Deskripsi tentang guru, sudah banyak diulas dan diuraikan dan tersimpan rapih dalam mesin pencarian google.
Mau yang bagus-bagusnya guru, mau yang dibahas hebatnya jadi guru ataupun semua yang beropini As Teacher is Very Excellent for life.
Tapi, ada juga yang memberikan pandangan sebaliknya, menyinyir bahkan memberikan stigmatisasi yang kadang mendeskreditkan (intimidasi) bahwa guru hanyalah profesi mengajari anak tapi tifak meng-kaya-kan (baca: membuat kaya).
Belum lagi disaat keadaan pandemi seperti ini, guru menjadi sosok yang terkadang menjadi bulan-bulanan dari adanya complain (keluhan) permintaan dari walimurid, salah satu keluhannya untuk tidak mengajarnya monoton serta hanya terkesan instruksi perintah penugasan.
Baiklah, fokus pada apa yang ingin penulis sajikan, yakni adanya salah satu musuh terbesar bagi seorang pendidik (Guru).
Menurut pengalaman dan sedikit analisis ringan, bahwa musuh terbesar siapapun ialah diri kita sendiri (self). Dalam hal ini, sesuai dengan Psikologi Manusia, yang harusnya dilawan untuk pertama kali dalam masalah ketakutan adalah rasa takut yang tumbuh di diri manusia itu sendiri.
Sebagai pendidik (Guru) musuh terbesar yang kiranya dapat menjadi intropeksi diri ialah rasa merasa cukup dengan apa yang sudah ada, baik yang sifatnya knowledge, cara mengajar, dan mencukupkan diri tanpa ada niatan menambah serta memperkaya diri dengan banyak pengetahuan.
Mengapa oleh penulis dirasa sebagai musuh terbesar bagi guru yakni guru tidak mau belajar lagi seakan menjadi guru sudah titik tertinggi. Jawabnya, karena hal itulah yang menyebabkan diri kadang menutup diri dari kritik, komentar dan masukan. Merasa diri lebih dari semua yang ada, dan itulah keadaan yang kadang tidak disadari oleh guru.
Niat dan tujuan dari penulisan ini tidak lain dan tidak bukan ialah mengingatkan diri penulis sebagai pendidik juga, maupun kepada semua insan-insan yang telah menjadi guru bertahun-tahun dan tetap bertahan dengan semua ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar