Betapa mulia profesi pendidik, bahkan saking mulianya, hasil jerih payahnya tak sebanding dengan penghasilannya tiap bulannya. Bila dipikir-pikir, menjadi guru sampai kapan pun tidak akan bisa menjadi kaya raya bak sultan, seperti vlogger, yutuber yang konon tiap bulannya mencapai hasil ratusan juta bahkan em em an.
Itu kan soal pilihan hidup, bukan? Guru atau pendidik, bila ditanya bangga dengan pekerjaan sebagai guru? Maka jawabnya ialah ini panggilan jiwa, bukan sekedar status atau hanya atribut yang melekat, tapi jauh dari nilai-nilai yang semestinya.
Pendidik itu bukan paksaan atau sekedar ikut-ikutan, melainkan esensi menjadi guru jauh dari harapan itulah sebuah kegagalan namanya. Pendidik itu harus yang paling depan untuk memotivasi, paling jarang menyerah dan paling kuat tekadnya membentuk generasi lebih baik dari dirinya. Dan yang terpenting paling kuat menahan godaan untuk meninggalkan dunia pendidikan karena disitulah arti sebuah guru dan itulah sebuah komitmen yang tak lekang dimakan waktu.
Guru menyambi (bekerja) diluar sebagai pengajar, apakah menjadi tercela? Bekerja paruh waktu demi pundi-pundi uang untuk menyambung hidup keluarganya.
Apakah ini merupakan kecacatan atau sebuah kemunduran tentang arti mulianya guru?
rasanya bila dianalisis mendalam terkait fakta yang terjadi akan pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka hanya kebijaksanaan dalan melihat fenomena itu. Kini, bukan hal yang baru dan rahasia umum, bila selain menjadi pendidik, juga berjualan/berdagang baik secara online maupun offline. Ini merupakan inovasi dan kreativitas dari masing-masing personal, dan ini wajar saja sebatas tidak sampai mengganggu kewajibannya.
Banyak di dapati pendidik kini, berusaha mendapatkan penghasilan dengan berjualan online, memasarkan produk/jasa, memberikan informasi yang bisa dijadikan untuk mendapatkan keuntungan, inilah fenomena yang disebut side job as marketer besides teacher.
Analisis yang coba penulis sajikan lebih kepada kontruksivisme dalam menelaah kejadian ini. Yakni, bentuk menyajikan dengan membangun sebuah image yang dapat memberikan persepsi, baik positif mau pun negatif bagi khalayak ramai. Dalam konteks ini, apakah pendidik boleh menjadi sales (memberikan) penjelasan sebuah produk/jasa.
Setelah melakukan beberapa interview mendalam dilapangan dengan menyertakan narasumber (Guru dan Pemasaran produk/jasa) dapat diberikan kesimpulan, bahwa memang lebih kepada tekanan ekonomi, dan juga sebuah upaya mendapatkan kehidupan yang lebih baik tanpa harus meninggalkan tugas menjadi pendidik. Hal ini pula disepakati oleh beberapa narsum yang penulis tanyakan dan hampir semuanya memiliki jawabanya yang serupa.
Narsum kebanyakan guru yang mengajar di sekolah swasta yang dari tingkat penghasilan gaji masih tergolong rendah.
Banyak dari sisi sosial dan ekonomi yang melatar belakangi semua kejadian tersebut, artinya bahwa memang semua mencoba mengangkat harkat, martabatnya dengan melakukan hal-hal yang pantas dan masih dalam taraf wajar.
Penulisan ini lebih memberikan citra positif dan sedikit memotivasi bahwa pendidik tidaklah mengapa memiliki sambilan/sampingan selama profesional dan proporsional. Selama di menej dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan pendidik pun bisa menjadi konglomerat, tapi tetap bangga dengan menjadi pendidik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar