Senin, 05 Juli 2021

CORONA OH CORONA

Melonjak tinggi dan terus meluas kasus covid dalam beberapa waktu terakhir, dan tempat kejadiannyapun merebak, disinyalir covid varian delta (India) yang melaju pesat. Kejadiannya langsung membludak di wilayah Jawa,  pasca liburan idul fitri alias aktivitas mudik tempo hari.

Seharusnya bila sedikit adil, yang harusnya menjadi kambing hitam bukanlah sebuah hari raya kaum muslim (idul fitri) atau tradisi yang sudah sangat melekat yakni mudik, karena terbukti yang dipakai istilahnya covid varian delta dan itu berasal dari India.

Jadi wajar bila ada pertanyaan besar, mengapa orang India masuk ke indonesia. Sedikit nalar yang harus ditularkan agar tidak salah paham. Melarang warga pribumi untuk melakukan rutinitas tahunan, dengan niat dan tujuan silaturhaahmi, padahal sudah sesuai prokes yang berlaku tapi membiarkan bahkan memfasilitasi warga asing yang masuk dan itu rentan dengan penyebaran virus, dan benar saja, kejadian kasus dalam hitungan hari langsung tumpah tuah di sekitar Jawa Bali.

Media pun kembali memberitakan secara masif dan terus update terkini tentang kondisi covid, dari pemberitaan mulai yang kewalahan pihak rumah sakit, baik RSUD maupun rumah sakit swasta, jumlah yang terkena corona makin banyak, banyak yang terpapar tanpa gejala (OTG), ketersediaan ruang ICU dibeberapa rumah sakit rujukan hampir penuh, bahkan sampai pekuburan yang terus terisi tiap harinya. Dijamin bila tiap hari terus-terusan mendapat berita demikian, makin menambah kepanikan bin kecemasan ujung-ujungnya imunitas tubuh menurun drastis akhirnya rawan masuknya virus. (semoga dijauhkan dari wabah ini, aamiin)

Bersikap abai, cuek bahkan tak peduli sama sekali juga bukan sikap yang tepat dan bijaksana. Akan tetapi, menurut banyak pihak, ada asumsi bahwa selagi dibawa enjoy, have fun, jangan stres dan jangan cemas yang berlebihan, maka imun tetap terjaga. Banyak kasus terjadi, kepanikanlah penyebab utama imun menurun, daya tubuh merosot dan akhirnya corona menjadi biang kematian. 

Apakah vaksin menjadi solusi?

Inilah yang terus menjadi bahan pembahasan dimana - mana, baik diruang-ruang kedai, warkop, perkantoran, webinar-webinar domestik, nasional bahkan internasional bahkan dikalangan driver ojol yang kadang timbul rasa percaya tidak percaya akan corona. Tidak percaya, tapi banyak yang menjadi korban alias meninggal, percaya tapi kalau belum merasakan sendiri atau keluarga yang mengalami nampaknya belum percaya dan yakin bahwa corona benar-benar ada.

Kini, pemerintah mengeluarkan kebijakan dan keputusan mengikat agar bisa ditaati oleh semua pihak. Namanya PPKM darurat, biasanya kalau sudah menggunakan nama darurat itu artinya sudah sangat bahaya. Sebab, sudah makin tak terkendali, makin serampangan dan sulit terdeteksi dalam hal penyebaran. Istilah kasarnya, tinggal menunggu korban berjatuhan. Tentu, kita semua tidak menginginkan semua hal tadi. Semua ingin kembali hidup normal, jauh sebelum pandemi ini terjadi. Hidup aman, nyaman bersama orang-orang terkasih.

Kembali kepada ranah vaksin, yang digadang-gadang menjadi solusi ampuh dalam memutus rantai penyebaran sehingga diharapkan dengan adanya vaksin semuanya kembali sedia kala.
Namanya juga usaha, pasti bisa berhasil, bisa gagal atau malah setengah-setengah.
Masyarakat menaruh harap dan keinginan besar bahwa vaksinlah dapat menjadi therapi ampuh dalam menghilangkan virus covid.
Nyatanya, sampai saat ini, keadaan masih belum sesuai keinginan. Bahkan muncul baru lagi varian covid.

Malah ada anggapan, bahwa jelas tidak membuahkan hasil signifikan, lantaran vaksin diperoleh dari China, tapi kini varian yang menggila ialah jenis delta asal India. Akhirnya semua kena prank. Tetap saja korbannya ialah Indonesia. Sikap apatis demikian atau sedikit nyinyir hal yang wajar saja terjadi, sebab memang itulah yang kadang kerap membelenggu orang-orang kecil (rakyat).

Sudah yang menjadi korban orang pinggiran alias rakyat, eh tetap saja disalahkan karena tidak mengikuti protokol kesehatan. Bagi orang kecil inilah simalakama yang sesungguhnya. Taat prokes, artinya tidak punya penghasilan alias tidak makan karena berdiam diri dirumah tanpa aktivitas bekerja. Sedangkan tidak taat prokes ancamannya dobel risk, yakni terpapar covid dan diberikan sanksi oleh satgas covid. 
Emang yah jadi orang kecil hanya bisa disalah-salahin, dianggap biang masalah dan satu lagi yang selalu dikorbankan atas nama kemanusiaan.

Kembali pada fenemona sosial yang kini membuat pengamat hanya bisa gigit jari, lantaran semua teori dalam permasalahan sosial sudah habis dikupas, tapi dalam implementasinya kadang mentok dan hanya stagnan pada titik tertentu. Jadinya, permasalahan ini akan terus terjadi tanpa sebuah penanganan berarti, bila satu sama lain tidak ada kordinasi atau istilahnya main "cuci tangan" tanpa harus memikirkan nasib negeri ini.


Semoga tulisan ini memberikan pencerahan, bukan justifikasi (penghukuman) melainkan untuk membuka mata semua orang bahwa kita masih harus terus berjuang.
Semoga perjuangan kita semua membuahkan hasil terbaik dan kembali pada hidup yang normal.




Sabtu, 03 Juli 2021

DESAHMU MEMBANGKITKAN HASRAT

Derai rambut mengibas sesekali menutupi paras elokmu kasih.

Suara lirih berbisik dari mulutmu membuat bulu roma bangkit seperti gerakan bak lebah memangsa sesuatu serentak.

Matamu yang kadang terpejam, kadang terbuka seiring nada indah merdu dengan gercitan suara alas terdengar sontak menambah suasana syahdu.

gemeretek gigi pun memberi sinyal bahwa ada rasa tak biasa hingga suara itu muncul tiba-tiba.

tanganmu menari-nari ditubuhku, seakan mengikatku kuat tak mau lepas barang sesaat, sungguh keadaan penuh debaran dan detakan jantung, hingga desiran darah begitu deras dan kencang, seperti roda yang menuruni sebuah turunan tanpa bisa dihentikan.

Aroma tubuhmu jelas tercium menyengat hidungku, masuk kedalam sukma batin yang disitu keluarlah khayalan liar bagaimana kalau saat ini kita melakukan rangkaian ibadah surga di atas dunia ini.

Bentang tubuhmu yang tanpa sehelai benang, mengajakku untuk  siap menerkam, membuat diri ini sangat sulit mengontrol diri dan hampir tenggelam dalam samudera kasih sayangmu.


Malam ini pun kuharapkan berhenti sejenak, agar aku puas mencumbui, memelukmu, bahkan sesekali mencium manja setiap lekuk tubuhmu yang mempesona. Aku sudah tak tahan dengan semua yang telah tersaji dihadapanku.



kini.....
kuingin kau ikhlas, 
layani aku dan kita saling berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat.




SKY