Minggu, 25 Mei 2025

Ijazah asli melawan rasional

Secarik kertas tanda tamat belajar yang disebut ijazah kini eksistensinya lebih suci, sakral bahkan keramat. Padahal satu-satunya yang bernilai seperti itu adalah kitab suci dari wahyu Tuhan Yang Maha Esa.

Mengapa bisa terjadi hal tersebut?
Apakah ini kesengajaan yang sudah terlalu lama dan jauhkah?
Ada apa dengan semua ini, kok bisa sih?

Mungkin begitulah beberapa pertanyaan yang muter-muter dalam pikiran kita.

Baiklah kita ulas dari kacamata penulis yang concern pada ilmu sosial dalam perspektif komunikasi.

Pernah mendengar bahwa "satu kebohongan akan membuat 1000 kebohongan"?
Mungkin hal itu memang fakta tak terbantahkan bahkan jika ingin dikatakan benar adanya maka its riil, benar-benwr terjadi.

Jika seseorang sudah berbohong sekali, maka untuk menutupi kebohongannya dia akan berbohong lagi, lagi, terus dan terus begitu sampai mulut tersumpal tanah (mati).

Masalahnya, bohong itu kalau sampai banyak yang menjadi korban kebohongan, karena pengaruh kekuasaan (Intervensi theory) maka yang terjadi akan melibatkan banyak lembaga/instansi. Praktek seperti ini lazim terjadi jika ditemukan kejanggalan dan ketidaksesuaian dalam fakta yang terjadi. 

Betul dalam hidup bernegara, hukum menjadi salah satu penyelesaian ketika ada 2 kubu bersengketa dan masing-masing mempunyai hak untuk menyampaikan pendapat, pandangan disertai argumentasi yang rasional dengan apa yang menjadi problem yang dibawa ke ranah hukum.

Tapi poinnya adalah si penegak hukum, tidak boleh dan sangat terlarang berada pada salah satu pihak, bahkan sengaja menyalahi wewenangnya sehingga membenarkan yang salah, dan menyalahkan yang benar. Lalu berdatanganlah komisi atau balas jasa dari apa yang diputuskan. Inilah sebuah praktek tercela yang tidak boleh terjadi. Akan tetapi idealis dan normatif seperti itu hanya angan dan ingin saja.

Kembali kepada topik yang diatas. Bahwa terjadi konflik soal ijazah yang pro dan kontra. Berkepanjangan dan juga pelik serta penuh dengan intrik. Dari sisi sosial, masyarakat dibuat gaduh bahkan saling hujat menghujat, saling mempermalukan satu sama lain, bahkan lebih buruknya terjadi pembunuhan karakter malah ada yang dibunuh jiwanya.
Kasus Marsinah, Munir, Novel Baswedan (penyerangan namun tidak sampai menghilangkan nyawa) merupakan contoh nyata akan pembungkaman nilai keadilan dan kebenaran.

Ijazah mantan presiden sangat rahasia mengalahkan rahasia hutang negara atau bahkan lebih rahasia dari skandal ex gubernur Jabar. Padahal kedua kejadian akhirnya publik tahu dan menyebar, sungguh ironi yang seharusnya rahasia (privat) malah ke blow up media dan menjadi santapan masyarakat. Giliran yang umum malah menjadi rahasia. 

Cukup dulu uraian untuk pembahasan ini.
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar