Belajar tidak berhenti pada saat wisuda, sebab ijazah bukti pernah mengenyam pendidikan. Adapun untuk berfikir maka harus terus dilakukan agar tidak buntu dan stagnan pada keadaan.
Seorang yang berakal maka harusnya lebih manusiawi, bernilai dan berkelakuan yang berbeda dengan yang tidak berakal alias hilang pikiran atau tidak waras (gila). Mentalnya telah kacau dan rusak hingga tidak dapat mengontrol dirinya sendiri. Bukankah dalam Al-Quran, Allah menyindir dengan kalimat apakah sama orang berilmu dengan yang tidak berilmu? Ini namanya satire.
Sebuah pertanyaan yang tidak butuh jawaban, hanya semata-mata manusia itu sadar dan tahu diri.
Tuhan Yang Esa telah menitipkan akal untuk digunakan berfikir, akan tetapi harus tunduk pada wahyu ilahiah. Dan ini bagian contoh yang dilakukan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam untuk perkara hidup manusia. Tidaklah beliau diutus, salah satu hal utamanya ialah menyempurnakan akhlak.
Sebutan etika, moral, perilaku, tata krama dan lain-lain jika mau diambil satu kata yang mewakili seluruhnya, maka kata itu adalah kata AKHLAK.
Betapa agung serta tinggi derajatnya, apabila manusia menjadikan akhlak menjadi intisari dalam berinteraksi dengan sesama dan juga kepada Rabb-nya. Mulianya akhlak dan dampak yang terjadi sampai peradaban menjadi indah, tatkala semua syariat Islam ditegakkan. Akhlak hanya bisa diwujudkan dengan landasan ilmu dan pengetahuan Rabbani baik melalui Quraniyah maupun Kauniyah. Namun perlu border (pembatas) yang menjadi rem, bahwa manusia hanya memiliki ilmu terbatas, akan tetap Rabb Yang Maha Perkasa Lagi Maha Penguasa ilmunya tak terbatas.
Wallahu alaam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar