Kamis, 18 Maret 2021

DOSEN KEKINIAN

Hidup di zaman yang apa-apa serba sulit, maka dengan kreativitas, inovasi dan sedikit berani ambil resiko nampaknya menjadi modal besar untuk survive (bertahan) dengan gempuran era globalisasi. 

Tak terkecuali dengan profesi seorang dosen. Konon, dahulu ketika seseorang menjadi dosen, itu sebuah pekerjaan yang memiliki pengaruh (influencer) hebat dan membanggakan. 

Dosen merupakan pekerjaan yang berkutat dengan pengajaran di kampus (sekolah tinggi/universitas) mengajarkan mata kuliah kepada mahasiswa/mahasiswi diruang kelas atau ditempat yang memungkinkan berlangsungnya perkuliahan.

Dosen itu, bukan hanya bicara lulus di jenjang strata 2 (pascasarjana) tapi sebuah panggilan jiwa yang mengedepankan rasa ingin mengubah keadaan sehingga dampaknya dapat dirasakan pada lingkungan sekitar. 

Ada beberapa hal yang mendasari, mengapa dosen menjadi profesi mulia dan penuh dengan ke-intelektualan tinggi.
Dalam artikel yang penulis buat ini, hanya merangkum sedikit beberapa literatur yang diketahui secara ortodidak (pengalaman sendiri maupun sharing and caring with friend).

1. Kolotisme (dosen kolot)

kata-kata kolot, terkadang di identikan dengan watak, karakter atau sesuatu yang keliatan kasat mata  semisalnya, dosen si A, dikenal oleh para mahasiswanya sebagai dosen kolot lantaran terlalu idealistik sehingga kurang bisa menerima saran, pendapat atau kritikan dari siapapun. Bagi yang berani mengkritik bersiap-siaplah nilai mata kuliahnya akan dikurangi. Kolotisme ini selalu dikaitkan dengan masa lalu belajar sang dosen dan perkembangan zaman sekarang. 

Tidak selalu salah dosen tersebut, dan tidak selalu benar para mahasiswa yang menilai adanya dosen kolot. Poin utamanya ialah, bahwa disetiap masa (waktu) akan selalu ada dosen berkarakter demikian. Sikap terbaik, tentu memaklumi dan memberikan ruang ekspresi selagi memang masih dalam koridor wajar dan pantas.

2. High Technology and Learning Skill

Poin ini lebih mengkhususkan pada sosok dosen yang memiliki kecakapan dalam interaksi dengan berbagai macam sumber pengetahuan, baik konvensional maupun digitalisasi knowledge. Bayangan seorang dosen yang seperti ini ialah suka eksperimen, uji coba baik sifatnya makro maupun mikro zone. 

Banyak dijumpai di kampus-kampus yang terkenal akan reputasi dari segudang prestasi yang ditorehkan. Sungguh kebanggaan, bila memang hal demikian menjadi jamur yang meluas hingga ke pelosok-pelosok daerah.

3. EXPERINCE IS IMPORTANT

Pengalaman Adalah guru berharga. Sering kalimat ini terdengar sebagai bentuk motivasi, bahwa semua hal yang sifatnya memberikan penyemangat sekaligus sebagai pendewasaan diri.
Dosen memang memiliki kedudukan yang berbeda dibanding guru pada sekolahan, akan tetapi perbedaannya tentu tidak dalam masalah prinsip dan perkara yang substansi (pokok). Tugas dosen ataupun guru yakni sama-sama mencetak pribadi-pribadi yang unggul, memiliki kecakapan/ketrampilan dan kualitas yang patut dibanggakan. 
Dosen hadir ditengah-tengah masyarakat, utamanya mahasiswa sebagai tim kerja (partner) sehingga cita-cita memberantas kebodohan dan ketidakpahaman terhadap sesuatu menjadi satu persepsi. 


Itulah sedikit, karangan yang dapat penulis sajikan sebagai pelecut semangat bagi yang berprofesi dosen ataupun pendidik. Bagi penulis, semua yang berkecimpung di dunia pendidikan adalah pahlawan yang sejati dan harus diberikan tempat istimewa selama niat lurus dan suci terjaga.



Bekasi, 18 Maret 2021


Keriyono, M. Sos
(Dosen Komunikasi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar