Rabu, 13 Januari 2021

DILEMATIS PJJ BAGI SEKOLAH SWASTA

Sekolah di Indonesia dari segi kedudukan di mata negara hanya ada 2 status, yakni sekolah negeri dan sekolah swasta. Betapapun hebatnya kurikulum sebuah sekolah, tetap saja pengakuan kementrian terkait menjadi hal yang mutlak harus disetujui.
Artikel ini tidak dalam rangka menilai mana yang lebih baik antara sekolah negeri atau sekolah swasta. Namun, hanya untuk memberikan pandangan yang objektif sehingga masing-masing bebas memiliki opini dan pandangan khalayak ramai. Poin penting dari penjabaran disini, ialah tentang esensi sekolahnya, bukan sekedar masalah status. 

Semua sekolah dibangun, dan diselenggarakannya proses belajar mengajar, pasti tujuan utamanya ialah mencerdaskan kehidupan bangsa, yang itu merupakan wujud harapan pendiri bangsa tercinta. Betapa pentingnya nilai dari pendidikan itu sehingga menjadikan pendidikan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
 
Komersial alias pendapatan keuntungan semata harusnya tidak menjadi prioritas utama dalam pembangunan sekolah di manapun berada. Sebab, itu dapat menciderai dan mengikis rasa keikhlasan. Bukan lantas tidak berhitung kalkulasinya, tapi tetap mengedepankan niat suci dan mulia, yakni membangun peradaban yang madani.

Kehadiran sekolah swasta, bukanlah dalam rangka menyaingi mutu, pengambilan jatah bantuan dari pemerintah, atau sekedar kompetitor tanpa kualitas dengan sekolah negeri. Tapi, lebih pada esensi memberikan kontribusi nyata bermuara kecerdasan intelegensi, emosi dan spiritual. Artinya, antara sekolah negeri dan sekolah swasta harus terjalin sinergisitas yang handal dan berbobot, sehingga cita-cita dalam kehidupan bernegara dapat tercapai.

Agar sekolah swasta dapat bersaing, tentu harus juga memiliki prinsip yang jelas dan terarah serta terukur. Persiapan dalam merancang pendidikan, menjadi hal yang mutlak ada, dalam visi dan misi sekolah tersebut. Tidak perlu menutup diri atau ekslusif yang hanya menimbulkan banyak pertanyaan, yang pada akhirnya keluar dari koridor semestinya. Hal tersebut, tentu tidak diharapkan oleh siapapun.

Kembali pada pembahasan yang dijadikan judul di atas, penulis ingin membahas dilematis KBM (PJJ) bagi sekolah swasta.
Apa saja dilematis itu? 
Silakan disimak sampai habis, agar tidak gagal paham dan salah persepsi.

1. Ketergantungan dari pihak luar (investor).

Investor ialah orang atau kelompok yang memberikan sumbangsih berupa bantuan nyata, dapat berupa uang tunai, bantuan materi dan lain-lain, sehingga operasional sekolah swasta dapat berjalan dan terus berlangsung. 
Kesan ini akan nampak jelas, bahwa investor merupakan hal terpenting dalam urusan keberlangsungan masa depan sekolah swasta. Istilah lebih jelasnya, ketergantungan yang sifatnya mutlak, karena tanpa investor semuanya menjadi terhambat bahkan menjadi gagal berkembang. Hampir semua sekolah swasta yang keadaannya serupa disebutkan diatas, maka itulah kenyataannya. Bahkan, ada juga yang berdiri dengan menggunakan icon atau nama besar tokoh, sehingga menjadi daya tarik orang diluar supaya berbondong-bondong masuk ke sekolah tersebut. 

2. SPP is important
Bagi sekolah swasta yang tidak bergantung pada investor, maka pembiayaan operasional sehari-hari di dapat dari kolektif dana masuk yang tiap bulan disetorkan oleh pihak kedua (baca: walimurid) namanya SPP. 
SPP itu penting, bagi kelangsungan operasional sekolah swasta. Jadi, tidak dipungkiri bahwa SPP lancar maka KBM dapat berjalan lancar dan kondusif, tapi bila SPP macet, maka dipastikan KBM pun terkendala. Pokoknya SPP itu kewajiban Walimurid, dan hak yang didapat ialah proses pembelajaran yang diterima oleh peserta didik.

3. Terbelahnya 2 kongsi walimurid.

Orangtua murid akan selalu terbagi menjadi dua kubu, yakni kubu pro PJJ dan kubu kontra PJJ. Bagi yang pro PJJ berkilah dan berargumentasi, umumnya  demi terputusnya penyebaran virus corona. Jadi, PJJ harus diselenggarakan karena tidak ada cara lain yang lebih aman. Adapun, yang kontra dengan PJJ alasan terbesarnya CAPEK.
Dan untuk penjabaran kata CAPEK, penulis menguraikan demikian, capek tenaga, capek fisik, cape pikiran dan cape segala-galanya. 
Capek tenaga karena sudah mengerjakan tugas rumah (cuci, masak, setrika, dll) masih harus mengawasi, membantu dan menemani anak untuk belajar. 
Capek Fisik, sudah pasti terasa sebab menjadi rangkap-rangkap tugas akhirnya fisik yang drop.
Capek pikiran, sebab naluriah seorang ibu ketika anaknya kesulitan dalam apapun itu, pasti rela berkorban. Intinya, semua hal itu membuat ibu merasa tidak nyaman. 
Kebayangkan, bila dalam rumah rangga tidak harmonis bisa-bisa anak belajar dilepas begitu saja. Belajar syukur, tidak belajar ya sudahlah. 

4. Sekolah dituntut berinovasi

Monoton, mungkin itu kata yang dapat disematkan ketika awal-awal PJJ diadakan. Pembelajaran menjadi sesuatu yang membosankan, sebab hanya bersifat satu arah, yakni guru menjelaskan tanpa ada feedback dari siswa. Ini, yang kemudian menjadikan beberapa sekolah membuat perubahan, seperti adanya interaksi langsung sekalipun hanya dengan media hape/laptop menggunakan aplikasi jejaring dengan basis internet. 
Sekolah pun memberikan kesempatan para dewan guru untuk mencoba memberikan ruang gerak improvisasi dalam belajar, seperti membuat video pembelajaran dengan model pembelajarannya guru tersebut dan menggunakan aplikasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan guru tadi. Mencari referensi yang begitu banyak sambil browsing-browsing dalam rangka membuat PJJ menjadi hidup dan menarik.

5. Belajar Versus GAME

PJJ itu memang antara belajar dengan bermaim game naik online atau offline menjadi saingan tak terpisahkan. Dua jam belajar online, namun sisanya lebih banyak bermain game, jika orang tua yang kurang ketat dan tidak membuat kesepakatan, maka yang banyak dan sering dijumpai sambil belajar pun, bisa sambil bermain. 
Teralihkan, enaknya belajar dengan asiknya bermain game yang berbagai macam bentuk permainan. Ada game yang memang dibuat untuk mengasah otak, namun jika keterusan dan mengaggap game nya menarik dan seru, maka pembelajaran yang telah dibuat gurunya sama saja tidak berarti. 



Demikianlah, beberapa dilema yang telah dirangkum untuk diambil manfaatnya bila ternyata didapati faedahnya.
Semoga berkenan dan dapat dimaklumi adanya. Terima kasih banyak telah menyempatkan waktunya membaca tulisan ini.



Wassalam


Keriyono, M.Sos
(Dosen Komunikasi dan Pendidik)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar