Sabtu, 26 Desember 2020

PRO DAN KONTRA MTR

Akan selalu ada yang berposisi Pro dan pasti juga yang kontra. Apa sih pro dan kontra? Klo pro itu berpihak, pendukung istilah dibagian yang mensupport, membela dan pastinya memberikan segala perhatian pada sesuatu yang dianggap sesuai dengan pemikirannya, pandangan hidupnya.
Adapun Kontra ialah keadaan sebaliknya dari Pro. Kontra penolak, berbeda pandangan, tidak sejalan dengan pihak Pro lalu memiliki argumentasi yang berbeda pula. (Keriyono).

Untuk urusan sederhana saja, akan selalu kita temui perbedaan pandangan. Apalagi urusan suci lagi mulia yakni, aktivitas dakwah. Akan banyak sekali yang mencoba memberikan opini, komentar atau pun sebuah analogi yang saling mempengaruhi. 

Tulisan ini mengangkat tema MTR (Masyarakat Tanpa Riba) yang bagi sebagian orang yang Pro baik yang berada di dalam lingkaran (panitia) maupun simpatisan maka akan mengatakan dan berasumsi bahwa MTR ialah upaya memberikan penyadaran bagi siapapun itu untuk menjauhi perbuatan Riba. Pembahasan riba sangat banyak dan sangat jelas oleh para pakar hukum syari dan mudah diakses karena sudah banyak tersebar di media sosial. Fokus kenapa harus Riba, oleh pegiat MTR karena untum memulai sesuatu yang jauh melangkah maka dibenahi dulu perkara ini sehingga kedepannya akan terbuka keberkahan. Dan ini pun, bukan pendapat kelompok semata melainkan sudah ada ajaran dan anjurannya dalam dien yang mulia lagi tinggi ini. (Baca: Islam).

MTR hadir pasti dengan niat hanya memberikan knowledge (pengetahuan) pada siapapun terhadap buruknya Riba dalam muamalah sehingga Riba adalah sesuatu perkara yang harus dilepaskan oleh mereka-mereka yang sadar akan ketidakberkahan bahkan ketidakridoan Sang Kholiq dalam lingkaran setan bernama Riba.

Banyak yang mengambil manfaat dan faedah dari keberadaan MTR dan tentu saja akan selalu ada yang menyinyir pula. Diantara nyinyiran yang sering terlihat di grup ialah sebagai berikut:

1. Grup MTR ini hanya mencari untung dari kepolosan para insan yang sedang dirundung nestapa karena lilitan hutang, hanya disuguhi ceramah-ceramah, goyang-goyang dan sesungukan nangis ketika harus dibawa kepada suasana gelap dan alunan nada yang mengiris hati. 

2. Katanya Dakwah, katanya mengajak kepada kebaikan tapi kok mahal. Harusnya dakwah tak bertarif, karena dakwah harusnya lillahi taala. Bukan, hanya ajanh pamer dan unjuk kekuatana secara finansial. Bahkan hanya ajang berbuat dirilah semakin paling...paling...padahal semuanya hanya nihil.

3. ANALOGI (Perumpamaan) yanh dibasa bahwa RIBA itu sudah sesuai akad diawal jadinya bukan perkara yang merugikan. Dan pendapat-pendapat lainnya sehings MTR hanyalah dianggap kumpulan orang-orang aji mumpung untuk mendapatkan sedikit keuntungan disaat orang sedang galau dengan hutang.

4. MTR ialah kelompok yang mengambil kesempatan dan keadaan dari posisi orang yang kalut dengan permasalahan dengan niaganya (pengusaha), dikejar debt collector dan belenggu hutang yang menumpuk dan juga dibuat tidak nyaman dalam hidup.

5. MTR itu cuma menjual fiksi dan sekedar ucapan bohong belaka tanpa bukti yang kongkret bahkan semua jualannya hanya untuk memperdaya anggota lainnya.


Itulah kiranya beberapa point yang tidak suka atau kontra dengan MTR. Tentu masih banyak lagi beberapa pendapat laim yang bersebrangan dengan visi misi MTR itu sendiri. 

Penulis pun hanya menginginkan tulisan ini berbuah manfaat, agar yang membaca tulisan ini semakin bijak dalam berpendapat, membuka sedikit cakrawala berfikir agar tidak selalu close minded melainkan open minded. Jangan mudah menghukumi bila belum tahu kebenarannya dan tidak berasumsi yang tidak jelas darimana berdirinya.

Demikian tulisan ini dibuatkan sebagai upaya memberikan pencerahan kepada siapapun itu.

Bekasi, 27 Desember 2020
Keriyono, M.Sos
(Dosen Komunikasi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar