REFLEKSI DARI KEJADIAN AGUSTUS
Oleh: Keriyono, M. Sos
Dosen Komunikasi
Terulang kembali aksi-aksi tidak terpuji seperti perusakan, penjarahan dan pembakaran yang itu semua sebagai bentuk kekecewaan terakumulasi. Siapa yang salah dan benar, jika diuraikan maka semua bisa menjadi korban bahkan menjadi pelaku.
Mengapa negeri aman, damai sentosa menjadi huru-hara?
Jawabnya karena pemimpin lebih sibuk memenuhi isi rumahnya dengan perabotan mewah, isi rekeningnya membengkak, perjalanan luar negeri yang selalu mengatasnamakan tugas atau dinas negara tapi hasilnya nihil, cuma dipenuhi haha hihi selebihnya shopping, pelesiran dan foya-foya. Itu semua realitas yang terjadi.
Media sosial mereka pun akhirnya dicari, dihujat dan diserang dengan narasi yang menimbulkan kegaduhan. Akhirnya terjadilah aksi yang kita saksikan langsung maupun live di platform medsos, bahkan ada yang sampai memberikan gift. Ironi namun nyata, perbuatan buruk seakan menjadi benar karena tidak mungkin ada akibat tanpa sebab.
Apa solusi dari semua itu?
Solusinya pemerintah harus segera mencari akar permasalahan yang fundamental lagi paling mendasar. Ibarat penyakit harus diangkat bakteri yang merusaknya, perubahan susunan kabinet mungkin menjadi awal dan sistem segera dibuat transparan, adil, jujur dan ber-integritas. Buang jauh-jauh person-person yang merusak dan pembuat keonaran. Jangan dipelihara lagi, putus mata rantai yang selama ini bermain.
Ada saja yang akan berkomentar begini, halah itu semua sudah terlambat semua semua sudah dikuasai kita tinggal menanyikan genosida secara diam-diam atau perang secara nyata sesama anak bangsa.
Kembali kita jawab, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sebab, upaya mengobati telah pada tahap genting, bukan lagi mencegah. Penyakitnya sudah di dalam dan banyak yang terkontaminasi, maka tetap saja bergerak jangan diam atau bahkan menyerah sebelum berjuang.
Ayo, para orang yang masih memiliki nurani baik sipil maupun militer kita berjuang menghabiskan mereka yang telah berbuat jahat lagi berbuat kerusakan, mengambil semua yang seharusnya menjadi milik bangsa kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar