Istilah-iatilah diatas sudah umum dan menjadi hal yang sama makna dengan belajar dengan cara baru (New Learn in Life). Belajar dengan gaya seperti disebutkan diatas, ialah untuk mencegah, mengurangi resiko paparan, memutuskan rantai penyebaran virus covid-19 yang melanda seantero dunia belahan manapun, tak terkecuali republik tercinta yakni Indonesia. Sungguh sebuah keadaan tidak mudah, bagi siapapun dari aspek kesehatan, pendidikan, ekonomi atau aspek kehidupan lainnya.
Tulisan artikel singkat ini, mencoba memberikan pandangan yang terlihat nampak nyata dari perspektif Tenaga Pendidik (Guru) terkait hal itu semua.
Ada beberapa yang coba dikupas dan dirasakan dari penulis, sebab sehari-hari berkecimpung di dunia yang konon dunia pendidikan ialah dunia yang luar biasa istimewa dan hebat. Salah satu keistimewaan guru ialah bila sudah menginjak kepala empat atau usia (40-an) maka akan nampak beda dengan mereka-mereka yang bekerja di kantoran dari sisi tampilan fisik luar. Bila menjadi guru masih saja terlihat segar dan awet muda, dan bila bekerja di kantoran bisa sebaliknya. Ini bukan mitos atau khayalan semata penulis, melainkan sebuah fakta.
Fenomena yang terjadi selama PJJ sebagai berikut:
1. Guru dituntut memberikan kreasi dan improvisasi dalam mengajar selain disesuaikan dengan materi yang telah disusun kurikulum, guru juga harus menjaga ritme antusiasme dalam belajar peserta didik. Jujur, poin ini sangatlah sulit, karena dalam pengalaman kuliah dahulu, tidak ada mata kuliah atau simulasi yang sesuai dengan keadaan ini. Situasi Covid-19 menjadikan semua para pendidik, memutar otak demi berlangsungnya pendidikan sambil berkreasi dalam menyampaikan konten materi. Inilah yang kita sebut tantangan (challenge) dalam menghadapi globalisasi yang tidak pernah terukur sebelumnya. Semua unsur dalam pendidikan atau stakeholder (yayasan, sekolah, guru, walimurid, komite sekolah sekaligus pemerintah) harus terlibat aktif dan se-komando dalam menerapkan pendidikan jarak jauh.
2. Guru hanyalah manusia biasa yang selalu berupaya keras dalam pengajaran dan penyampaian materi belajar dapat dipahami oleh semua anak didiknya. Tidak menginginkan lebih dari itu semua. Bahkan, cepat tidaknya siswa menyerap apa yang disampaikan sang guru, bila tidak diiringi dengan adab dan etika pada sang guru, maka bisa jadi keberkahan ilmu tidak akan sampai pada si anak tersebut.
Kuncinya adab atau istilah yang umumnya ialah sopan santun terhadap seseorang yang mengajarkan pada kita ialah patuh, tunduk dan juga respect.
Faktanya, banyak ditemukan, para siswa/siswi yang kehilangan rasa ini, entah disadari ataukah tidak. Semuanya merasa seperti berjalan maunya sendiri. Tidak takut dengan aturan yang berlaku, semua peraturan hanya untaian kata-kata yang dibuat tanpa sebuah ketaatan.
its real.
3. Guru sebagai garda terdepan dalam pendidikan bagi peserta didik, namun ketika PJJ ini muncul maka yang terjadi keputar balikan posisi dan peran bahkan pengambilan fungsi malah ada juga penambahan kegunaan dari adanya orang tua. Orang tua merangkap dari semula orang tua dirumah, juga menjadi guru dirumahnya. Istilah guru sebagai orang tua ke-2 disekolah telah sirna karena PJJ ini, menggeser keadaan demikian. Kalaupun tidak sirna berarti terkikis perlahan-lahan. Inilah sebuah kenyataan yang tidak dapat ditampik lagi bahkan banyak pula orang tua yang menyerah dengan keadaan begitu.
Muncullah sebuah pikiran-pikiran tak baik, namun terasa benar rasanya, apa saja pikiran-pikiran itu?
"udah bayar sekolah mahal-mahal, emaknya juga yang disuruh mengajarkannya minimal mendampingi disaat PJJ berlangsung".
"gurunya ngapain aja sih, sampai orang tua disuruh repot ngurus ini dan itu, ga tahu apa yah, kita juga butuh waktu melakukan aktivitas dari semua ini. Bisa... bisa..... stres kalo terus-terusan begini.
"Enak banget yah jadi guru, ngajarnya gitu-gitu doang tetep digaji padahal yang ngesot-ngesot dirumah kita kita orang".
"Sekolah cuma bisa kasih tugas seabrek, dinilai juga mungkin enggak, sebuah kezoliman nyata yang harusnya jangan dibiarin nanti malah ngelunjak"
"Kalo kayak gini terus keadaannya, mendingan ga usah sekolah, mendingan home schooling sampe benar-benar aman keadaan. Tapi ujung-ujungnya kalo sekolah kayak gini juga. Repot dah.....pusing deh"
Begitulah beberapa narasi ilustrasi yang coba penulis rangkumkan dari apa yang terlihat terkait PJJ ini.
Tidak salah dengan apa yang menjadi pikiran-pikiran tadi, tapi bila diresapi dengan kepala dingin dan kesejukan hati, maka pikiran-pikiran itu jangan dipelihara, malah justru harusnya dilawan dengan sebuah pemikiran yang rasional, yaitu menyangkut jiwa jadi bukan kemauan sendiri, tapi sudah ada mekanisme yang mengatur sehingga kasus Covid-19 bukan bicara perorangan tapi sudah seluruh makhluk hidup.
4. Guru itu sudah berupaya dan bekerja sesuai proporsi nya sehingga antara take and give nya harusnya sesuai. Dukunglah guru putra putri kita, sekalipun mungkin belum sesuai dengan kemauan banyak orang. Guru telah melakukan tugas dan tanggung jawabnya. Support mereka, hargai semua jerih payahnya dengan sebuah sikap lapang dada dengan semua kejadian ini. Mereka pun tidak menginginkan di kondisi seperti ini. Maunya mengajar di kelas, ketemu langsung anak-anak didik, ada interaksi yang terjadi dan membangun sebuah rasa kepercayaan, kepedulian dan bahkan mengajarkan arti hidup sesungguhnya.
itulah mereka, hanya berusaha dan berupaya semampunya.
Sebagai penutup tulisan ini, penulis hanya mengajak kepada kebaikan dari apa yang telah disajikan dalam artikel ini. Tidak dalam rangka menggurui, atau bahkan bersikap rasisme profesi, ini hanyalah sebagai upaya memberikan informasi secara kolektif sehingga muncul sebuah wise taste (rasa bijak) dalam menyikapi persoalan yang terjadi. Gunakan kekuatan yang ada pada diri, tapi selalu perhatikan sebuah saran ini, hati yang menggelora karena panas amarah dan emosi tapi kepala haruslah tetap dingin agar keputusan apapun jangan sampai berujung penyesalan tiada arti.
Wassalam
Depok, 12 Januari 2021
Keriyono, M.Sos
(Dosen Komunikasi dan Pengajar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar