Rumah-rumah yang saat ini beratapkan genteng, berplafon, berkeramik, berpintu, berjendala yang semuanya sama. Dan yang tidak bedanya lagi ialah sama-sama mempunyai alat bernama gadget/gawai.
Semuanya menggunakan teknologi dalam rangka memudahkan urusan hidup, dan menjadikan semuanya serba instan, praktis dan efisien waktu.
Tidak sedikit keluarga yang menaruh benda ini (gadget) sebagai perangkat utama dalam keluarga, sampai semua urusan tidak bisa lepas akan benda kecil ini, namun dapat mengubah segalanya.
Dikala sebelum pandemi saja, kehadiran gadget menjadi primadona dalam menjalani kehidupan sehari-hari apalagi saat ini terjadi pandemi. Semua aktivitas seperti bekerjanya si Ayah, menyelesaikan tugas kantornya si Ibu, bahkan tugas-tugas kampus, sekolah dan lain sebagainya melalui online.
Efeknya luar biasa menjadikan habit (kebiasaan) baru serentak dan massal. Ini pula yang menjadi sesuatu keadaan baru (new normal life). Semuanya menyesuaikan diri, karena memang taruhannya ialah nyawa dan jiwa. Tidak patuh Prokes, virus mengintai. Abai atau tidak peduli sama sekali bukan sebuah solusi bijak, melainkan tetap berusaha sebaik mungkin serta berharap badai ini cepat berlalu.
Ada fakta yang mencengangkan bila dibuat hal ini perlu perhatian khusus, tapi bisa jadi hal biasa saja, karena memang semuanya sudah menjalani kehidupan ini, di era yang serba canggih. Mengutip beberapa referensi, bahwa saat ini, kita berhadapan dengan generasi akhir, biasanya disebut generasi milenial, generasi instans, generasi Z, generasi 4.1 dan banyak pula sebutan lain. intinya, semuanya itu mengarah pada sebuah pola pikir, pola tingkah laku yang lebih dominan individualistic (perorangan).
Ayah sebagai kepala keluarga masih sebatas jargon, karena nyatanya banyak yang mencukupi diri memberikan perhatian materi namun tidak immaterial.
perhatian materi ialah sesuatu diukur, ditimbang dengan money (uang) adapun perhatian immaterial ialah sentuhan, pelukan dan ucapan motivasi seraya memuji akan kepandaian anak dalam suatu hal. Itu pun menjadikan anak merasa diakui keberadaannya dan meningkatkan kepercayaan diri si Anak. Intinya, Ayah harus peka dan maubsedikit menyiapkan waktu bersama buah hati. Buat si Anak merasa Ayahnya-lah laki-laki yang selalu ada saat suka maupun duka.
Ibu ialah sosok wanita terhebat sepanjang sejarah manusia yang berstatus anak. Artinya, ibu yang berjuangan dalam semua-semuanya. Pengasuhan, perawatan, pendidikan dan lain sebagainya menjadikan ibu sebagai "madrosatul awwal fii baiti" ( pendidikan awal/pertama dalam keluarga).
Janganlah membiarkan anak tanpa pengawasan, sekalipun ada embel-embel sudah usia baligh, dewasa atau istilah sudah bukan anak kecil lagi. Ini, hanya untuk kehati-hatian dan waspada dalam menjalani roda kehidupan.
Sebagai anak, harus taat dan patuh dengan semua peraturan yang dibuat oleh keluarga. Semata-mata untuk melindungi pengaruh buruk dari luar, sekalipun ada konflik, maka selesaikan dengan bijak dan arif serta komunikasikan dengan baik. Ingat, bahwa semua masalah pasti ada solusinya.
Bekasi, 27 Januari 2021
Keriyono, M. Sos (Dosen Komunikasi dan Guru)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar