Selasa, 26 Januari 2021

AYAH SIBUK, IBU TAK PUNYA WAKTU, ANAK ASYIK DENGAN DUNIA MAYA

Fenomena keberadaan Medsos (Media Sosial) saat ini sudah tidak mungkin terbendung lagi. Bahkan, mustahil diatur sedemikian rupa, agar tidak mengubah mindset, paradigma individu, karena semuanya sudah menjalar, menyebar seantero pelosok, bahkan sampai ke tempat-tempat terpencil. Mau menutup mata alias cuek, maka akan tergerus arus informasi yang cepat, masif dan dinamis. Atau mau menjadi bagian dari Medsos itu sendiri (influencer) maka tetap saja ada resiko yang diterima. Salah satunya, tidak menjadi dirinya sendiri, karena harus menyesuaikan dengan keadaan dan minat pasar yang di maui agar diterima dan dijadikan figur.

Rumah-rumah yang saat ini beratapkan genteng, berplafon, berkeramik, berpintu, berjendala yang semuanya sama. Dan yang tidak bedanya lagi ialah sama-sama mempunyai alat bernama gadget/gawai.
Semuanya menggunakan teknologi dalam rangka memudahkan urusan hidup, dan menjadikan semuanya serba instan, praktis dan efisien waktu. 

Tidak sedikit keluarga yang menaruh benda ini (gadget) sebagai perangkat utama dalam keluarga, sampai semua urusan tidak bisa lepas akan benda kecil ini, namun dapat mengubah segalanya. 
Dikala sebelum pandemi saja, kehadiran gadget menjadi primadona dalam menjalani kehidupan sehari-hari apalagi saat ini terjadi pandemi. Semua aktivitas seperti bekerjanya si Ayah, menyelesaikan tugas kantornya si Ibu, bahkan tugas-tugas kampus, sekolah dan lain sebagainya melalui online. 

Efeknya luar biasa menjadikan habit (kebiasaan) baru serentak dan massal. Ini pula yang menjadi sesuatu keadaan baru (new normal life). Semuanya menyesuaikan diri, karena memang taruhannya ialah nyawa dan jiwa. Tidak patuh Prokes, virus mengintai. Abai atau tidak peduli sama sekali bukan sebuah solusi bijak, melainkan tetap berusaha sebaik mungkin serta berharap badai ini cepat berlalu.

Ada fakta yang mencengangkan bila dibuat hal ini perlu perhatian khusus, tapi bisa jadi hal biasa saja, karena memang semuanya sudah menjalani kehidupan ini, di era yang serba canggih. Mengutip beberapa referensi, bahwa saat ini, kita berhadapan dengan generasi akhir, biasanya disebut generasi milenial, generasi instans, generasi Z, generasi 4.1 dan banyak pula sebutan lain. intinya, semuanya itu mengarah pada sebuah pola pikir, pola tingkah laku yang lebih dominan individualistic (perorangan).

Ayah sebagai kepala keluarga masih sebatas jargon, karena nyatanya banyak yang mencukupi diri memberikan perhatian materi namun tidak immaterial.
perhatian materi ialah sesuatu diukur, ditimbang dengan money (uang) adapun perhatian immaterial ialah sentuhan, pelukan dan ucapan motivasi seraya memuji akan kepandaian anak dalam suatu hal. Itu pun menjadikan anak merasa diakui keberadaannya dan meningkatkan kepercayaan diri si Anak. Intinya, Ayah harus peka dan maubsedikit menyiapkan waktu bersama buah hati. Buat si Anak merasa Ayahnya-lah laki-laki yang selalu ada saat suka maupun duka.


Ibu ialah sosok wanita terhebat sepanjang sejarah manusia yang berstatus anak. Artinya, ibu yang berjuangan dalam semua-semuanya. Pengasuhan, perawatan, pendidikan dan lain sebagainya menjadikan ibu sebagai "madrosatul awwal fii baiti" ( pendidikan awal/pertama dalam keluarga).
Janganlah membiarkan anak tanpa pengawasan, sekalipun ada embel-embel sudah usia baligh, dewasa atau istilah sudah bukan anak kecil lagi. Ini, hanya untuk kehati-hatian dan waspada dalam menjalani roda kehidupan.

Sebagai anak, harus taat dan patuh dengan semua peraturan yang dibuat oleh keluarga. Semata-mata untuk melindungi pengaruh buruk dari luar, sekalipun ada konflik, maka selesaikan dengan bijak dan arif serta komunikasikan dengan baik. Ingat, bahwa semua masalah pasti ada solusinya. 





Bekasi, 27 Januari 2021

Keriyono, M. Sos (Dosen Komunikasi dan Guru)

Senin, 25 Januari 2021

SEDENGAN WAE (Yang pas pas sajalah)

Setiap hari aktivitas penulis, selalu berebutan jalan, karena memang sebagai pengendara roda dua, dituntut ke tempat kerja sebagai sebuah keharusan. Ingat yah, keharusan. Bukan sebatas kewajiban atau malah penggugur dari tanggungjawab. Sebagai seorang mukmin, pantang dan tidak ada dikamus, menjadikan pekerjaan sebagai beban. Justru pekerjaan bila dinikmati dengan hati senang dan riang, penyakit bakalan minggir. (Gayanya lagi megang pinggang hehehehe)

Tadi pagi, saat berkendara  dijalan bilangan Depok, di depan ada truk dengan qoute (tulisan) jawa kurang lebih yang teringat begini:

"uripku tak setel sedengan, banter arep nguyah sopo, alon yo ngenteni sopo"

terjemahan :

hidupku dipasang yang tengah-tengah, kenceng mau mengejar siapa, pelan mau menungguin siapa"

Sepintas kata-kata itu membuat penulis merasakan sebuah inspirasi dan akhirnya menulis sambil berfikit tema nya apa yah. Jelas, tema nya hidup pas-pas an saja tidak usah berlebihan juga jangan berkekurangan.

Jadi inget Vety Vera, mbakyu ne Si Alam embah dukun, yang punya tembang "sedang sedang saja" awal 90-an. Penulis saat itu masih ingusan karena masih diusia belia. Heeee

Hidup berlebihan kadang menjadi petaka, bila dijadikan tujuan dan akhirnya jadi budak dunia materialistis. 
Hidup kekurangan juga pastinya tidak enak, bakalan merasakan kesulitan sana sini. Padahal idealnya, tengah-tengah saja istilah yang familiar adalah ga kaya ga juga kismin eh miskin. Pas-pas an namanya. 
     Pas butuh ada
          Pas perlu sedia
             Pas pengen udah di depan mata
                  Pas kepikiran tau-tau ada


Hidup yang paling ideal, ialah ketika mampu menjadi dunia ini sebagai ladang amal ibadah, yang kelak panennya kita tuai dikampung akhirat. Ibarat petani, kita cuma bisa menanam benih, biarlah hasil panennya, kita rasakan di akhirat. (standar hidup orang yang mengaku umatnya nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalaam)

Jadi jangan takut hidup tidak kaya yah, atau hidup miskin. Tapi takutlah kalau menjadi kaya, tapi lupa tugas kita di dunia. Hidup cuma semantara, ibarat main sepak bola, tidak bakalan sampe 2 jam nonstop, pasti ada rehatnya, bahkan ujung-ujungya bubar alias selesai permainan itu. Dunia juga gitu hanya tempat bermain, sendau gurau dan sementara. Jangan terlena dan terbius dalam-dalam sampai semaput lalu lupa kembali ke tempat yang ada awal tiada akhir. 



Minggu, 24 Januari 2021

GURU JUGA MANUSIA BIASA

Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh

GURU Bukan Robot apalagi Belati
Oleh : Keriyono, M. Sos

Teruntuk jiwa-jiwa yang terpanggil secara sadar maupun masih dalam proses, menjadi sosok pribadi seorang pejuang dengan titel GURU.

Berjuangnya GURU, bukan dengan senjata bedil maupun meriam bersuara menggelegar, tapi dengan ide, gagasan, pemikiran serta sebuah pencitraan baik (role model) yang memang harus melekat supaya ter-shibghoh (mewarnai) siapa saja, khususnya peserta didiknya.

Guru itu kerjaan enteng, kalau dibuat enteng dan sekedarnya saja. Tapi bisa juga kerjaannya berat mengalahkan pandai-pandai besi yang kekar hingga keluar semua tenaga dan cucuran keringat. 

Kok bisa berat sih?

Guru punya 24 jam dalam 7 hari membina, mengontrol, memantau, membimbing, mengawasi, memandu, memberi contoh, menyemangati dan me ...me lainnya yang semua tentu muaranya IKHLAS
(insya allah).


Guru dipandang hina, silakan.
Dianggap mulia juga silakan, karena prinsip dari diri yang Tulus ialah hanya sedih, berat hati ketika diri menjadi insan yang cuma keliatan bagus dimata manusia lain, tapi ternyata kedok semata dan di hadapan Rabb hanyalah butiran debu yang hilang seketika tertiup angin.
Jadilah sosok yang terkenal di penduduk langit, dan tak perlu mencari susah payah terkenal di penduduk bumi.


Harapan kita semua, baik itu GURU, bukan Guru sekalipun, ketika melakukan aktivitasnya selalu sematkan bahwa ini harus bernilai ibadah. Agar semua tidak sia-sia dan nantinya kita tuai sebagai bekal menghadapi Illahi Robbi.


Semoga ada peneguh, penguat dan pengikat dari uraian diatas bagi siapa saja yang mengambil manfaat. Aamiin🤲🏼🤲🏼

KISAH INSPIRATIF (MUSUH TERBESAR SAAT GURU)

Bismillahirrohmaanirrohim.

Deskripsi tentang guru, sudah banyak diulas dan diuraikan dan tersimpan rapih dalam mesin pencarian google. 
Mau yang bagus-bagusnya guru, mau yang dibahas hebatnya jadi guru ataupun semua yang beropini As Teacher is Very Excellent for life.

Tapi, ada juga yang memberikan pandangan sebaliknya, menyinyir bahkan memberikan stigmatisasi yang kadang mendeskreditkan (intimidasi) bahwa guru hanyalah profesi mengajari anak tapi tifak meng-kaya-kan (baca: membuat kaya).
Belum lagi disaat keadaan pandemi seperti ini, guru menjadi sosok yang terkadang menjadi bulan-bulanan dari adanya complain (keluhan) permintaan dari walimurid, salah satu keluhannya untuk tidak mengajarnya monoton serta hanya terkesan instruksi perintah penugasan.

Baiklah, fokus pada apa yang ingin penulis sajikan, yakni adanya salah satu musuh terbesar bagi seorang pendidik (Guru).

Menurut pengalaman dan sedikit analisis ringan, bahwa musuh terbesar siapapun ialah diri kita sendiri (self). Dalam hal ini, sesuai dengan Psikologi Manusia, yang harusnya dilawan untuk pertama kali dalam masalah ketakutan adalah rasa takut yang tumbuh di diri manusia itu sendiri. 

Sebagai pendidik (Guru) musuh terbesar yang kiranya dapat menjadi intropeksi diri ialah rasa merasa cukup dengan apa yang sudah ada, baik yang sifatnya knowledge, cara mengajar, dan mencukupkan diri tanpa ada niatan menambah serta memperkaya diri dengan banyak pengetahuan.

Mengapa oleh penulis dirasa sebagai musuh terbesar bagi guru yakni guru tidak mau belajar lagi seakan menjadi guru sudah titik tertinggi. Jawabnya, karena hal itulah yang menyebabkan diri kadang menutup diri dari kritik, komentar dan masukan. Merasa diri lebih dari semua yang ada, dan itulah keadaan yang kadang tidak disadari oleh guru.

Niat dan tujuan dari penulisan ini tidak lain dan tidak bukan ialah mengingatkan diri penulis sebagai pendidik juga, maupun kepada semua insan-insan yang telah menjadi guru bertahun-tahun dan tetap bertahan dengan semua ini.

Rabu, 13 Januari 2021

DILEMATIS PJJ BAGI SEKOLAH SWASTA

Sekolah di Indonesia dari segi kedudukan di mata negara hanya ada 2 status, yakni sekolah negeri dan sekolah swasta. Betapapun hebatnya kurikulum sebuah sekolah, tetap saja pengakuan kementrian terkait menjadi hal yang mutlak harus disetujui.
Artikel ini tidak dalam rangka menilai mana yang lebih baik antara sekolah negeri atau sekolah swasta. Namun, hanya untuk memberikan pandangan yang objektif sehingga masing-masing bebas memiliki opini dan pandangan khalayak ramai. Poin penting dari penjabaran disini, ialah tentang esensi sekolahnya, bukan sekedar masalah status. 

Semua sekolah dibangun, dan diselenggarakannya proses belajar mengajar, pasti tujuan utamanya ialah mencerdaskan kehidupan bangsa, yang itu merupakan wujud harapan pendiri bangsa tercinta. Betapa pentingnya nilai dari pendidikan itu sehingga menjadikan pendidikan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
 
Komersial alias pendapatan keuntungan semata harusnya tidak menjadi prioritas utama dalam pembangunan sekolah di manapun berada. Sebab, itu dapat menciderai dan mengikis rasa keikhlasan. Bukan lantas tidak berhitung kalkulasinya, tapi tetap mengedepankan niat suci dan mulia, yakni membangun peradaban yang madani.

Kehadiran sekolah swasta, bukanlah dalam rangka menyaingi mutu, pengambilan jatah bantuan dari pemerintah, atau sekedar kompetitor tanpa kualitas dengan sekolah negeri. Tapi, lebih pada esensi memberikan kontribusi nyata bermuara kecerdasan intelegensi, emosi dan spiritual. Artinya, antara sekolah negeri dan sekolah swasta harus terjalin sinergisitas yang handal dan berbobot, sehingga cita-cita dalam kehidupan bernegara dapat tercapai.

Agar sekolah swasta dapat bersaing, tentu harus juga memiliki prinsip yang jelas dan terarah serta terukur. Persiapan dalam merancang pendidikan, menjadi hal yang mutlak ada, dalam visi dan misi sekolah tersebut. Tidak perlu menutup diri atau ekslusif yang hanya menimbulkan banyak pertanyaan, yang pada akhirnya keluar dari koridor semestinya. Hal tersebut, tentu tidak diharapkan oleh siapapun.

Kembali pada pembahasan yang dijadikan judul di atas, penulis ingin membahas dilematis KBM (PJJ) bagi sekolah swasta.
Apa saja dilematis itu? 
Silakan disimak sampai habis, agar tidak gagal paham dan salah persepsi.

1. Ketergantungan dari pihak luar (investor).

Investor ialah orang atau kelompok yang memberikan sumbangsih berupa bantuan nyata, dapat berupa uang tunai, bantuan materi dan lain-lain, sehingga operasional sekolah swasta dapat berjalan dan terus berlangsung. 
Kesan ini akan nampak jelas, bahwa investor merupakan hal terpenting dalam urusan keberlangsungan masa depan sekolah swasta. Istilah lebih jelasnya, ketergantungan yang sifatnya mutlak, karena tanpa investor semuanya menjadi terhambat bahkan menjadi gagal berkembang. Hampir semua sekolah swasta yang keadaannya serupa disebutkan diatas, maka itulah kenyataannya. Bahkan, ada juga yang berdiri dengan menggunakan icon atau nama besar tokoh, sehingga menjadi daya tarik orang diluar supaya berbondong-bondong masuk ke sekolah tersebut. 

2. SPP is important
Bagi sekolah swasta yang tidak bergantung pada investor, maka pembiayaan operasional sehari-hari di dapat dari kolektif dana masuk yang tiap bulan disetorkan oleh pihak kedua (baca: walimurid) namanya SPP. 
SPP itu penting, bagi kelangsungan operasional sekolah swasta. Jadi, tidak dipungkiri bahwa SPP lancar maka KBM dapat berjalan lancar dan kondusif, tapi bila SPP macet, maka dipastikan KBM pun terkendala. Pokoknya SPP itu kewajiban Walimurid, dan hak yang didapat ialah proses pembelajaran yang diterima oleh peserta didik.

3. Terbelahnya 2 kongsi walimurid.

Orangtua murid akan selalu terbagi menjadi dua kubu, yakni kubu pro PJJ dan kubu kontra PJJ. Bagi yang pro PJJ berkilah dan berargumentasi, umumnya  demi terputusnya penyebaran virus corona. Jadi, PJJ harus diselenggarakan karena tidak ada cara lain yang lebih aman. Adapun, yang kontra dengan PJJ alasan terbesarnya CAPEK.
Dan untuk penjabaran kata CAPEK, penulis menguraikan demikian, capek tenaga, capek fisik, cape pikiran dan cape segala-galanya. 
Capek tenaga karena sudah mengerjakan tugas rumah (cuci, masak, setrika, dll) masih harus mengawasi, membantu dan menemani anak untuk belajar. 
Capek Fisik, sudah pasti terasa sebab menjadi rangkap-rangkap tugas akhirnya fisik yang drop.
Capek pikiran, sebab naluriah seorang ibu ketika anaknya kesulitan dalam apapun itu, pasti rela berkorban. Intinya, semua hal itu membuat ibu merasa tidak nyaman. 
Kebayangkan, bila dalam rumah rangga tidak harmonis bisa-bisa anak belajar dilepas begitu saja. Belajar syukur, tidak belajar ya sudahlah. 

4. Sekolah dituntut berinovasi

Monoton, mungkin itu kata yang dapat disematkan ketika awal-awal PJJ diadakan. Pembelajaran menjadi sesuatu yang membosankan, sebab hanya bersifat satu arah, yakni guru menjelaskan tanpa ada feedback dari siswa. Ini, yang kemudian menjadikan beberapa sekolah membuat perubahan, seperti adanya interaksi langsung sekalipun hanya dengan media hape/laptop menggunakan aplikasi jejaring dengan basis internet. 
Sekolah pun memberikan kesempatan para dewan guru untuk mencoba memberikan ruang gerak improvisasi dalam belajar, seperti membuat video pembelajaran dengan model pembelajarannya guru tersebut dan menggunakan aplikasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan guru tadi. Mencari referensi yang begitu banyak sambil browsing-browsing dalam rangka membuat PJJ menjadi hidup dan menarik.

5. Belajar Versus GAME

PJJ itu memang antara belajar dengan bermaim game naik online atau offline menjadi saingan tak terpisahkan. Dua jam belajar online, namun sisanya lebih banyak bermain game, jika orang tua yang kurang ketat dan tidak membuat kesepakatan, maka yang banyak dan sering dijumpai sambil belajar pun, bisa sambil bermain. 
Teralihkan, enaknya belajar dengan asiknya bermain game yang berbagai macam bentuk permainan. Ada game yang memang dibuat untuk mengasah otak, namun jika keterusan dan mengaggap game nya menarik dan seru, maka pembelajaran yang telah dibuat gurunya sama saja tidak berarti. 



Demikianlah, beberapa dilema yang telah dirangkum untuk diambil manfaatnya bila ternyata didapati faedahnya.
Semoga berkenan dan dapat dimaklumi adanya. Terima kasih banyak telah menyempatkan waktunya membaca tulisan ini.



Wassalam


Keriyono, M.Sos
(Dosen Komunikasi dan Pendidik)

KOMPILASI PROBLEM ORANG TUA MURID TERHADAP PJJ DISAAT PANDEMI

A. Latar Belakang

Compilation atau kompilasi adalah gabungan antara satu objek dengan objek lain, sehingga menjadi kesatuan yang mengikat atau mudahnya kumpulan yang tersusun secara teratur (Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI). Sedangkan, problem adalah masalah (english word). Masalah kerap terjadi, dalam hal apapun juga, sebab semua kehidupan tanpa masalah bukan hidup, bahkan mati sekalipun tetap masalah, bila selama hidupnya tidak membawa amal kebaikan dan kebajikan antar sesama.

Jika digabungkan, maka dapat diterjemahkan bahwa kompilasi problem ialah kumpulan masalah yang telah disusun sedemikian rupa sehingga mampu dipahami dengan mudah bagi pembaca. 

Artikel ini, mengangkat sebuah tema yang masih menjadi pembicaraan sekalipun tahun telah berganti, namun tetap belum mampu melakukan pembelajaran di sekolah seperti biasanya sebelum pandemi. Padahal, semula sudah diberikan sebuah keputusan bersama oleh mentri terkait tentang pembelajaran tahun depan, yakni semester 2 yaitu PTM (Pembelajaran Tatap Muka). Namun, akhirnya harus kandas karena badai corona masih bertahan di tanah air yang tercinta Indonesia.

Orang tua murid/walimurid pun sempat geram dengan keputusan yang berubah dari PTM ke PJJ semula seperti di semester 1. Banyak keluhan yang dirasakan dengan cara belajar jarak jauh yang sangat monoton, kaku dan sulit dipahami sebab hanya bersifat satu arah (one way). Orang tua murid merasa harus double job, sebab selain telah membayar uang tiap bulannya ke sekolah, juga harus mengajarkan anaknya dirumah. Urusan rumah kadang kala terbengkalai sebab konsentrasi menurun dan kurang fokus. Hampir semua orang tua yang memang hanya dirumah, alias tidak beraktivitas seperti kerja dikantoran maka 
syndrome stress sudah siap menerkam siapapun orang tua murid.

Pandemi memang luar biasa efek dan dampaknya. Tidak lagi pada ranah mikro, melainkan makro environment terkena implikasi yang dahsyat. Semua aspek kehidupan manusia menjadi terhambat bahkan stagnan, sebab semuanya menjadi terkendala akibat pandemi yang berkepanjangan. Bila, tidak ditangani demgan seksama dan teruji, maka semua akan berdampak fatal untuk keberlangsungan hidup manusia umumnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja kompilasi problem orang tua murid yang terjadi saat pandemi?
2. Bagaimana cara keluar dari zona tidak nyaman (uncomfortable) dalam belajar anak murid?

B. Pembahasan

1. Kompilasi problem orsng tua murid yang berhasil ditemukan di lapangan baik secara virtual berupa chat, berita maupun kumpulan redaksi yang sesuai dengan tema maka dapat diambil beberapa point, sebagai berikut:

a. Menyayangkan kenapa harus PJJ lagi padahal selama 1 semester lebih, malah kalau diingat, sudah hampir 10 bulan belajar menggunakan perangkat gawai (gadget), selalu memakai aplikasi zoom, gmeet, dan lain sebagainya sebagai perantara dalam belajar secara online. Awalnya sih, semangat, sebab baru pertama kali dalam sejarah secara serentak se- Indonesia belajar menggunakan layar, yakni layar hape, layar infocus dan layar tancap kalau kurang besar, celoteh dari walimurid yang merasa kesal dan kecewa cara belajar saat ini. 

b. Keluhan yang kerap terjadi dan hanya dialami oleh sekolah swasta ialah komplainan terkait SPP yang harus dipotong atau disesuaikan karena memang keadaan ekonomi langsung berubah. Tentu, sebagai instansi pendidikan yang tidak mengejar untung rugi semata, kebijakan pun disesuaikan demi kemaslahatan bersama. Keadaan ini, menjadi simalakama bagi instansi pendidikan yang masih bergantung pada bayaran tiap bulannya. Kadang, masih bersyukur ada investor yang bersedia menutup celah itu, sehingga tidak merembet kemana-mana, tapi kalau pandemi ini berkepanjangan, maka pihak investor merasakan imbas yang juga membahayakan bagi dirinya. 
 

Senin, 11 Januari 2021

PJJ MENYISAKAN SESAK DAN SESAL

PJJ yakni Pembelajaran Jarak Jauh yang sudah berbulan-bulan ini dilakukan oleh semua instansi pendidikan, dimanapun berada. Nama lainnya bisa belajar dalam jaringan (daring) atau KBM On-line atau Pembelajaran Tidak Tatap Muka Langsung, Pembelajaran Virtual atau ada juga yang menamakannya Belajar Non Konvensional.

Istilah-iatilah diatas sudah umum dan menjadi hal yang sama makna dengan belajar dengan cara baru (New Learn in Life). Belajar dengan gaya seperti disebutkan diatas, ialah untuk mencegah, mengurangi resiko paparan, memutuskan rantai penyebaran virus covid-19 yang melanda seantero dunia belahan manapun, tak terkecuali republik tercinta yakni Indonesia. Sungguh sebuah keadaan tidak mudah, bagi siapapun dari aspek kesehatan, pendidikan, ekonomi atau aspek kehidupan lainnya.

Tulisan artikel singkat ini, mencoba memberikan pandangan yang terlihat nampak nyata dari perspektif Tenaga Pendidik (Guru) terkait hal itu semua. 
Ada beberapa yang coba dikupas dan dirasakan dari penulis, sebab sehari-hari berkecimpung di dunia yang konon dunia pendidikan ialah dunia yang luar biasa istimewa dan hebat. Salah satu keistimewaan guru ialah bila sudah menginjak kepala empat atau usia (40-an) maka akan nampak beda dengan mereka-mereka yang bekerja di kantoran dari sisi tampilan fisik luar. Bila menjadi guru masih saja terlihat segar dan awet muda, dan bila bekerja di kantoran bisa sebaliknya. Ini bukan mitos atau khayalan semata penulis, melainkan sebuah fakta.

Fenomena yang terjadi selama PJJ sebagai berikut:

1. Guru dituntut memberikan kreasi dan improvisasi dalam mengajar selain disesuaikan dengan materi yang telah disusun kurikulum, guru juga harus menjaga ritme antusiasme dalam belajar peserta didik. Jujur, poin ini sangatlah sulit, karena dalam pengalaman kuliah dahulu, tidak ada mata kuliah atau simulasi yang sesuai dengan keadaan ini. Situasi Covid-19 menjadikan semua para pendidik, memutar otak demi berlangsungnya pendidikan sambil berkreasi dalam menyampaikan konten materi. Inilah yang kita sebut tantangan (challenge) dalam menghadapi globalisasi yang tidak pernah terukur sebelumnya. Semua unsur dalam pendidikan atau stakeholder (yayasan, sekolah, guru, walimurid, komite sekolah sekaligus pemerintah) harus terlibat aktif dan se-komando dalam menerapkan pendidikan jarak jauh. 

2. Guru hanyalah manusia biasa yang selalu berupaya keras dalam pengajaran dan penyampaian materi belajar dapat dipahami oleh semua anak didiknya. Tidak menginginkan lebih dari itu semua. Bahkan, cepat tidaknya siswa menyerap apa yang disampaikan sang guru, bila tidak diiringi dengan adab dan etika pada sang guru, maka bisa jadi keberkahan ilmu tidak akan sampai pada si anak tersebut. 
Kuncinya adab atau istilah yang umumnya ialah sopan santun terhadap seseorang yang mengajarkan pada kita ialah patuh, tunduk dan juga respect.
Faktanya, banyak ditemukan, para siswa/siswi yang kehilangan rasa ini, entah disadari ataukah tidak. Semuanya merasa seperti berjalan maunya sendiri. Tidak takut dengan aturan yang berlaku, semua peraturan hanya untaian kata-kata yang dibuat tanpa sebuah ketaatan. 
its real.

3. Guru sebagai garda terdepan dalam pendidikan bagi peserta didik, namun ketika PJJ ini muncul maka yang terjadi keputar balikan posisi dan peran bahkan pengambilan fungsi malah ada juga penambahan kegunaan dari adanya orang tua. Orang tua merangkap dari semula orang tua dirumah, juga menjadi guru dirumahnya. Istilah guru sebagai orang tua ke-2 disekolah telah sirna karena PJJ ini, menggeser keadaan demikian. Kalaupun tidak sirna berarti terkikis perlahan-lahan. Inilah sebuah kenyataan yang tidak dapat ditampik lagi bahkan banyak pula orang tua yang menyerah dengan keadaan begitu. 
Muncullah sebuah pikiran-pikiran tak baik, namun terasa benar rasanya, apa saja pikiran-pikiran itu?

"udah bayar sekolah mahal-mahal, emaknya juga yang disuruh mengajarkannya minimal mendampingi disaat PJJ berlangsung". 

"gurunya ngapain aja sih, sampai orang tua disuruh repot ngurus ini dan itu, ga tahu apa yah, kita juga butuh waktu melakukan aktivitas dari semua ini. Bisa... bisa..... stres kalo terus-terusan begini.

"Enak banget yah jadi guru, ngajarnya gitu-gitu doang tetep digaji padahal yang ngesot-ngesot dirumah kita kita orang".

"Sekolah cuma bisa kasih tugas seabrek, dinilai juga mungkin enggak, sebuah kezoliman nyata yang harusnya jangan dibiarin nanti malah ngelunjak"

"Kalo kayak gini terus keadaannya, mendingan ga usah sekolah, mendingan home schooling sampe benar-benar aman keadaan. Tapi ujung-ujungnya kalo sekolah kayak gini juga. Repot dah.....pusing deh"

Begitulah beberapa narasi ilustrasi yang coba penulis rangkumkan dari apa yang terlihat terkait PJJ ini. 

Tidak salah dengan apa yang menjadi pikiran-pikiran tadi, tapi bila diresapi dengan kepala dingin dan kesejukan hati, maka pikiran-pikiran itu jangan dipelihara, malah justru harusnya dilawan dengan sebuah pemikiran yang rasional, yaitu menyangkut jiwa jadi bukan kemauan sendiri, tapi sudah ada mekanisme yang mengatur sehingga kasus Covid-19 bukan bicara perorangan tapi sudah seluruh makhluk hidup. 


4. Guru itu sudah berupaya dan bekerja sesuai proporsi nya sehingga antara take and give nya harusnya sesuai. Dukunglah guru putra putri kita, sekalipun mungkin belum sesuai dengan kemauan banyak orang. Guru telah melakukan tugas dan tanggung jawabnya. Support mereka, hargai semua jerih payahnya dengan sebuah sikap lapang dada dengan semua kejadian ini. Mereka pun tidak menginginkan di kondisi seperti ini. Maunya mengajar di kelas, ketemu langsung anak-anak didik, ada interaksi yang terjadi dan membangun sebuah rasa kepercayaan, kepedulian dan bahkan mengajarkan arti hidup sesungguhnya.
itulah mereka, hanya berusaha dan berupaya semampunya.


Sebagai penutup tulisan ini, penulis hanya mengajak kepada kebaikan dari apa yang telah disajikan dalam artikel ini. Tidak dalam rangka menggurui, atau bahkan bersikap rasisme profesi, ini hanyalah sebagai upaya memberikan informasi secara kolektif sehingga muncul sebuah wise taste (rasa bijak) dalam menyikapi persoalan yang terjadi. Gunakan kekuatan yang ada pada diri, tapi selalu perhatikan sebuah saran ini, hati yang menggelora karena panas amarah dan emosi tapi kepala haruslah tetap dingin agar keputusan apapun jangan sampai berujung penyesalan tiada arti.



Wassalam


Depok, 12 Januari 2021
Keriyono, M.Sos 
(Dosen Komunikasi dan Pengajar)