Semenjak remaja, laki-laki ini memiliki penyakit batuk yang cukup hebat bahkan sudah divonis bakalan tidak bertahan lama hidupnya, melihat kondisi fisik yang sudah tidak ada harapan. Tapi, takdir berkata lain, bahwa dirinya sembuh dan ber- azzam (bertekad kuat) bahwa akan berusaha sedemikian rupa untuk kehidupan keluarganya lebih baik. Terutama dalam hal pendidikan anak-anaknya kelak. Sebuah azzam yang pada akhirnya terwujud dalam kehidupannya.
Meninggalkan 5 anak yang masih kecil, namun dalam perjalanan hidupnya harus menelan kepahitan ditinggal 2 anak meninggal dunia. Kesedihan mendalam menyelimuti keluarga ini dan tentu merupakan pukulan telak, ditinggal meninggal buah hatinya. Tersisa 3 anak yang terdiri dari 2 laki-laki dan 1 anak perempuan.
Nasir adalah nama panggilannya, bekerja di Jakarta dengan berbekal ijazah SD itupun bekerja si pabrik konveksi dibagian pemotongan kain. Dalam kinerjanya tergolong baik dan rapi, bahkan sempat ditawari promosi jabatan, namun terkendala dengan ijazah yang hanya sampai tamat SD, sekiranya sampai SMP pasti akan diangkat menggantikan manajer penjualan. Namun, nasib berkata lain.
Kehidupan di Jakarta, tak seindah kelihatannya, tak sebagus yang didengar, Jakarta tempatnya keras, penuh dengan tipu-tipu dan kelicikan yang berprinsip cari yang haram saja susah, apalagi yang halal. Itulah, gambaran yang dirasakan Nasir beserta keluarga ketika harus memboyong seluruh keluarganya ke bilangan Rajawali Jakarta, saat ini masuk ke daerah Kemayoran Jakarta Pusat.
Bertahun-tahun sudah Nasir dan keluarga mencoba peruntungannya, dengan bekerja sebagai buruh pabrik, pemetik kelapa dan menjualnya, menjadi tukang kayu (pelitur barang-barang antik), penjaga rumah dikala larut malam dan terakhir pedagang kelontong pinggir jalan. Dari sekian, usaha yang telah ditekuni selama ini, hanya usaha dagang kelontong inilah yang menampakan hasil lebih baik dari sebelumnya.
Berdagang pertama kalinya di tahun 95, di daerah Gintung Rempoa Ciputat, waktu itu masih wilayah Jakarta Selatan, kini setelah berubah akibat adanya otonomi daerah menjadi kawasan Tangerang Selatan. Mulanya, bermodalkan 700 ribu untuk membeli gerobak yang akan dipakai berjualan dari orang yang awalnya berjualan namun tidak dilanjutkan, karena harus pulang kampung. Sambil ikhtiar serta terus munajat kepada Allah Subhanahu Wata'a'lla untuk bisa membeli gerobak kecil ukuran kira-kira 1 meter kali 1 meter setengah.
Akhirnya, dengan membayar cicil tiap ada uang, Nasir pun memberanikan diri membeli gerobak itu dan akhirnya ada kesepakatan bahwa gerobak berpindah tangan. Setelah membeli gerobak tersebut, Nasir dan Istri membersihkan gerobak tersebut bagian luar maupun dalam. Untuk mengisi barang dagangan, istrinya menjual kalung emas yang sedari dulu dikumpulkan demi keberlangsungan hidup lebih baik.
Benarlah kata orang-orang, roda kehidupan itu berputar, kadang diatas dan kadamg dibawah. Siklus itulah yang membuat kehidupan nasir dan keluarga perlahan namun pasti berubah. Mulai menata ekonominya, bisa mengontrak rumah sepetak demi sepetak sampai akhirnya terbeli juga rumah yang dahulunya dikontrak satu petak. Kini, Alhamdulillah telah terbeli dan sudah dibangun menjadi dua tingkat. Sebuah kerja keras yang membuahkan hasil manis.
Hal, pertama yang teringat ketika kehidupan ekonominya membaik, bahkan tergolong cukup sejahtera ialah menabung untuk biaya pendidikan anak. Dan itu semua terbukti dan terwujud. Allahu Akbar. Betapa semua harapan dan keinginannya terkabul berkaitan dengan pendidikan anak-anaknya yang secara akal logika manusia, atau matematikanya manusia awam tidak akan ketemu perhitungan macam ini.
Allah punya cerita indah untuk keluarga Nasir, menjadikan ketiga anaknya semuanya sarjana, bahkan salah satunya mengenyam pendidikan magister, dan sampai pada penulisan kisah nyata ini, dari jalur keturunannya atau generasi keluarga Nasir, anak ke empatnya lah yang mengukir rekor dan sejarah. Hanya dari hasil berjualan gerobak kecil kelontong, yang menjual minuman, snack, dan semua hal-hal kecil tapi dari situlah keberkahan hadir.
Anak tertuanya, sarjana teknik di ITI (Institut Teknik Indonesia) Serpong.
Anak keduanya, Magister Komunikasi di (Universitas Islam Negeri) UIN Jakarta.
Anak ketiganya, sarjana ekonomi di (Universitas Pembangunan Nasional) UPN Jakarta.
Sebuah prestasi yang tidak bisa dianggap remeh dan menjadikan inspiratif bagi siapapun yang mengambil manfaat dari kisah nyata yang luar biasa ini.
Bekasi, 17 Februari 2021
Keriyono, M. Sos
Dosen Komunikasi dan Pendidik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar