Tadi pagi, saat berkendara dijalan bilangan Depok, di depan ada truk dengan qoute (tulisan) jawa kurang lebih yang teringat begini:
"uripku tak setel sedengan, banter arep nguyah sopo, alon yo ngenteni sopo"
terjemahan :
hidupku dipasang yang tengah-tengah, kenceng mau mengejar siapa, pelan mau menungguin siapa"
Sepintas kata-kata itu membuat penulis merasakan sebuah inspirasi dan akhirnya menulis sambil berfikit tema nya apa yah. Jelas, tema nya hidup pas-pas an saja tidak usah berlebihan juga jangan berkekurangan.
Jadi inget Vety Vera, mbakyu ne Si Alam embah dukun, yang punya tembang "sedang sedang saja" awal 90-an. Penulis saat itu masih ingusan karena masih diusia belia. Heeee
Hidup berlebihan kadang menjadi petaka, bila dijadikan tujuan dan akhirnya jadi budak dunia materialistis.
Hidup kekurangan juga pastinya tidak enak, bakalan merasakan kesulitan sana sini. Padahal idealnya, tengah-tengah saja istilah yang familiar adalah ga kaya ga juga kismin eh miskin. Pas-pas an namanya.
Pas butuh ada
Pas perlu sedia
Pas pengen udah di depan mata
Pas kepikiran tau-tau ada
Hidup yang paling ideal, ialah ketika mampu menjadi dunia ini sebagai ladang amal ibadah, yang kelak panennya kita tuai dikampung akhirat. Ibarat petani, kita cuma bisa menanam benih, biarlah hasil panennya, kita rasakan di akhirat. (standar hidup orang yang mengaku umatnya nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalaam)
Jadi jangan takut hidup tidak kaya yah, atau hidup miskin. Tapi takutlah kalau menjadi kaya, tapi lupa tugas kita di dunia. Hidup cuma semantara, ibarat main sepak bola, tidak bakalan sampe 2 jam nonstop, pasti ada rehatnya, bahkan ujung-ujungya bubar alias selesai permainan itu. Dunia juga gitu hanya tempat bermain, sendau gurau dan sementara. Jangan terlena dan terbius dalam-dalam sampai semaput lalu lupa kembali ke tempat yang ada awal tiada akhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar