Selasa, 16 Februari 2021

MENGENAL KARAKTERISTIK GURU GENERASI KELAHIRAN 90-AN

Pembahasan tentang guru, tidak akan pernah habis dibahas. Hal demikian, kerena guru akan selalu punya cerita, punya kupasan yang menarik dari sisi pribadinya, maupun yang diemban oleh si guru tersebut. Guru itu selalu bermuara pada eksistensi, bahwa dirinya menjadi sosok yang tidak akan pernah lepas dari pandangan murid, tidak akan pernah habis apa yang dilakukan oleh guru kepada semua anak didiknya. Bahkan sampai meninggal sekalipun, guru akan selalu mendapatkan amal kebajikan dari setiap orang yang melakukan kebaikan atas contohnya, ajakan maupun ajaran yang telah diberikan. 
Masya allah....sungguh mulia guru itu, saking mulia nya logam mulia pun tidak ada apa-apanya dengan semua jerih payah guru.

Masih terngiang-ngiang jelas ucapan kawan lama yang begitu menusuk dikalbu, dan menajam kuat disanubari, sebuah ucapan
"kalau mau kaya jangan sekali-kali jadi guru, tapi kalau mau berkah hidup ini maka jadilah guru". Kata-kata ini senantiasa menjadi pelecut jiwa yang terkadang ada bisikan untuk lari dan selesai di jalan pendidikan bernama jadi guru. 

Dalam artikel yang tak panjang, namun berharap inilah bentuk kepanjangan amal soleh dalam usaha memberikan sedikit sumbangsih untuk kebaikan, dan semoga berkenan bagi siapapun, tak terkecuali tulisan ini didedikasikan bagi seorang guru dimanapun berada.


Artikel ini akan membahas atau memberikan informasi tentang karakteristik guru dengan kelahiran 90-an  Tentu saja dengan referensi yang sudah ada, baik literatur buku konvensional, buku digital ataupun referensi lainnya yang sepadan/sesuai dengan bahasan serta beberapa wawancara dengan pihak-pihak yang kompeten dalam memberikan informasi sehingga menjadi data yang valid.

     KARAKTERISTIK GURU MUDA

1. Serba Instan (cepat, efisien dan ekonomis).

Poin pertama ini menjadi hal yang sering terlihat, muncul disetiap tempat. Sosok guru muda itu tidak suka berbelit-belit, muter-muter atau istilahnya instan sajalah, jangan dibuat pusing, bingung atau malah rumit. 
Slogan mereka mungkin terekam dalam memori penyimpanan otak ialah lebih cepat lebih baik (the sooner is better). Inilah fakta terbanyak yang ditemui dilapangan. 
Ketika diselidiki, mengapa guru muda itu demikian, salah satu faktor pemicunya ialah pola belajar yang dahulu ketika tingkat dasar, kemudian lanjut ke jenjang menengah lalu ke atas dan sampai ke perguruan tinggi, terkesan dikejar waktu. Waktu antara belajar, dengan bermain yang sifatnya gamelogi (istilah baru tentang kegandrungan bermain game di gadget).
Setelah semua fase itu dijalani, kemudian memilih menjadi guru, maka terciptalah guru yang suka dengan bermain waktu cepat. 

2. Mudah menyerah dan kurang suka tantangan.

Poin kedua ini pun banyak terjadi dan selalu sama pada beberapa instansi pendidikan. Menyerah disini konteks dalam hal yang bila sudah tidak sssuai ekspektasi tidak mau berhadapan lagi atau istilah down syndrome (mental jatuh). Tidak maubberlama-lama menghabiskan waktu untuk mengulangi kegagalan pertama, padahal belum tentu yang kedua dan selanjut akan gagal juga. Intinya sekalu gagal maka tidak mau mengulanginya. Benarlah kata orang bijak, "kekalahan yang paling telak bagi seseorang setelah mengalami kegagalan adalah tidak mau mencoba kembali".
Dan ini ada pada kenyataan hidup di negeri yang kita cintai. Guru muda masih belum bisa arif dan bijaksana menyikapi kegagalan. Gagal bisa saja terjadi, tapi jangan langsung menyerah dan tidak mau memperbaiki kegagalan itu. Belajarlah dari para penemu-penemu yang hasil penemuannya masih tetap digunakan sampai saat ini. 
Pertanyannya, apakah mereka berhenti dari uji coba-ujicoba yang memghabiskan waktu. Misalnya Thomas Alfa Edison, apakah ujug-ujug lampu yang ditemukannya menyala? Jawabnya tidak. Ratusan kali bahkan ribuan kali percobaan yang dilakukan dan itulah semangat yang harus tertular pada kita selaku guru.

3. Idealis 
Pandangan idealis tentu bukan barang baru bila berkaitan dengan idealisme. Idealis adalah keadaan cara padangan (paradigma) yang harusnya sesuai dengan keumuman orang kebanyakan namun bisa jadi kurang pas bila ddengan sudut padangan orang lain. Contohnya begini, sosol guru muda yang idealis ketika ada program atau kegiatan yang telah tersusun rapi oleh kepanitiaan misalnya, lalu dalam aplikatifnya ada yang kurang sesuai, karena ada ketidaksesuaian dengan guru muda ini, maka idealisme nya mencoba memberikan sedikit sanggahan, sebuah harapannya agar bisa digunakan sesuai idealisme-nya. ini sering terjadi, bahkan banyak keadaan demikian mempengaruhi iklim bekerja karena tidak sejalan dalam hal demikian.
Artinya idealisme dari guru muda itu biasanya dipengaruhi semangat yang tinggi dalam melakukan sebuah inovasi (perubahan) masih berfikir segaris namun belum mampu menyeimbangkan penilaian yang lain. Tentu pengalaman menjadi guru terbaik di titik ini. 

4. Enggan belajar karena merasa sudah pernah belajar.

Poin ini menjadi perkara yang sering terjadi dimanapun lembaganya atau unit pendidikannya. Perlu ditelaah bersama bahwa semua yang melakukan hal demikian, sebab ada kebosanan untuk mengulangi keadaan dimana sebelum menjadi guru ditempa, digodok menimba ilmu, setelag semua itu berlalu, kemudian menjadi guru, malah suruh belajar lagi, belajar yang tentang strategi belajar ke anak-anak, persiapan materi ajar, paham dengan IT, mampu mengaplikasikan bermacam-macam fitur yang membuat jelimet dan seterusnya. Maka, timbullah bosan akut yang membuat gairah belajar menurun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar