bumi.


Harapan kita semua, baik itu GURU, bukan Guru sekalipun, ketika melakukan aktivitasnya selalu sematkan bahwa ini harus bernilai ibadah. Agar semua tidak sia-sia dan nantinya kita tuai sebagai bekal menghadapi Illahi Robbi.


Semoga ada peneguh, penguat dan pengikat dari uraian diatas bagi siapa saja yang mengambil manfaat. Aamiin🤲🏼🤲🏼

KISAH INSPIRATIF (MUSUH TERBESAR SAAT GURU)

Bismillahirrohmaanirrohim.

Deskripsi tentang guru, sudah banyak diulas dan diuraikan dan tersimpan rapih dalam mesin pencarian google. 
Mau yang bagus-bagusnya guru, mau yang dibahas hebatnya jadi guru ataupun semua yang beropini As Teacher is Very Excellent for life.

Tapi, ada juga yang memberikan pandangan sebaliknya, menyinyir bahkan memberikan stigmatisasi yang kadang mendeskreditkan (intimidasi) bahwa guru hanyalah profesi mengajari anak tapi tifak meng-kaya-kan (baca: membuat kaya).
Belum lagi disaat keadaan pandemi seperti ini, guru menjadi sosok yang terkadang menjadi bulan-bulanan dari adanya complain (keluhan) permintaan dari walimurid, salah satu keluhannya untuk tidak mengajarnya monoton serta hanya terkesan instruksi perintah penugasan.

Baiklah, fokus pada apa yang ingin penulis sajikan, yakni adanya salah satu musuh terbesar bagi seorang pendidik (Guru).

Menurut pengalaman dan sedikit analisis ringan, bahwa musuh terbesar siapapun ialah diri kita sendiri (self). Dalam hal ini, sesuai dengan Psikologi Manusia, yang harusnya dilawan untuk pertama kali dalam masalah ketakutan adalah rasa takut yang tumbuh di diri manusia itu sendiri. 

Sebagai pendidik (Guru) musuh terbesar yang kiranya dapat menjadi intropeksi diri ialah rasa merasa cukup dengan apa yang sudah ada, baik yang sifatnya knowledge, cara mengajar, dan mencukupkan diri tanpa ada niatan menambah serta memperkaya diri dengan banyak pengetahuan.

Mengapa oleh penulis dirasa sebagai musuh terbesar bagi guru yakni guru tidak mau belajar lagi seakan menjadi guru sudah titik tertinggi. Jawabnya, karena hal itulah yang menyebabkan diri kadang menutup diri dari kritik, komentar dan masukan. Merasa diri lebih dari semua yang ada, dan itulah keadaan yang kadang tidak disadari oleh guru.

Niat dan tujuan dari penulisan ini tidak lain dan tidak bukan ialah mengingatkan diri penulis sebagai pendidik juga, maupun kepada semua insan-insan yang telah menjadi guru bertahun-tahun dan tetap bertahan dengan semua ini.

Rabu, 13 Januari 2021

DILEMATIS PJJ BAGI SEKOLAH SWASTA

Sekolah di Indonesia dari segi kedudukan di mata negara hanya ada 2 status, yakni sekolah negeri dan sekolah swasta. Betapapun hebatnya kurikulum sebuah sekolah, tetap saja pengakuan kementrian terkait menjadi hal yang mutlak harus disetujui.
Artikel ini tidak dalam rangka menilai mana yang lebih baik antara sekolah negeri atau sekolah swasta. Namun, hanya untuk memberikan pandangan yang objektif sehingga masing-masing bebas memiliki opini dan pandangan khalayak ramai. Poin penting dari penjabaran disini, ialah tentang esensi sekolahnya, bukan sekedar masalah status. 

Semua sekolah dibangun, dan diselenggarakannya proses belajar mengajar, pasti tujuan utamanya ialah mencerdaskan kehidupan bangsa, yang itu merupakan wujud harapan pendiri bangsa tercinta. Betapa pentingnya nilai dari pendidikan itu sehingga menjadikan pendidikan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
 
Komersial alias pendapatan keuntungan semata harusnya tidak menjadi prioritas utama dalam pembangunan sekolah di manapun berada. Sebab, itu dapat menciderai dan mengikis rasa keikhlasan. Bukan lantas tidak berhitung kalkulasinya, tapi tetap mengedepankan niat suci dan mulia, yakni membangun peradaban yang madani.

Kehadiran sekolah swasta, bukanlah dalam rangka menyaingi mutu, pengambilan jatah bantuan dari pemerintah, atau sekedar kompetitor tanpa kualitas dengan sekolah negeri. Tapi, lebih pada esensi memberikan kontribusi nyata bermuara kecerdasan intelegensi, emosi dan spiritual. Artinya, antara sekolah negeri dan sekolah swasta harus terjalin sinergisitas yang handal dan berbobot, sehingga cita-cita dalam kehidupan bernegara dapat tercapai.

Agar sekolah swasta dapat bersaing, tentu harus juga memiliki prinsip yang jelas dan terarah serta terukur. Persiapan dalam merancang pendidikan, menjadi hal yang mutlak ada, dalam visi dan misi sekolah tersebut. Tidak perlu menutup diri atau ekslusif yang hanya menimbulkan banyak pertanyaan, yang pada akhirnya keluar dari koridor semestinya. Hal tersebut, tentu tidak diharapkan oleh siapapun.

Kembali pada pembahasan yang dijadikan judul di atas, penulis ingin membahas dilematis KBM (PJJ) bagi sekolah swasta.
Apa saja dilematis itu? 
Silakan disimak sampai habis, agar tidak gagal paham dan salah persepsi.

1. Ketergantungan dari pihak luar (investor).

Investor ialah orang atau kelompok yang memberikan sumbangsih berupa bantuan nyata, dapat berupa uang tunai, bantuan materi dan lain-lain, sehingga operasional sekolah swasta dapat berjalan dan terus berlangsung. 
Kesan ini akan nampak jelas, bahwa investor merupakan hal terpenting dalam urusan keberlangsungan masa depan sekolah swasta. Istilah lebih jelasnya, ketergantungan yang sifatnya mutlak, karena tanpa investor semuanya menjadi terhambat bahkan menjadi gagal berkembang. Hampir semua sekolah swasta yang keadaannya serupa disebutkan diatas, maka itulah kenyataannya. Bahkan, ada juga yang berdiri dengan menggunakan icon atau nama besar tokoh, sehingga menjadi daya tarik orang diluar supaya berbondong-bondong masuk ke sekolah tersebut. 

2. SPP is important
Bagi sekolah swasta yang tidak bergantung pada investor, maka pembiayaan operasional sehari-hari di dapat dari kolektif dana masuk yang tiap bulan disetorkan oleh pihak kedua (baca: walimurid) namanya SPP. 
SPP itu penting, bagi kelangsungan operasional sekolah swasta. Jadi, tidak dipungkiri bahwa SPP lancar maka KBM dapat berjalan lancar dan kondusif, tapi bila SPP macet, maka dipastikan KBM pun terkendala. Pokoknya SPP itu kewajiban Walimurid, dan hak yang didapat ialah proses pembelajaran yang diterima oleh peserta didik.

3. Terbelahnya 2 kongsi walimurid.

Orangtua murid akan selalu terbagi menjadi dua kubu, yakni kubu pro PJJ dan kubu kontra PJJ. Bagi yang pro PJJ berkilah dan berargumentasi, umumnya  demi terputusnya penyebaran virus corona. Jadi, PJJ harus diselenggarakan karena tidak ada cara lain yang lebih aman. Adapun, yang kontra dengan PJJ alasan terbesarnya CAPEK.
Dan untuk penjabaran kata CAPEK, penulis menguraikan demikian, capek tenaga, capek fisik, cape pikiran dan cape segala-galanya. 
Capek tenaga karena sudah mengerjakan tugas rumah (cuci, masak, setrika, dll) masih harus mengawasi, membantu dan menemani anak untuk belajar. 
Capek Fisik, sudah pasti terasa sebab menjadi rangkap-rangkap tugas akhirnya fisik yang drop.
Capek pikiran, sebab naluriah seorang ibu ketika anaknya kesulitan dalam apapun itu, pasti rela berkorban. Intinya, semua hal itu membuat ibu merasa tidak nyaman. 
Kebayangkan, bila dalam rumah rangga tidak harmonis bisa-bisa anak belajar dilepas begitu saja. Belajar syukur, tidak belajar ya sudahlah. 

4. Sekolah dituntut berinovasi

Monoton, mungkin itu kata yang dapat disematkan ketika awal-awal PJJ diadakan. Pembelajaran menjadi sesuatu yang membosankan, sebab hanya bersifat satu arah, yakni guru menjelaskan tanpa ada feedback dari siswa. Ini, yang kemudian menjadikan beberapa sekolah membuat perubahan, seperti adanya interaksi langsung sekalipun hanya dengan media hape/laptop menggunakan aplikasi jejaring dengan basis internet. 
Sekolah pun memberikan kesempatan para dewan guru untuk mencoba memberikan ruang gerak improvisasi dalam belajar, seperti membuat video pembelajaran dengan model pembelajarannya guru tersebut dan menggunakan aplikasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan guru tadi. Mencari referensi yang begitu banyak sambil browsing-browsing dalam rangka membuat PJJ menjadi hidup dan menarik.

5. Belajar Versus GAME

PJJ itu memang antara belajar dengan bermaim game naik online atau offline menjadi saingan tak terpisahkan. Dua jam belajar online, namun sisanya lebih banyak bermain game, jika orang tua yang kurang ketat dan tidak membuat kesepakatan, maka yang banyak dan sering dijumpai sambil belajar pun, bisa sambil bermain. 
Teralihkan, enaknya belajar dengan asiknya bermain game yang berbagai macam bentuk permainan. Ada game yang memang dibuat untuk mengasah otak, namun jika keterusan dan mengaggap game nya menarik dan seru, maka pembelajaran yang telah dibuat gurunya sama saja tidak berarti. 



Demikianlah, beberapa dilema yang telah dirangkum untuk diambil manfaatnya bila ternyata didapati faedahnya.
Semoga berkenan dan dapat dimaklumi adanya. Terima kasih banyak telah menyempatkan waktunya membaca tulisan ini.



Wassalam


Keriyono, M.Sos
(Dosen Komunikasi dan Pendidik)

KOMPILASI PROBLEM ORANG TUA MURID TERHADAP PJJ DISAAT PANDEMI

A. Latar Belakang

Compilation atau kompilasi adalah gabungan antara satu objek dengan objek lain, sehingga menjadi kesatuan yang mengikat atau mudahnya kumpulan yang tersusun secara teratur (Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI). Sedangkan, problem adalah masalah (english word). Masalah kerap terjadi, dalam hal apapun juga, sebab semua kehidupan tanpa masalah bukan hidup, bahkan mati sekalipun tetap masalah, bila selama hidupnya tidak membawa amal kebaikan dan kebajikan antar sesama.

Jika digabungkan, maka dapat diterjemahkan bahwa kompilasi problem ialah kumpulan masalah yang telah disusun sedemikian rupa sehingga mampu dipahami dengan mudah bagi pembaca. 

Artikel ini, mengangkat sebuah tema yang masih menjadi pembicaraan sekalipun tahun telah berganti, namun tetap belum mampu melakukan pembelajaran di sekolah seperti biasanya sebelum pandemi. Padahal, semula sudah diberikan sebuah keputusan bersama oleh mentri terkait tentang pembelajaran tahun depan, yakni semester 2 yaitu PTM (Pembelajaran Tatap Muka). Namun, akhirnya harus kandas karena badai corona masih bertahan di tanah air yang tercinta Indonesia.

Orang tua murid/walimurid pun sempat geram dengan keputusan yang berubah dari PTM ke PJJ semula seperti di semester 1. Banyak keluhan yang dirasakan dengan cara belajar jarak jauh yang sangat monoton, kaku dan sulit dipahami sebab hanya bersifat satu arah (one way). Orang tua murid merasa harus double job, sebab selain telah membayar uang tiap bulannya ke sekolah, juga harus mengajarkan anaknya dirumah. Urusan rumah kadang kala terbengkalai sebab konsentrasi menurun dan kurang fokus. Hampir semua orang tua yang memang hanya dirumah, alias tidak beraktivitas seperti kerja dikantoran maka 
syndrome stress sudah siap menerkam siapapun orang tua murid.

Pandemi memang luar biasa efek dan dampaknya. Tidak lagi pada ranah mikro, melainkan makro environment terkena implikasi yang dahsyat. Semua aspek kehidupan manusia menjadi terhambat bahkan stagnan, sebab semuanya menjadi terkendala akibat pandemi yang berkepanjangan. Bila, tidak ditangani demgan seksama dan teruji, maka semua akan berdampak fatal untuk keberlangsungan hidup manusia umumnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja kompilasi problem orang tua murid yang terjadi saat pandemi?
2. Bagaimana cara keluar dari zona tidak nyaman (uncomfortable) dalam belajar anak murid?

B. Pembahasan

1. Kompilasi problem orsng tua murid yang berhasil ditemukan di lapangan baik secara virtual berupa chat, berita maupun kumpulan redaksi yang sesuai dengan tema maka dapat diambil beberapa point, sebagai berikut:

a. Menyayangkan kenapa harus PJJ lagi padahal selama 1 semester lebih, malah kalau diingat, sudah hampir 10 bulan belajar menggunakan perangkat gawai (gadget), selalu memakai aplikasi zoom, gmeet, dan lain sebagainya sebagai perantara dalam belajar secara online. Awalnya sih, semangat, sebab baru pertama kali dalam sejarah secara serentak se- Indonesia belajar menggunakan layar, yakni layar hape, layar infocus dan layar tancap kalau kurang besar, celoteh dari walimurid yang merasa kesal dan kecewa cara belajar saat ini. 

b. Keluhan yang kerap terjadi dan hanya dialami oleh sekolah swasta ialah komplainan terkait SPP yang harus dipotong atau disesuaikan karena memang keadaan ekonomi langsung berubah. Tentu, sebagai instansi pendidikan yang tidak mengejar untung rugi semata, kebijakan pun disesuaikan demi kemaslahatan bersama. Keadaan ini, menjadi simalakama bagi instansi pendidikan yang masih bergantung pada bayaran tiap bulannya. Kadang, masih bersyukur ada investor yang bersedia menutup celah itu, sehingga tidak merembet kemana-mana, tapi kalau pandemi ini berkepanjangan, maka pihak investor merasakan imbas yang juga membahayakan bagi dirinya. 
 

Senin, 11 Januari 2021

PJJ MENYISAKAN SESAK DAN SESAL

PJJ yakni Pembelajaran Jarak Jauh yang sudah berbulan-bulan ini dilakukan oleh semua instansi pendidikan, dimanapun berada. Nama lainnya bisa belajar dalam jaringan (daring) atau KBM On-line atau Pembelajaran Tidak Tatap Muka Langsung, Pembelajaran Virtual atau ada juga yang menamakannya Belajar Non Konvensional.

Istilah-iatilah diatas sudah umum dan menjadi hal yang sama makna dengan belajar dengan cara baru (New Learn in Life). Belajar dengan gaya seperti disebutkan diatas, ialah untuk mencegah, mengurangi resiko paparan, memutuskan rantai penyebaran virus covid-19 yang melanda seantero dunia belahan manapun, tak terkecuali republik tercinta yakni Indonesia. Sungguh sebuah keadaan tidak mudah, bagi siapapun dari aspek kesehatan, pendidikan, ekonomi atau aspek kehidupan lainnya.

Tulisan artikel singkat ini, mencoba memberikan pandangan yang terlihat nampak nyata dari perspektif Tenaga Pendidik (Guru) terkait hal itu semua. 
Ada beberapa yang coba dikupas dan dirasakan dari penulis, sebab sehari-hari berkecimpung di dunia yang konon dunia pendidikan ialah dunia yang luar biasa istimewa dan hebat. Salah satu keistimewaan guru ialah bila sudah menginjak kepala empat atau usia (40-an) maka akan nampak beda dengan mereka-mereka yang bekerja di kantoran dari sisi tampilan fisik luar. Bila menjadi guru masih saja terlihat segar dan awet muda, dan bila bekerja di kantoran bisa sebaliknya. Ini bukan mitos atau khayalan semata penulis, melainkan sebuah fakta.

Fenomena yang terjadi selama PJJ sebagai berikut:

1. Guru dituntut memberikan kreasi dan improvisasi dalam mengajar selain disesuaikan dengan materi yang telah disusun kurikulum, guru juga harus menjaga ritme antusiasme dalam belajar peserta didik. Jujur, poin ini sangatlah sulit, karena dalam pengalaman kuliah dahulu, tidak ada mata kuliah atau simulasi yang sesuai dengan keadaan ini. Situasi Covid-19 menjadikan semua para pendidik, memutar otak demi berlangsungnya pendidikan sambil berkreasi dalam menyampaikan konten materi. Inilah yang kita sebut tantangan (challenge) dalam menghadapi globalisasi yang tidak pernah terukur sebelumnya. Semua unsur dalam pendidikan atau stakeholder (yayasan, sekolah, guru, walimurid, komite sekolah sekaligus pemerintah) harus terlibat aktif dan se-komando dalam menerapkan pendidikan jarak jauh. 

2. Guru hanyalah manusia biasa yang selalu berupaya keras dalam pengajaran dan penyampaian materi belajar dapat dipahami oleh semua anak didiknya. Tidak menginginkan lebih dari itu semua. Bahkan, cepat tidaknya siswa menyerap apa yang disampaikan sang guru, bila tidak diiringi dengan adab dan etika pada sang guru, maka bisa jadi keberkahan ilmu tidak akan sampai pada si anak tersebut. 
Kuncinya adab atau istilah yang umumnya ialah sopan santun terhadap seseorang yang mengajarkan pada kita ialah patuh, tunduk dan juga respect.
Faktanya, banyak ditemukan, para siswa/siswi yang kehilangan rasa ini, entah disadari ataukah tidak. Semuanya merasa seperti berjalan maunya sendiri. Tidak takut dengan aturan yang berlaku, semua peraturan hanya untaian kata-kata yang dibuat tanpa sebuah ketaatan. 
its real.

3. Guru sebagai garda terdepan dalam pendidikan bagi peserta didik, namun ketika PJJ ini muncul maka yang terjadi keputar balikan posisi dan peran bahkan pengambilan fungsi malah ada juga penambahan kegunaan dari adanya orang tua. Orang tua merangkap dari semula orang tua dirumah, juga menjadi guru dirumahnya. Istilah guru sebagai orang tua ke-2 disekolah telah sirna karena PJJ ini, menggeser keadaan demikian. Kalaupun tidak sirna berarti terkikis perlahan-lahan. Inilah sebuah kenyataan yang tidak dapat ditampik lagi bahkan banyak pula orang tua yang menyerah dengan keadaan begitu. 
Muncullah sebuah pikiran-pikiran tak baik, namun terasa benar rasanya, apa saja pikiran-pikiran itu?

"udah bayar sekolah mahal-mahal, emaknya juga yang disuruh mengajarkannya minimal mendampingi disaat PJJ berlangsung". 

"gurunya ngapain aja sih, sampai orang tua disuruh repot ngurus ini dan itu, ga tahu apa yah, kita juga butuh waktu melakukan aktivitas dari semua ini. Bisa... bisa..... stres kalo terus-terusan begini.

"Enak banget yah jadi guru, ngajarnya gitu-gitu doang tetep digaji padahal yang ngesot-ngesot dirumah kita kita orang".

"Sekolah cuma bisa kasih tugas seabrek, dinilai juga mungkin enggak, sebuah kezoliman nyata yang harusnya jangan dibiarin nanti malah ngelunjak"

"Kalo kayak gini terus keadaannya, mendingan ga usah sekolah, mendingan home schooling sampe benar-benar aman keadaan. Tapi ujung-ujungnya kalo sekolah kayak gini juga. Repot dah.....pusing deh"

Begitulah beberapa narasi ilustrasi yang coba penulis rangkumkan dari apa yang terlihat terkait PJJ ini. 

Tidak salah dengan apa yang menjadi pikiran-pikiran tadi, tapi bila diresapi dengan kepala dingin dan kesejukan hati, maka pikiran-pikiran itu jangan dipelihara, malah justru harusnya dilawan dengan sebuah pemikiran yang rasional, yaitu menyangkut jiwa jadi bukan kemauan sendiri, tapi sudah ada mekanisme yang mengatur sehingga kasus Covid-19 bukan bicara perorangan tapi sudah seluruh makhluk hidup. 


4. Guru itu sudah berupaya dan bekerja sesuai proporsi nya sehingga antara take and give nya harusnya sesuai. Dukunglah guru putra putri kita, sekalipun mungkin belum sesuai dengan kemauan banyak orang. Guru telah melakukan tugas dan tanggung jawabnya. Support mereka, hargai semua jerih payahnya dengan sebuah sikap lapang dada dengan semua kejadian ini. Mereka pun tidak menginginkan di kondisi seperti ini. Maunya mengajar di kelas, ketemu langsung anak-anak didik, ada interaksi yang terjadi dan membangun sebuah rasa kepercayaan, kepedulian dan bahkan mengajarkan arti hidup sesungguhnya.
itulah mereka, hanya berusaha dan berupaya semampunya.


Sebagai penutup tulisan ini, penulis hanya mengajak kepada kebaikan dari apa yang telah disajikan dalam artikel ini. Tidak dalam rangka menggurui, atau bahkan bersikap rasisme profesi, ini hanyalah sebagai upaya memberikan informasi secara kolektif sehingga muncul sebuah wise taste (rasa bijak) dalam menyikapi persoalan yang terjadi. Gunakan kekuatan yang ada pada diri, tapi selalu perhatikan sebuah saran ini, hati yang menggelora karena panas amarah dan emosi tapi kepala haruslah tetap dingin agar keputusan apapun jangan sampai berujung penyesalan tiada arti.



Wassalam


Depok, 12 Januari 2021
Keriyono, M.Sos 
(Dosen Komunikasi dan Pengajar)