Selasa, 27 Mei 2025

BELAJAR JANGAN BOSAN! ATAU JANGAN BOSAN BELAJAR!

Kalimat diatas jika diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari maknanya adalah jangan capek, letih, lelah untuk meng-upgrade/mengasah serta memperkaya pengetahuan.

Belajar tidak berhenti pada saat wisuda, sebab ijazah bukti pernah mengenyam pendidikan. Adapun untuk berfikir maka harus terus dilakukan agar tidak buntu dan stagnan pada keadaan.

Seorang yang berakal maka harusnya lebih manusiawi, bernilai dan berkelakuan yang berbeda dengan yang tidak berakal alias hilang pikiran atau tidak waras (gila). Mentalnya telah kacau dan rusak hingga tidak dapat mengontrol dirinya sendiri. Bukankah dalam Al-Quran, Allah menyindir dengan kalimat apakah sama orang berilmu dengan yang tidak berilmu? Ini namanya satire. 
Sebuah pertanyaan yang tidak butuh jawaban, hanya semata-mata manusia itu sadar dan tahu diri.

Tuhan Yang Esa telah menitipkan akal untuk digunakan berfikir, akan tetapi harus tunduk pada wahyu ilahiah. Dan ini bagian contoh yang dilakukan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam untuk perkara hidup manusia. Tidaklah beliau diutus, salah satu hal utamanya ialah menyempurnakan akhlak.
Sebutan etika, moral, perilaku, tata krama dan lain-lain jika mau diambil satu kata yang mewakili seluruhnya, maka kata itu adalah kata AKHLAK.

Betapa agung serta tinggi derajatnya, apabila manusia menjadikan akhlak menjadi intisari dalam berinteraksi dengan sesama dan juga kepada Rabb-nya. Mulianya akhlak dan dampak yang terjadi sampai peradaban menjadi indah, tatkala semua syariat Islam ditegakkan. Akhlak hanya bisa diwujudkan dengan landasan ilmu dan pengetahuan Rabbani baik melalui Quraniyah maupun Kauniyah. Namun perlu border (pembatas) yang menjadi rem, bahwa manusia hanya memiliki ilmu terbatas, akan tetap Rabb Yang Maha Perkasa Lagi Maha Penguasa ilmunya tak terbatas.
Wallahu alaam

real madrid babak baru era xabi alonso

Pertengahan tahun 2025, komposisi dikepelatihan Real Madrid berubah dari tangan dingin Don Carlo Ancelotti ke seorang bekas pemain madrid yakni Xabi Alonso, sebelumnya menukani Bayer Leverkusen. Dibawah asuhan Xabi, Leverkusen menjelma tim yang cukup menjanjikan dan prestasi liga pun dapat diraihnya. Sebuah modal awal meniti karir menjadi pelatih dikemudian hari. 

Ada beberapa pelatih, yang dahulunya menjadi pemain bahkan tergolong pemain kelas premium. Mengapa dikategorikan premium? Sebab, selain karir sebagai pelatihnya memiliki prestasi dan pengakuan dunia sepakbola, juga pada saat bermain sebagai player pernah menjuarai dan masuk skuat timnas negaranya masing-masing.
Kita sebut saja Pep Guardiola, Zinedane Zidane, Diego Simeone, Simone Inzaghi, Patrick Kluivert dan masih banyak lainnya. Untuk nama terakhir , saat ini sedang mengembang tugas negara +62 siapa lagi kalau bukan pelatihnya INDONESIA penerus STY.

Xabi Alonso kini mengenakan seragam real madrid kembali, namun dipunggungnya tertulis kalimat Coach/Allenatore/ yang diterjemahkan dalam bahasa Indoensia adalah pelatih. Masih terlalu dini jika dibandingkan kiprah Xabi dengan pemain madrid sebelumnya yang juga pernah mengisi pelatih madrid yakni Zinedane Zidane. Semua fans akan mengenang masa kejayaaan Zidane yang memperoleh 3 piala champion berturut-turut.

Apakah gaya bermain madrid akan berubah setelah dipegang oleh Xabi?

Perlu perhatian khusus dan harus mengevaluasi setiap pemain yang ada, dari sisi internal maupun eksternal. Tanpa embel-embel pemain bintang dan mahal dunia. PR nya berat sebab kini pemain madrid sudah tidak diperkuat Modric, Kroos dan gelandang elegan lainnya. Harus segera berbenah dan menjadikan tim putih ini menjadi King Eropa.

Minggu, 25 Mei 2025

Ijazah asli melawan rasional

Secarik kertas tanda tamat belajar yang disebut ijazah kini eksistensinya lebih suci, sakral bahkan keramat. Padahal satu-satunya yang bernilai seperti itu adalah kitab suci dari wahyu Tuhan Yang Maha Esa.

Mengapa bisa terjadi hal tersebut?
Apakah ini kesengajaan yang sudah terlalu lama dan jauhkah?
Ada apa dengan semua ini, kok bisa sih?

Mungkin begitulah beberapa pertanyaan yang muter-muter dalam pikiran kita.

Baiklah kita ulas dari kacamata penulis yang concern pada ilmu sosial dalam perspektif komunikasi.

Pernah mendengar bahwa "satu kebohongan akan membuat 1000 kebohongan"?
Mungkin hal itu memang fakta tak terbantahkan bahkan jika ingin dikatakan benar adanya maka its riil, benar-benwr terjadi.

Jika seseorang sudah berbohong sekali, maka untuk menutupi kebohongannya dia akan berbohong lagi, lagi, terus dan terus begitu sampai mulut tersumpal tanah (mati).

Masalahnya, bohong itu kalau sampai banyak yang menjadi korban kebohongan, karena pengaruh kekuasaan (Intervensi theory) maka yang terjadi akan melibatkan banyak lembaga/instansi. Praktek seperti ini lazim terjadi jika ditemukan kejanggalan dan ketidaksesuaian dalam fakta yang terjadi. 

Betul dalam hidup bernegara, hukum menjadi salah satu penyelesaian ketika ada 2 kubu bersengketa dan masing-masing mempunyai hak untuk menyampaikan pendapat, pandangan disertai argumentasi yang rasional dengan apa yang menjadi problem yang dibawa ke ranah hukum.

Tapi poinnya adalah si penegak hukum, tidak boleh dan sangat terlarang berada pada salah satu pihak, bahkan sengaja menyalahi wewenangnya sehingga membenarkan yang salah, dan menyalahkan yang benar. Lalu berdatanganlah komisi atau balas jasa dari apa yang diputuskan. Inilah sebuah praktek tercela yang tidak boleh terjadi. Akan tetapi idealis dan normatif seperti itu hanya angan dan ingin saja.

Kembali kepada topik yang diatas. Bahwa terjadi konflik soal ijazah yang pro dan kontra. Berkepanjangan dan juga pelik serta penuh dengan intrik. Dari sisi sosial, masyarakat dibuat gaduh bahkan saling hujat menghujat, saling mempermalukan satu sama lain, bahkan lebih buruknya terjadi pembunuhan karakter malah ada yang dibunuh jiwanya.
Kasus Marsinah, Munir, Novel Baswedan (penyerangan namun tidak sampai menghilangkan nyawa) merupakan contoh nyata akan pembungkaman nilai keadilan dan kebenaran.

Ijazah mantan presiden sangat rahasia mengalahkan rahasia hutang negara atau bahkan lebih rahasia dari skandal ex gubernur Jabar. Padahal kedua kejadian akhirnya publik tahu dan menyebar, sungguh ironi yang seharusnya rahasia (privat) malah ke blow up media dan menjadi santapan masyarakat. Giliran yang umum malah menjadi rahasia. 

Cukup dulu uraian untuk pembahasan ini.
Semoga bermanfaat.