Senin, 28 Desember 2020

PERANGAI SUAMI SUPAYA DICINTAI SANG ISTRI (PART 2)

Lanjutan dari seri sebelumnya.
Dalam judul:

"Perangai Suami Supaya Dicintai Sang Istri"(Part 2)

poin selanjutnya ialah:

4. Fokus mengingat kebaikan istri

Mengingat kebaikan istri, dapat menjadi penetral emosi sang suami, bila didapati dirinya sedang merasa demikian. Kebaikan istri tentu saja banyak sekali, dari bangun tidur sampai tidur kembali, maka kebaikannya senantiasa menyelimuti seisi ruangan rumah tangga. Bagaimana tidak, semua yang terjadi selama masih dirumah, maka sang istrilah memiliki peran dan andil besar. Dari urusan dapur, yakni masak - memasak menjadi tugas yang selalu menyertainya. Urusan sumur atau cuci - mencuci pun tidak ketinggalan, Mengurus anak dan semua keperluan suami, urusan apalagi coba, intinya semuanya pasti sepengetahuan makhluk yang bernama istri. 
hebat kan?
pokoknya, sekali istri lepas tangan, semuanya bisa  amburadul dan tak beraturan. Untuk itu, sering-seringlah mengingat kebaikannya, agar emosi tidak terus menerus mendikte kita. Dan akhirnya penyesalan yang terjadi.


5. Memahami Kondisi Istri

Keadaan istri tak selamanya dan seterusnya sehat secara fisik, kadang pun merasakan gangguan emosional juga. Nah, peran suami harusnya bisa membesarkan frekuensi sabar dan memahami kondisi istri bila didapati demikian. Jangan lantas malah menambah beban dan juga pikiran. Istri perlu diberikan perhatian khusus bila ada permasalahan yang dirasa menyita waktu, tenaga dan pikirannya. 
Peran suami yang bukan hanya baik, tapi dewasa lah menjadikan istri merasa tidak sendirian dalam mengatur dan mengurus rumah tangga, tapi adanya kerjasama, teamwork dan sinergisitas yang kuat sehingga semuanya berjalan sesuai rel.

6. Menjadi Teladan dalam kebaikan

Poin ini membuat, suami harus memiliki kecakapan ilmu yang mumpuni, ilmu membimbing istri, ilmu memberikan pencerahan, ilmu yang dibutuhkan oleh setiap istri ketika dirasa diperlukan. Menjadi teladan bukan hanya dari lisan atau ucapan tanpa sebuah contoh nyata, teladan akan berimbas kuat ketika semuanya diberikan porsi sesuai takaran dan kemampuannya. Teladan itu sebuah keadaan seorang istri memiliki nahkoda dalam membersamai biduk rumah tangga yang kompak bersama suami. Suamilah pemegang tongkat instruksi serta komando tertinggi yang harus didengar oleh sang istri selagi tidak melanggar syariat. 

Insya allah akan ada lanjutannya kembali. 


Semoga bermanfaat.

Bekasi, 28 Desember 2020

Keriyono, M. Sos
(Dosen Komunikasi dan Konsultan Rumah Tangga)

Minggu, 27 Desember 2020

PERANGAI SUAMI SUPAYA DICINTAI SANG ISTRI (Part 1)

Kembali hadir dan menyajikan serial rumah tangga dari penulis, yang semoga memberikan manfaat besar dan bermakna dalam kehidupan siapapun yang mengambil faedah dari tulisan tak seberapa ini. Hanya berharap, tulisan ini hadir sebagai upaya penulis memberikan rules (peraturan) untuk semua dan bisa dijadikan contoh dalam berumahtangga yang baik, teratur dan terarah.

Kali ini, pembahasannya ialah tentang perangai (watak, sifat atau biasanya digunakan bahasa karakteristik) dari suami kepada sang istri agar dicintainya.


Beberapa perangai (karakteristik) suami, diantaranya:

1. Memimpin keluarga dengan CINTA.
konsep menarik disini adalah memimpin itu juga melayani, menjadi pemimpin yang baik berarti harus juga melayani. Semua hal kalau sudAh didasari karena cinta maka mampu menaklukkan semua kerumitan, kesulitan yang ada. Yang berat dan mustahil kadang terselesaikan bila sudah cinta hadir dalam hidup ini. Pendorong ampuh dalam setiap keadaan, yakni cinta yang begitu kuat sehingga mampu menerobos apapun penghalang. Modal utamanya ialah cinta kuat, tulus lagi sejati.
Jadi jangan pernah padamkan rasa cinta pada pasangan selama jantung berdetak, aliran darah masih mendesir dan hati berdebar-debar. Itulah kedahsyatan cinta.
The power is love, making you are the stronger and happy in life the world. 
(Keriyono, M. Sos).


2. Mampu menundukkan ego

Poin kedua ini mencoba memberikan pemahaman, bahwa ego akan selalu ada dan kapanpun selalu memyertai siapapun orangnya. Tak terkecuali pemuka agama sekalipun, ketika ego sudah memlnghampirinya maka ia akan menundukkan ego atau malah dirinya lah yang terpedaya dengan ego itu sendiri, akhirnya menjadi budak ego. 

Lalu ego itu apa yah?

ego ialah suatu keadaan yang memperturut diri pada sebuah kerusakan dikemudian hari, dan tak terkontrol dalam emosi jiwa setelah itu barulah menjadi sosok yang mudah marah, berapi-api, bergejolak dalam meluapkan apa yang terdapat dalam jiwa.
Ego itu sulit dihilangkan, tapi bukan berarti tidak bisa ditundukkan. Perlu latihan mengontrol diri, berlatih kesabaran dan yang terutama perlu partner yang siap dan siaga menjadi lawan pengontrol ego, siapa lagi kalau bukan istri yang selalu ada dirumah dan berkewajiban mengingatkan untuk selalu menahan ego.

3. Selalu berusaha membahagiakan istri.

Istri bahagia dalam rumah, maka kehidupan sehari-hari akan terasa indah. Namun, sebaliknya bila ternyata didapati istri malah merana gegara sikap suami, maka rumah tangga jauh dari rasa aman, nyaman bahkan indah pun tidak terasa, yang ada hanya saling maki, mencaci dan penuh dengan sumpah serapah dan itu buruk. Berilah kebahagiaan pada istri, karena dirinya lah kehidupan yang awalnya belum dirasa enak, dirasa jauh dari apa yang dibayangkan kini setelah kehadirannya, pintu-pintu masalah terbuka. 

Insya allah akan ada kelanjutannya.

to be continue.....

still in my blog....coming soon (part 2)

Bekasi , 28 Desember 2020

Keriyono, M. Sos
(Dosen Komunikasi dan Konsultan Rumah Tangga)

TIPS MEMINIMALISIR RASA BOSAN (PART 2)

Pada tulisan sebelumnya, penulis mengupas sekelumit tentang rasa bosan yang menghantui setiap pasangan dalam rumah tangga. Kali ini, penulis mencoba men-sugesti para pembacanya dengan arahan dan instruksi yang sekiranya mampu meredam serta meminimalisir rasa bosan itu. 
Kalau untuk menghilangkan rasa bosan seketika, rasanya sangat mustahil, sebab bosan itu tidak pernah bisa di deteksi kapan hinggap, kapan hadirnya, tahu-tahu bersemayam kemudian menetap bila dikasih izin dan kemudian menjadi komando bagi si empu nya. 

Cek it dot.......

Tᕼᗴ ᗷIᘜ ᑫᑌᗴՏTIOᑎ?
Adakah cara paling ampuh mengatasi rasa bosan dengan pasangan?

Jawabnya: 
Pasti ada dan selalu akan ada solusi dari setiap masalah. Ibarat, seribu masalah datang, maka 1001 solusinya. Kita tinggal dituntut mau berusaha, menjalani lalu berupaya memaksimalkan potensi diri, untuk dapat menyelesaikan masalah atau malah lari dari masalah yang mendera.

Beberapa tips meminimalisir rasa bosan, sebagai berikut: (Keriyono, M. Sos)

1. Fokuskan kembali konsentrasi, bila rasa bosan mulai menyapa. Ingat yah menyapa, bukan hinggap dan nyaman di dalam diri kita. istilahnya bosan itu mengabsen bahwa diri kita menyambut baik-kah atau tak mengubris/cuekin saja, dengan terus fokus sama tujuan hidup kita. Apa tujuan hidup kita? Maka akan beraneka ragam jawaban dari pertanyaan itu. Ada yang jadi orang kaya, jadi artis biar banyak fans, jadi birokrat agar punya kemampuan mempengaruhi orang lain, jadi pemimpin politik agar menguasai dunia dan lain sebagainya. Intinya, fokus...fokus dan fokus. Ingat F...O...K...U....S....

2. Perbanyak waktu dengan kegiatan penuh positif, kebaikan, aktivitas sosial yang mampu membangkitkan rasa empati dan jiwa setiakawan serta solidaritas terhadap sesama. Poin ini nampaknya cukup memberikan siginfikan dampaknya ketika bosan itu hadir. Gabunglah sama komunitas yang sekiranya menjadi semakin enerjik, aktif serta produktif. Komunitas yang mengedepankan sisi kemanusiaan, keagamaan atau pun lain sebagainya selagi tidak melanggar syariat, hukum dan norma yang berlaku.

3. Jadikan keluarga ialah prioritas segalanya. Keluarga adalah modal terbesar dalam semangat bekerja, ibadah dan juga pastinya berkumpul dalam sebuah ikatan kuat. Keluarga mampu memberikan berlipat-lipat semangat dalam melakukan segala hal. Keberadaan keluarga ialah bukti keadaan diri kita berarti dan berharga. Kitalah sosok yang dibanggakan, dihormati dan disegani atas jerih payah dalam bekerja demi keberlangsungan hidup sehari-hari.

4. Dalami ilmu agama, sebagai pengerem, sebagai penahan arus derasnya nafsu yang terus menggerogoti keimanan. Jangan sampai lalai, bahkan menyepelekan fungsi dari agama, padahal hape secanggih apapun bila baterai lowbad maka tiada berguna lagi. Perlu di charge supaya kembali aktif dan mampu melanjutkan kinerja kembali, apalagi kita ini, yang bekerja fisik, tapi rohani terlalu jauh dari siraman menyejukkan qolbu. 

Ittakilah.....(bertakwanlah!)

Inilah beberapa poin yang dapat penulis sajikan sebagai upaya meng-carter rasa bosan. Banyak motivator ulung memberikan pendapat, pandangan, rumus, formula atau apapun namanya tapi kalau diri kitanya tidak ada kemauan keras menghentikan rasa bosan di hati ini, maka semuanya hanyalah isapan jempol dan usaha sia-sia. 

Jadi kuncinya diri kita ini, sembari meminta doa kepada Sang Pencipta agar selalu diberikan petunjuk kepada kebaikan dan kekuatan menahan rasa bosan bila menerpa diri.



Bekasi, 28 Desember 2020

Keriyono, M.Sos

(Dosen Komunikasi dan Konsultan Rumah Tangga)

KETIKA JENUH MELANDA DALAM MAHLIGAI RUMAH TANGGA

Jenuh atau istilah bosan kerap melanda siapa saja tak terkecuali pasangan yang sudah lama menjalani biduk rumah tangga. Rasa bosan memang momok menakutkan bagi sebagian orang, dan merupakan hal biasa saja bagi sebagian yang lain. Tapi rasa ini memang benar-benar ada dan bila sudah terjangkit rasa ini, maka bersiaplah untuk mengambil keputusan terbesar dalam rumah tangga dikemudian hari.

Bosan atau jenuh atau boring itu tak nampak, tak keliatan karena tak berwujud, bukan sesuatu yang bisa dipegang, diraba dan keliatan oleh dua biji mata ini, tapi yang pasti dan jelas ialah terasa saat diri merasakan rasa bosan itu. Sungguh sangat tidak enak dan tak nyaman. 

Tulisan ini sengaja penulis sajikan untuk memberikan sebuah pemahaman dan sedikit pengetahuan untuk bisa keluar dari jeruji rasa bosan bila terhinggapi. Benar adanya, bila rasa ini terjadi pada seseorang maka tinggal menunggu waktu saja menentukan langkah masa depan dalam rumah tangga yang terbina selama ini.

Bosan itu harus dilawan dengan benar-benar diri paham akan penyakit ringan tapi berimbas besar pada kehidupan. Contoh bosan pada rumah tangga dapat dilihat dari beberapa indikasi yang telah, atau terjadi pada pasangan kita, diantaranya sebagai berikut:

1. Mulai dengan sudah kehilangan rasa percaya diri dihadapan pasangan karena menyiapkan topik pembicaraan yang kadang sudah usang atau diulang-ulang sehingga ada kejenuhan bila harus berkomunikasi. Ini kadang awal muasal terciptanya rasa bosan itu sendiri.
Banyak kasus kejadian ini menyebabkan perselingkuhan terjadi. Mencari kenyamanan dalam hubungan tanpa memikirkan dampak buruk yang terjadi. 

2. Mulai tiada gairah dalam urusan apapun. Kehilangan mood, kehilangan faktor penyemangat dalam membina rumah tangga karena ada rasa hambar ataupun rasa sudah tak menarik lagi seperti diawal pertama kali jalinan kasih sayang dalam pernikahan. Ini pun merupakan keadaan terbanyak yang kerap terjadi pada saat ini.

3. Merenggangnya jarak komunikasi baik verbal (lisan) tapi masih berusaha berkomunikasi non verbal (tulisan, chat bahkan media sosial lain) sebagai pengugur kewajiban saja, tanpa ada keseriusan dalam membina hubungan sehingga rasa jenuh itulah yang lebih dominan. Ini pula kerap ada dan terjadi di era komunikasi yang serba canggih dari alat dan teknologinya. 

4. Godaan dari pihak luar yang telah menembus batas komitmen dari setiap pasangan yang sudah lebih dulu ada. ini pula menjadi dilematis yang selalu saja menyebabkan biduk rumah tangga karam atau retak. Bahasa mudahnya yang senantiasa tersaji ialah perselingkuhan atau istilah pelakor menjadi perkara yang tidak bisa dibendung ketika seseorang sedang dirundung ujian ini.

5. Kendurnya keyakinan sehingga berimbas pada menurunnya kadar iman seseorang sehingga prinsipnya, komitmennya, janjinya merasa tertindih dengan rasa bosan ini dan akhirnya mencari kepuasan diluaran sana sehingga lupa siapa dirinya. Mulai dengan coba-coba, iseng-iseng sampai ada tahap serius dan akhirnya masuk pada jebakan yang tak bisa lagi keluar dari kubangan bosan itu.

Dari poin 1 sampai 5 tentu saja tidak baku dan tidak final, tapi ada saja temuan lain dari keadaan rasa jenuh atau bosan yang melanda siapapun itu.

Lalu bagaimana mengantisipasinya bila rasa itu ada pada diri ini?




nantikan artikel selanjutnya.

Semoga bermanfaat.

Keriyono, M.Sos
Dosen dan Konsultasi Rumah Tangga

Sabtu, 26 Desember 2020

PRO DAN KONTRA MTR

Akan selalu ada yang berposisi Pro dan pasti juga yang kontra. Apa sih pro dan kontra? Klo pro itu berpihak, pendukung istilah dibagian yang mensupport, membela dan pastinya memberikan segala perhatian pada sesuatu yang dianggap sesuai dengan pemikirannya, pandangan hidupnya.
Adapun Kontra ialah keadaan sebaliknya dari Pro. Kontra penolak, berbeda pandangan, tidak sejalan dengan pihak Pro lalu memiliki argumentasi yang berbeda pula. (Keriyono).

Untuk urusan sederhana saja, akan selalu kita temui perbedaan pandangan. Apalagi urusan suci lagi mulia yakni, aktivitas dakwah. Akan banyak sekali yang mencoba memberikan opini, komentar atau pun sebuah analogi yang saling mempengaruhi. 

Tulisan ini mengangkat tema MTR (Masyarakat Tanpa Riba) yang bagi sebagian orang yang Pro baik yang berada di dalam lingkaran (panitia) maupun simpatisan maka akan mengatakan dan berasumsi bahwa MTR ialah upaya memberikan penyadaran bagi siapapun itu untuk menjauhi perbuatan Riba. Pembahasan riba sangat banyak dan sangat jelas oleh para pakar hukum syari dan mudah diakses karena sudah banyak tersebar di media sosial. Fokus kenapa harus Riba, oleh pegiat MTR karena untum memulai sesuatu yang jauh melangkah maka dibenahi dulu perkara ini sehingga kedepannya akan terbuka keberkahan. Dan ini pun, bukan pendapat kelompok semata melainkan sudah ada ajaran dan anjurannya dalam dien yang mulia lagi tinggi ini. (Baca: Islam).

MTR hadir pasti dengan niat hanya memberikan knowledge (pengetahuan) pada siapapun terhadap buruknya Riba dalam muamalah sehingga Riba adalah sesuatu perkara yang harus dilepaskan oleh mereka-mereka yang sadar akan ketidakberkahan bahkan ketidakridoan Sang Kholiq dalam lingkaran setan bernama Riba.

Banyak yang mengambil manfaat dan faedah dari keberadaan MTR dan tentu saja akan selalu ada yang menyinyir pula. Diantara nyinyiran yang sering terlihat di grup ialah sebagai berikut:

1. Grup MTR ini hanya mencari untung dari kepolosan para insan yang sedang dirundung nestapa karena lilitan hutang, hanya disuguhi ceramah-ceramah, goyang-goyang dan sesungukan nangis ketika harus dibawa kepada suasana gelap dan alunan nada yang mengiris hati. 

2. Katanya Dakwah, katanya mengajak kepada kebaikan tapi kok mahal. Harusnya dakwah tak bertarif, karena dakwah harusnya lillahi taala. Bukan, hanya ajanh pamer dan unjuk kekuatana secara finansial. Bahkan hanya ajang berbuat dirilah semakin paling...paling...padahal semuanya hanya nihil.

3. ANALOGI (Perumpamaan) yanh dibasa bahwa RIBA itu sudah sesuai akad diawal jadinya bukan perkara yang merugikan. Dan pendapat-pendapat lainnya sehings MTR hanyalah dianggap kumpulan orang-orang aji mumpung untuk mendapatkan sedikit keuntungan disaat orang sedang galau dengan hutang.

4. MTR ialah kelompok yang mengambil kesempatan dan keadaan dari posisi orang yang kalut dengan permasalahan dengan niaganya (pengusaha), dikejar debt collector dan belenggu hutang yang menumpuk dan juga dibuat tidak nyaman dalam hidup.

5. MTR itu cuma menjual fiksi dan sekedar ucapan bohong belaka tanpa bukti yang kongkret bahkan semua jualannya hanya untuk memperdaya anggota lainnya.


Itulah kiranya beberapa point yang tidak suka atau kontra dengan MTR. Tentu masih banyak lagi beberapa pendapat laim yang bersebrangan dengan visi misi MTR itu sendiri. 

Penulis pun hanya menginginkan tulisan ini berbuah manfaat, agar yang membaca tulisan ini semakin bijak dalam berpendapat, membuka sedikit cakrawala berfikir agar tidak selalu close minded melainkan open minded. Jangan mudah menghukumi bila belum tahu kebenarannya dan tidak berasumsi yang tidak jelas darimana berdirinya.

Demikian tulisan ini dibuatkan sebagai upaya memberikan pencerahan kepada siapapun itu.

Bekasi, 27 Desember 2020
Keriyono, M.Sos
(Dosen Komunikasi)