Senin, 25 Januari 2021

SEDENGAN WAE (Yang pas pas sajalah)

Setiap hari aktivitas penulis, selalu berebutan jalan, karena memang sebagai pengendara roda dua, dituntut ke tempat kerja sebagai sebuah keharusan. Ingat yah, keharusan. Bukan sebatas kewajiban atau malah penggugur dari tanggungjawab. Sebagai seorang mukmin, pantang dan tidak ada dikamus, menjadikan pekerjaan sebagai beban. Justru pekerjaan bila dinikmati dengan hati senang dan riang, penyakit bakalan minggir. (Gayanya lagi megang pinggang hehehehe)

Tadi pagi, saat berkendara  dijalan bilangan Depok, di depan ada truk dengan qoute (tulisan) jawa kurang lebih yang teringat begini:

"uripku tak setel sedengan, banter arep nguyah sopo, alon yo ngenteni sopo"

terjemahan :

hidupku dipasang yang tengah-tengah, kenceng mau mengejar siapa, pelan mau menungguin siapa"

Sepintas kata-kata itu membuat penulis merasakan sebuah inspirasi dan akhirnya menulis sambil berfikit tema nya apa yah. Jelas, tema nya hidup pas-pas an saja tidak usah berlebihan juga jangan berkekurangan.

Jadi inget Vety Vera, mbakyu ne Si Alam embah dukun, yang punya tembang "sedang sedang saja" awal 90-an. Penulis saat itu masih ingusan karena masih diusia belia. Heeee

Hidup berlebihan kadang menjadi petaka, bila dijadikan tujuan dan akhirnya jadi budak dunia materialistis. 
Hidup kekurangan juga pastinya tidak enak, bakalan merasakan kesulitan sana sini. Padahal idealnya, tengah-tengah saja istilah yang familiar adalah ga kaya ga juga kismin eh miskin. Pas-pas an namanya. 
     Pas butuh ada
          Pas perlu sedia
             Pas pengen udah di depan mata
                  Pas kepikiran tau-tau ada


Hidup yang paling ideal, ialah ketika mampu menjadi dunia ini sebagai ladang amal ibadah, yang kelak panennya kita tuai dikampung akhirat. Ibarat petani, kita cuma bisa menanam benih, biarlah hasil panennya, kita rasakan di akhirat. (standar hidup orang yang mengaku umatnya nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalaam)

Jadi jangan takut hidup tidak kaya yah, atau hidup miskin. Tapi takutlah kalau menjadi kaya, tapi lupa tugas kita di dunia. Hidup cuma semantara, ibarat main sepak bola, tidak bakalan sampe 2 jam nonstop, pasti ada rehatnya, bahkan ujung-ujungya bubar alias selesai permainan itu. Dunia juga gitu hanya tempat bermain, sendau gurau dan sementara. Jangan terlena dan terbius dalam-dalam sampai semaput lalu lupa kembali ke tempat yang ada awal tiada akhir. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar